Mencari Cagub berbasis Publik

Editor : Ano Aldetrix

Fase Pilgub Sulsel 2018 kini telah memasuki fase yang sangat penting dan menentukan untuk mendapatkan Gubernur serta wakil gubernur yang dikehendaki publik namun tidak mengenyampingkan kualitas. Fase di mana empat kandidat calon gubernur, bukan sekedar menjual program namun lebih dari itu adalah ‘menjual’ kualitas pribadi mereka serta mampu memenuhi tantangan zaman.

Baru saja KPU resmi mensahkan empat calon gubernur Sulsel setelah melalui proses yang panjang. Empat calon melalui jalur politik sementara sepasang melalui calon perseorangan. Saya persingkat saja, sebab hampir semua pembaca pun paham singkatan para calon ini. Adalah NH-Aziz paket dari koalisi Golkar, NasDem, Hanura, PKB, PKPI. Paket selanjutnya adalah NA-ASS hasil koalisi PDIP,PKS, PAN dan PSI sebagai partai pendatang baru. Sementara AAN-TBL, paket last minute hasil koalisi Gerindra, PPP dan PBB. Paket lainnya yang tak kalah menantang adalah paket IYL-Cakka hasil kloning perseorangan dan Partai Demokrat. Tak ada celah dari para kandidat ini, sebab mereka telah memiliki track record yang cukup mumpuni. Tiga kandidat telah berpengalaman membangun di daerahnya masing-masing yakni IYL yang sukses membangun pendidikan di kabupaten Gowa, Andi Muzakkar dua periode membangun kabupaten Luwu dan NA yang mampu mengubah wajah Kabupaten Bantaeng dari terbelakang menjadi kabupaten yang kini cukup terkenal. Sementara NH, meskipun pengalaman dalam bidang kepala daerahnya masih nihil, namun sebagai pimpinan Parpol terbesar di tanah air, ia telah sukses memimpin sejumlah kepala daerah. NH juga adalah tokoh pentas nasional yang memiliki segudang prestasi yang layak menjadi jualannya sebagai calon gubernur yang memiliki kualitas. Lalu Agus Arifin Nu’mang, yang sangat memahami karakter Sulsel sebab menjadi pendamping SYL selama 10 tahun sebagai wakil gubernur. Termasuk Abdul Aziz, yang telah lama mencatatkan dirinya sebagai legislator DPD. Juga Tanri Bali Lamo, beberapakali tercatat sebagai plt Gubernur. Sementara Andi Sudirman Sulaiman,yang akan mendampingi Nurdin Abdullah merupakan pendatang baru dalam blantika demokrasi politik di Sulsel. ASS diketahui publik sebagai adik kandung Menteri Pertanian serta salah satu Kepala dinas di kabupaten Bone.

Empat pasang kandidat ini akan merebut hati publik Sulsel. Mereka akan merayu sebanyak 5 juta pemilih dari jumlah 6,4 Juta Daftar Pemilih Tetap (DPT). Sebab KPU Sulsel menargetkan, jumlah pemilih yang akan ke TPS pada tahun ini bisa mencapai 75 persen dibanding 2014 lalu sebanyak 73 persen.

Hal yang patut menjadi cermatan oleh para kandidat serta tim sukses, bukan hanya sekedar ketokohan atau tingkat elektabilitas yang tinggi sebelum berlangsung pencoblosan. Survei yang pernah digelar oleh harian Kompas sepanjang Pilkada langsung 2015 dan 2017 menyebutkan bahwa saat ini masyarakat membutuhkan pemimpin yang melayani public. Itulah sebabnya, publik berharap agar KPU dan partai politik menyodorkan figur ke masyarakat adalah calon pemimpin yang memiliki kedekatan melalui program yang berpihak pada publik. Survei tersebut menyiratkan bahwa sebanyak 21,9 persen masyarakat akan memilih kandidat yang menjual program dalam bidang pelayanan kesehatan dan pendidikan. Setelah kedua program tersebut, tingkat kepemilihan masyarakat atas calon pemimpinnya yaitu bagaimana kandidat tersebut menciptakan program yang pro terhadap masyarakat kelas bawah seperti petani, buruh, usaha kecil menengah dan para pedagang di pasar pasar, pinggir jalan. Isu ini mencapai 18,8 persen, cukup tinggi dibanding isu menjual pemberantasan korupsi yang hanya 11,9 persen. Termasuk isu menjual program membangun seperti insfrastruktur, gedung, jalan raya, fisik di mana jumlah nya mencapai 15 persen. Isu bagaimana kedekatan serta kelekatan dua paket juga cukup menjual mencapai 12 persen.
Persegeseran pemilih publik atas calon pemimpinnnya nampaknya telah mereka lihat atas hasil Pilkada sebelumnya. Di mana pemimpin yang melayani atas kebutuhan hak mereka lebih menjadi kebutuhan utama bagi masyarakat ketimbang isu atau program setinggi langit seolah menjanjikan surga. Program program yang pro terhadap masyarakat kelas menengah ke bawah rupanya menjadi barometer utama membawa mereka untuk memilih calon pemimpinnya kelak.
Pilgub kali ini bukan sekedar tantangan bagi calon untuk dipilih akan tetapi ujian bagi publik untuk mencari pemimpin berkualitas berbasis publik. Sebab dari segi ekonomi, Sulsel di bawah kendali SYL boleh disebut telah mengalami peningkatan ekonomi yang cukup tinggi, 7,2 persen pada tahun 2017. Bahkan Sulsel menempatkan 1 kabupaten di Sulsel yang menempati rangking tertinggi kedua tingkat kemiskinan dan kesejahteraan di Pulau Sulawesi, yakni Kabupaten Sidrap. Dalam hal perekonomian suatu ketika SYL mengatakan bahwa Sulsel telah autopilot. Kini Sulsel akan mencari pemimpin yang melayani publik atau pro terhadap publik. Nah untuk mendapatkan calon pemimpin yang dikehendaki oleh rakyat, sekarang tergantung pada 6, 4 juta pemilih di Sulsel. Apakah akan tergoda dengan materi berupa uang, intimidasi, agama, kawasan, atau pendekatan primordial? Jika masih menggunakan pola seperti itu maka kehendak untuk mendapatkan pemimpin pro publik akan sirna.

Selamat datang calon pemimpin Sulsel.

 

Ano aldetrix
Pimpinan online24jam.com