JK: Agama Sering Dijadikan Justifikasi atas Konflik yang Terjadi Sebelumnya

Editor : Lucky
Wapres Jusuf Kalla
Wapres Jusuf Kalla

Online24, Makassar – Membangun perdamaian adalah “seni” yang bersumber dari ketekunan, kegigihan, dan keahlian. Sementara, faktor agama sering dijadikan justifikasi atas konfik dan kekerasan yang telah terjadi sebelumnya.

Demikian beberapa hal yang ditegaskan Wakil Presiden Jusuf Kalla (Wapres JK) dalam pidato pengukuhan Dr HC dalam bidang Sosiologi Agama dari Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di Makassar, Kamis (25//1/2018).

Dalam pidatonya yang bertema “Kajian Perdamaian: Perspektif Agama, Ekonomi, dan Politik”, JK menyatakan dirinya sangat senang berbicara tentang perdamaian dengan mengatasi konfik dan kekerasan guna menciptakan perdamaian dan rekonsiliasi.

“Berdasarkan pengalaman pribadi secara langsung dalam mengakhiri konfik di Ambon, Poso, dan Aceh, saya dapat memberikan refleksi tentang bagaimana menciptakan perdamaian (crafting peace). Membangun perdamaian adalah ‘seni’ yang bersumber dari ketekunan, kegigihan, dan keahlian,” urai JK di hadapan civitas akademik UIN Alaudin dan para undangan.

Dikatakannya, gangguan terhadap perdamaian dan harmoni di kalangan masyarakat, kelompok etnis, serta intra dan antar umat beragama disebabkan berbagai faktor yang sangat kompleks. Secara internal di sebuah negara atau daerah negara tersebut, faktor-faktor itu lebih banyak terkait dengan ekonomi, politik, dan sosial-budaya daripada agama semata-mata.

Faktor-faktor penyebab konfik, kekerasan dan perang berkombinasi satu sama lain membuat terganggunya perdamaian dan harmoni dalam negara atau daerah tertentu.

Faktor agama sering datang belakangan dijadikan justifikasi atas konfik dan kekerasan yang telah terjadi sebelumnya. Pada zaman sekarang, hampir tidak ada konfik yang murni bersumber dari agama.