Pilgub rasa Pilkada 

Editor : Ano Aldetrix

Pasca pengumuman empat calon gubernur dan wakil gubernur yang akan bertarung di Pilgub Sulsel oleh KPU Sulawesi Selatan, intensitas dan hiruk pikuk Pilgub Sulsel terkesan hening. Justru yang menonjol adalah Pilwalkot dan Pilkada di beberapa daerah. Pilgub Sulsel yang seharusnya telah memunculkan pertarungan ide, kreativitas, konsep dan hiruk pikuk justru tenggelam. Entah empat kandidat telah mengalami jalan buntu untuk lebih kreativ dalam berdemokrasi ataukah para tim sukses yang memilih diam. Saya sempat berpikir, bahwa setahun lebih yang lalu adalah masa kampanye bagi mereka untuk mengejar partai dan setelah mendapatkan kendaraan menuju Pilgub, mereka anggap sudah cukup.

Ini tentu berbeda dibanding Pilgub 2014 lalu saat SYL menerima dua tantangan dari Ilham Arief Sirajuddin dan Andi Rudianto A Sapa. Kreativitas dan karakter calon pemimpin Sulsel tersebut mengemuka dan menjadi pembicaraan di mana pun. Bukan hanya di kalangan warkop, cafe namun pertarungan ide pun lahir dari media media, kampus kampus hingga ke dunia maya. Bahkan Pilgub 2014 silam menyerupai Pilgub DKI di mana warga daerah lain pun ikut membahas serta mengulasnya, mereka meneropong Pilgub Sulsel.

Saya membayangkan bagaimana calon gubernur atau calon wakil gubernur yang bertarung di Sulsel ini membuka ruang untuk saling sindir baik melalui media, gerak gerik, sosial media termasuk saling kritik atas konsep yang mereka ajukan ke publik. Ini tentunya bermanpaat bagi masyarakat di Sulawesi Selatan sebab kandidat ini membuka ruang demokrasi di mana masyarakat akan ikut menjadi cerdas dalam memahami konsep tersebut. Selanjutnya, saya membayangkan bagaimana para tim sukses menterjemahkan konsep kandidat nya tersebut di tengah tengah masyarakat bukan saling hujat melalui grup sosial media. Jika wacana ini dibentuk oleh empat kandidat maka riuh atau hiruk pikuk demokrasi ala Pilgub Sulsel akan semakin menarik sehingga masyarakat di daerah lain pun ikut menyimak apa yang terjadi di Sulawesi Selatan. Tentu kita ingin seperti Pilgub DKI, di mana pengaruh nya pun sangat terasa hingga ke kota kota lain termasuk di sejumlah daerah. Warga di luar DKI pula ikut membicarakan antara Ahok, Anies dan AHY. Pola atau strategi seperti ini sangat bisa dilakukan untuk Pilgub Sulsel sebab Makassar adalah Pintu Gerbang bagi Indonesia Timur di mana Sulsel satu diantara daerah di Indonesia yang akan menjadi bahan pertimbangan bagi pemerintah pusat untuk mengambil kebijakan setelah DKI dan provinsi di pulau Jawa.

Empat paket yang bertarung di Pilgub Sulsel ini seharusnya pilgub Sulsel semakin matang dan berkualitas. Dengan menghadirkan empat kandidat maka kompetisi akan semakin berkualitas, proses toleransi antar pendukung dengan beragam pilihan semakin terjadi hingga akhirnya proses demokrasi di daerah kita ini akan bertambah matang. Tapi sekali lagi, tergantung dari kualitas empat kandidat. Apakah sekedar ikut mengejar kekuasaan belaka atau ikut pula menciptakan demokrasi yang matang di Sulawesi Selatan. Kelak akan kita lihat nanti pada masa pencoblosan, semakin banyak masyarakat yang ikut mencoblos di TPS itu berarti empat kandidat sukses membangun demokrasi di Sulawesi Selatan. Sebab kualitas empat kandidat akan menciptakan kompetisi diantara mereka sehingga partisipasi masyarakat pun akan meningkat. Contoh Pilgub DKI, mereka menghadirkan tiga kandidat namun kualitas ketiganya mampu menarik perhatian masyarakat DKI sehingga partisipasi masyarakat meningkat. Bagaimana dengan empat kandidat di Sulsel? Jejak rekam mereka kita sudah ketahui. Sekarang ini, kita ingin pahami dan lihat bagaimana mereka berkompetisi secara fakta dan kenyataan di lapangan. Sehingga Pilgub bukan rasa Pilkada.

Jangan Lewatkan Berita Terbaru lainnya
Ikuti Online24jam.com di social Media Kamu