Legenda Kera Besar Bantimurung Dan Mitos Dusun Pattiro Maros

Editor : Muh. Idris

Online24,Maros – Setiap warga yang pernah berkunjung ke Bantimurung Maros, Tentu akan melihat patung Kera Macaca maura yang sangat besar berdiri mengangkang di pintu gerbang wisata permandian alam tersebut.

Hali itu sebagai symbol bahwa di wilayah tersebut banyak kera. Terutama dibeberapa jalan lintas Maros-Bone. Warga yang melintas di sepanjang jalur itu kerap turun dari kendaraan dan memberi kera-kera itu makanan.

Macaca maura merupakan salah satu satwa endemik yang mulai terancam punah yang tepatnya berada di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Maros. Kera yang tak memiliki ekor ini memiliki kecerdasan lebih dibanding monyet lantaran otaknya jauh lebih kompleks.
Kera yang dalam bahasa lokal disebut dare itu punya legenda yang sampai saat ini masih dikisahkan oleh sebagian warga. Memiliki banyak pesan moral, bahkan mitos yang tetap diyakini.

Dikisahkan, ada sebuah kerajaan kera yang berada di Kampung Abbo, Kelurahan Leang-leang, Kecamatan Bantimurung. Kerajaan itu dipimpin oleh seorang raja bernama Toakala atau I Marakondang. Raja ini digambarkan sebagai sosok kera tinggi besar, berbulu putih, dan pintar berbicara layaknya manusia.

“Di Kampung Abbo itu ada beberapa reruntuhan batu yang diyakini sebagai peninggalan Kerajaan Toakala. Selain itu, ada juga batu berbentuk ranjang yang konon itu tempat tidur I Marakondang,” kata seorang budayawan Maros, Lory Hendrajaya, Selasa (6/3/2018).

Diceritakan bahwa Toakala sangat senang berburu, pada suatu hari, berangkat ke hutan mencari rusa. Namun, tepat di telaga Kassi Kebo, di atas air terjun Bantimurung, ia melihat seorang wanita yang sangat cantik tengah mandi.

Wanita cantik itu rupanya seorang putri dari Kerajaan Pattiro bernama I Bissu Daeng. Toakala mabuk cinta karenanya. Namun saying cintanya harus kandas lantaran Kerajaan Pattiro menolak dan bahkan mengolok-olok dirinya, dianggap tidak pantas memperistrikan Bissu Daeng karena ia hanya seekor kera.

Ia pun akhirnya menculik Bissu Daeng ke kerajaannya. Namun, Bissu Daeng diselamatkan oleh seekor ular sanca besar. Toakala pun memerintahkan seluruh rakyatnya untuk bersiap menyerang Kerajaan Pattiro.

Mendapat kabar akan diserang, nyali Raja Pattiro ciut dan mengatur siasat jahat. Ia mengutus panglimanya untuk bertemu dengan Raja Toakala. Ia berpesan agar Toakala datang melamar secara baik-baik dengan syarat, seluruh rakyatnya harus ikut tanpa terkecuali.

Sebelumnya, Raja Pattiro sudah menyiapkan sebuah ruangan besar yang terbuat dari jerami yang direkatkan getah pinus. Toakala dan rakyatnya sama sekali tak sadar bahwa semua itu hanya jebakan belaka.

Belum usai menyantap makanan kenduri, ruangan besar itu dibakar oleh pasukan Pattiro hingga seluruh rakyat Toakala terpanggang oleh api. Beruntung Toakala memiliki kesaktian, ia bersama seekor kera betina hitam yang tengah hamil berhasil lolos dari kobaran api itu.

Sembari berlari masuk hutan, kera hitam yang lolos itu menyeka api yang membakar hangus ekor dan pantatnya. Kera itulah yang kemudian beranak pinak menjadi Macaca maura. Sedangkan Toakala yang telah marah sekaligus merasa bersalah memilih mengasingkan diri.

Inilah awal Macaca maura tidak memiliki ekor dan pantatnya tidak berbulu. Sementara Toakala menyepi ke dalam gua. Makanya ada gua di Bantimurung disebut gua Toakala
Setelah peristiwa itu, Bissu Daeng diliputi rasa bersalah.

Ia menganggap kecantikannya menjadi malapetaka besar. Ia pun mengutuk seluruh keturunannya tidak lagi berwajah cantik seperti dirinya. Kutukan inilah yang menjadi mitos di dusun Pattiro, jika ada wanita yang lahir cantik, ia tidak akan berumur panjang.