Komentar Robert Soal Permainan Lamban Bruce Djite

Editor : Aris Munandar
Penyerang PSM, Bruce Djite (kanan), berusaha melewati pemain belakang Home United
Penyerang PSM, Bruce Djite (kanan), berusaha melewati pemain belakang Home United

Online24, Makassar – Striker anyar PSM, Bruce Djite menjadi salah satu nama yang disoroti kala tim Juku Eja menjamu Home United di Stadion Andi Mattalatta, Makassar, Jumat (19/1/2018) malam. Meski timnya menang telak 4-0, Bruce dinilai kembali tampil kurang memuaskan.

Sejumlah peluang yang ia peroleh, gagal dikonversi menjadi gol. Penyerang naturalisasi Australia itu juga terlihat kedodoran dari segi kecepatan. Berbeda dengan Guy Junior yang juga diturunkan. Guy aktif bergerak, mencetak dua gol dan langsung menjadi idola baru suporter di Mattoanging.

Bruce Ditje lalu ditarik di menit 64 dan digantikan Zulham Zamrun. Sementara Guy Junior bermain hingga menit 78 dan namanya dielu-elukan saat menuju bench pemain. Pelatih PSM, Robert pun mengakui jika Djite punya pergerakan lamban.

“Bruce fit untuk tampil tapi saya tidak mau memaksakan dia tampil 90 menit. Bruce terlihat bermain lambat dia sudah mencoba dan dia tidak bisa tampil selama 90 menit,” katanya usai laga.

Suporter bahkan beberapa kali meneriaki Bruce Djite gara-gara penampilannya yang tidak sesuai ekspektasi untuk sekelas pemain asing. Namun berbeda dari suporter, Robert menilai secara keseluruhan mantan pemain Suwon FC itu sudah tampil bagus.

“Bruce itu bertipe pemain besar. Dia memang tidak terbisa bermain cepat. Tapi secara umum dia bagus. Saya juga senang dengan pemain lain yang mencetak gol malam ini,” tambahnya.

Bruce pernah bermain di klub sebesar Adelaide United. Namun, catatan gol selama tiga musim di sana hanya 29 gol dari 113 laga. Di klub terakhirnya, Suwon FC, 39 laga dilalu dengan torehan 11 gol.

Bruce Djite didatangkan manajemen PSM atas rekomendasi Robert dan tanpa seleksi dengan harapan jadi mesin gol tim. Tentu ia diharapkan segera memenuhi ekspektasi tim atau mengikuti jejak striker asing yang dinilai gagal lalu didepak seperti dua pendahulunya, Pavel Purishkin dan Reinaldo da Costa.