Senyum Pun Harus Munafik

Editor : Ano Aldetrix

Tulisan ini terilhami oleh sebuah iklan PSA di salah satu radio berjaringan di Makassar. “Ahh kamu. Tangisan nya kok munafik banget”.  PSA ini bercerita tentang tangisan yang serius dan tangisan yang sengaja dibuat sedemikian rupa agar penonton iba mendengarnya.

Maka ku tulislah sebuah tema tentang Pilkada di Sulawesi Selatan atau pun Pilgub Sulsel. Hiruk pikuk Pilgub, tak ubahnya seperti sebelumnya. Mengumbar senyum, melebarkan tangan memanjatkan doa melalui foto-foto, tiba-tiba menjadi seorang yang peduli pada kemiskinan, merangkul masyarakat kelas bawah seolah sederajat dengannya lalu serumpun lagi pola pendekatan yang muncul dalam event demokrasi lima tahunan ini.  Seorang teman melalui tulisan di linimasanya menuliskan “Sholat itu adalah ibadah dalam kesunyian”, sambil menyentil beberapa kandidat yang berfoto lalu mengedarkan meme-meme maupun video kreatif sedang sholat. Saya pun sampai sekarang masih mencari tau filosofi Sholat melalui event  Pilkada. Mungkin hendak menyampaikan bahwa calon inilah yang paling pantas masuk surga. Kalau pun iya.

Tiga bulan lagi masa pencoblosan calon pemimpin di Sulawesi Selatan akan berlangsung. Empat pasangan kandidat yang bakal meraih posisi terapik di Sulawesi Selatan telah memasuki etape kampanye, meyakinkan kepada 5 juta pemilih di Sulsel agar memilih dirinya sebagai pengganti Syahrul Yasin Limpo.

Beragam cara pun telah dilakukan, mulai bermanis muka di hadapan rakyat, melambaikan tangan agar rakyat mendekat padanya, menjanjikan “surga” hingga menebarkan karya yang telah dibuatnya. Mereka sibuk mengemas dirinya lalu memperlihatkan kualitas dirinya, menjanjikan sebuah impian tapi sebenarnya itu hanyalah mimpi. Seorang actor comedian dan produser film Jason Jones dan Shan Wareing mengeluarkan sebuah anekdot tentang cara membedakan politisi itu sedang berbohong atau tidak. Menurutnya, “Setiap kali mereka berbohong, mereka selalu menggerakkan bibir mereka. “Artinya, politisi tidak pernah berhenti berbohong dan akan selalu berbohong.”

Empat pasang calon gubernur dan calon wakil gubernur sudah kita lihat semua tampang dan wajahnya. Sayang sekali, tak satupun kita melihat produk yang sebenarnya sebab telah “dirapikan” oleh kekuatan lensa serta kekuatan artistik desain melalui komputer. Maka masyarakat pun tak mampu melihatnya secara mendalam kecuali menyaksikan melalui foto serta segumpal embel-embel janji melalui bahasa eufemisme. Membungkus yang kurang lalu menampilkan sekoper kebaikan.  Seperti kita telah simak, empat pasang kandidat yang bertarung di Sulsel ini telah mengeluarkan jargonnya. Pasangan Nurdin Halid – Aziz Qahar “Sulsel Baru”,  Agus Arifin Nu’mang – Andi Tenri Bali Lamo “Lanjutkan Pembangunan”, Nurdin Abdullah – Andi Sudirman Sulaiman “Kerja Nyata” serta Ichsan Yasin Limpo – Andi Muzakkar “Bersama Membangun Sulsel”

Empat jargon ini telah melekat pada masyarakat Sulawesi Selatan. George Orwell seorang penulis dan ahli sosiologi menganjurkan agar para politisi sebaiknya menggunakan komunikasi yang jelas, jujur, dan mudah dipahami, agar masyarakat pun dapat lebih mudah memahami dan mengerti setiap “jualannya” melalui kampanye dan temu muka. Sebab kita tak ingin seperti cuplikan iklan di radio di PSA pada awal tulisan ini “tangisan nya kok munafik banget”.

Jangan Lewatkan Berita Terbaru lainnya
Ikuti Online24jam.com di social Media Kamu