Sketch On Location, Menggambar Sketsa Melalui Koordinasi Mata dan Tangan

Reporter :
Editor : Lucky
Peserta workshop mencoba menggambar sketsa (foto: Humas Unhas)
Peserta workshop mencoba menggambar sketsa (foto: Humas Unhas)

Online24, Makassar – Komunitas Indonesia’s Sketcher (IS) Chapter Makassar bekerja sama dengan Humas Universitas Hasanuddin (Unhas) menggelar Fundamental Urban Sketching Workshop di Lantai 6 Rektorat Unhas, Sabtu (20/1/2017).

Kegiatan ini menjadi salah satu agenda Komunitas Sketcher Makassar untuk mengembangkan keterampilan membuat sketsa objek dan situasi sekitar melalui teknik observasi langsung. Workshop ini membantu peserta melakukan proses menggambar sketsa dengan lebih simpel, mudah, dan menyenangkan melalui koordinasi mata dan tangan.

Pelatihan sketsa ini diawali dengan pengantar teori singkat di ruangan, setelah itu langsung mempraktekkan teknik melakukan sketching objek di selasar Rektorat Unhas dan sekitar halaman kampus yang dipandu oleh seorang sketcher profesional, Donald Saluling.

“Kita menggambar dengan mata, pikiran, otak kiri, dan otak kanan kita, bagaimana kita mengamati benda dan membuat sketsanya. Jadi bukan murni teori, tapi pengamatan,” ujar Donald.

Donald Saluling memberikan pengarahan kepada peserta workshop (foto: Humas Unhas)

Peserta yang hadir dalam workshop ini beragam di antaranya pelajar dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kota Makassar. Para peserta workshop merupakan anak muda yang memiliki minat dalam bidang sketsa.

Sehingga ketika diarahkan secara langsung untuk membuat sketsa mereka bisa menghasilkan gambar yang menarik dalam waktu yang cukup singkat.

“Ingat, kita mengambar apa yang kita lihat, bukan apa yang kita ingat,” kata Donald, alumnus Seni Rupa dan Desain Grafis Portland State University itu.

Ketua Komunitas Indonesian’s Sketcher Makassar, Shanti Yani, mengatakan, Sketch On Location ini mementingkan proses daripada hasil akhir. Kesalahan dan kekurangan yang terjadi dalam proses spontan membuat sketsa tidak dihapus dan tetap menjadi bagian dari rekaman dan catatan pribadi pembuatnya. Membuat sketsa on the spot itu cukup dibiarkan dalam garis dan warna.

Yang terpenting dari sketsa, lanjut Shanti, adalah proses merekam cerita yg dilakukan secara langsung pada obyek di sekitar (fleeting moment) bukan momen yang dibekukan (frozen moment). Pengalaman membuat sketsa itu yang membuat kita mampu menghargai karya para sketchers.

“Dari pelatihan bisa menarik teman-temam bergabung dalam komunitas sketsa dan bisa mengangkat keindahan kota Makassar melalui goresan sketsa,” harap pecinta sketsa yang merupakan alumni program studi hubungan internasional Unhas tersebut.

Bagi Unhas sendiri, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya memperkenalkan sisi lain kampus melalui seni sketsa. Kita ingin masyarakat mengenal Unhas sebagai kampus yang ramah terhadap seni dan komunitas.(*)