SPDP Tujuh ‘Tuyul’ Diterima Kejati Sulsel 

Reporter :
Editor : Asri Muhammad
Kapolsek Rappocini, Kom Pol Kodrat M Hartanto (tengah) menunjukan barang bukti gadget milik para pelaku Grab Tuyul saat konferensi pers di Kantor Polsek Rappocini, Jalan Alauddin, Makassar, Sabtu (27/1/2018). Sebanyak tujuh orang pelaku dengan barang bukti yakni 23 gadget, lima kartu ATM dan uang tunai Rp 300 ribu  berhasil diamankan oleh anggota Polsek Rappocini.
Kapolsek Rappocini, Kom Pol Kodrat M Hartanto (tengah) menunjukan barang bukti gadget milik para pelaku Grab Tuyul saat konferensi pers di Kantor Polsek Rappocini, Jalan Alauddin, Makassar, Sabtu (27/1/2018). Sebanyak tujuh orang pelaku dengan barang bukti yakni 23 gadget, lima kartu ATM dan uang tunai Rp 300 ribu berhasil diamankan oleh anggota Polsek Rappocini.
Online24, Makassar – Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) tersangka kasus pengemudi Grab berpenumpang fiktif atau ‘tuyul’, telah diterima pihak Kejati Sulsel. SPDP tersebut diserahkan dari tim penyidik polda sulsel ke kantor Kejati Sulsel. Ketujuh orang tersangka tersebut adalah IGA (31), AQM (25), RJ (25), HR (21), KFP (24), TR (24) dan TB (25).
Kasipenkum Kejati Salahuddin, membenarkan terkait masuknya SPDP tererbut. “Sudah masuk SPDP nya. Sudah kami terima sejak beberapa waktu yang lalu,” ujar Salahuddin, Selasa(13/2/2018).
Salahuddin menjelaskan, dengan masuknya SPDP tersebut pihaknya tinggal menunggu pelimpahan berkas perkara, untuk diteliti dan dipelajari oleh tim jaksa peneliti apakah berkas kasus tersebut telah memenuhi syarat, baik secara formil maupun materil.
Sekedar diketahui beberapa waktu lalu pada Sulsel berhasil mengamankan tujuh orang pelaku yang diduga melakukan penipuan aplikasi Grab atau yang sebut driver ‘Tuyul’.
Modusnya, para pelaku  membeli akun pengemudi Grab yang dipasarkan secara online, sehingga pelaku memiliki lebih dari satu akun pengemudi Grab dengan identitas yang berbeda, sebelum akhirnya memasang aplikasi Mock Location untuk melakukan aksinya.
Kemudian para pelaku memasang aplikasi pihak ketiga yaitu Mock Location pada handphone mereka yang berfungsi mencurangi system electronik aplikasi pengemudi Grab, sehingga posisi keberadaan serta pergerakan GPS pengemudi dapan diatur sesuai kehendak pelaku.
Setelah mendownload aplikasi mock location, pelaku lainnya pun membuat akun Grab sebagai penumpang dengan menggunakan hand phone android yang berbeda, dan berpura-pura untuk memesan Grab dan kemudian digunakanlah Mock Location untuk menggerakan GPS aplikasi Grab tersebut tanpa langsung turun kelapangan. Ketujuh orang tersangka tersebut terancam hukuman penjara dengan maksimal 12 tahun.