Isteri Pengungsi Rohingya Mengeluh Dilarang Bersama Suaminya di Wisma

Reporter :
Editor : Aris Munandar
Sejumlah umat muslim yang tergabung dalam Crisis Center for Rohingya (CC4R) DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel, melakukan aksi damai di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Senin (11/9/2017). Mereka turun ke jalan menyuarakan penolakan terhadap tindak kekerasan yang dialami warga Rohingya di Rakhine, Myanmar.
Sejumlah umat muslim yang tergabung dalam Crisis Center for Rohingya (CC4R) DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Sulsel, melakukan aksi damai di depan Monumen Mandala, Jalan Jenderal Sudirman, Makassar, Senin (11/9/2017). Mereka turun ke jalan menyuarakan penolakan terhadap tindak kekerasan yang dialami warga Rohingya di Rakhine, Myanmar.

Online24, Makassar – Para isteri pengungsi Rohingya datang mengadu ke DPRD Kota Makassar, Rabu (21/2/2018). Mereka berharap nasibnya diperhatikan karena tak bisa bertemu secara bebas dengan suami mereka lantaran peraturan ketat dari pemerintah.

Sesuai peraturan Wisma Imigran, suami hanya boleh beraktivitas di luar mulai pukul 07.00 hingga 22.00 Wita. Sementara, mereka tak boleh membawa isteri mereka ke dalam Wisma.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Ketua Komisi B DPRD Kota Makassar, Iqbal Djalil mengatakan bahwa pihaknya bakal segera menemui pihak migrasi, IOM, dan UNHCR. Ia akan mendesak mereka memberi perhatian terhadap nasib perempuan warga kota Makassar yang menjadi isteri para pengungsi Rohingya.

Para isteri pengungsi Rohingya mengadu ke anggota DPRD Kota Makassar.

“Hari ini kita mendapat aspirasi dari para isteri Rohingya. Mereka salah satunya mengeluhkan ketidakbebasan bersama suami mereka beberapa hari terakhir karena kesalahan pengungsi dari negara lain akhirnya berdampak pada pengungsi Rohingya. Insya Allah kita akan bantu komunikasikan dengan Imigrasi, UNHCR dan IOM terkait aspirasi mereka hari ini,”ujarnya.

Lebih lanjut Iqbal Djalil menjelaskan jika pengungsi Rohingya memilki kasus yang berbeda dengan pengungsi yang berasal dari Afghanistan atau Somalia. Pengungsi Rohingya mengalami masalah besar di negara asalnya sehingga memiliki status pengungsi illegal oleh Kemenkumham.

“Perlu dibedakan antara pengungsi Rohingya dengan pengungsi dari Afghanistan. Kondisi negaranya berbeda. Seharusnya, mereka memiliki tempat yang berbeda. Kalau ada masalah terkait pengungsi Rohingya tolong komunikasikan dengan Forum Peduli Rohingya. Apapun bentuk pelanggarannya,” tutupnya.