2024 Indonesia Tak Kenal Budaya Pacaran

Editor : Muh. Idris

Online24,Jakarta – Gerakan Indonesia Tanpa Pacaran (ITP) pada minggu kemarin mulai digulirkan. Targetnya 2024 Indonesia sudah terbebas dari budaya pacaran.

La Ode Munafar, selaku penggagas gerakan ini mengatakan secara masif melalui berbagai akun sosial media, menurutnya, gerakan ini mendapatkan banyak dukungan dari generasi muda.

Berawal dari pernikahan Alvin Faiz, putera dai kondang Arifin Ilham. Menurut Munafar,  hal itu perlu dipopulerkan walaupun sebenarnya sudah banyak yang menikah muda seperti Alvin.

Tapi pernikahan yang benar-benar nikah muda bukan karena ‘kecelakaan’. Karena itu, saat ada kasusnya (nikah muda) maksudnya di sini adalah menikah bagi anak muda yang sudah siap.

Menurut Munafar, kondisi psikologis dan biologis anak muda zaman sekarang tidak sejajar perkembangannya. Seiring perkembangan zaman, kondisi biologis anak-anak muda zaman sekarang lebih cepat matang karena dipengaruhi oleh berbagai informasi.

“Menurut saya, ketika anak muda sudah balig maka yang terpenting adalah keseimbangan mental dan pemikirannya. Karena itu, gerakan nikah muda mengambil peran bukan sebagai tempat mak comblang, Gerakan nikah muda juga bukan bertujuan bisnis, melainkan gerakan syiar dan pembentukan opini untuk menyadarkan generasi muda agar perkembangan mereka yang bersifat biologis seiring dengan psikologis,” tutur Munafar.

Ketika ada anak muda yang tumbuh berkembang menuju dewasa, maka harus ada media yang menyampaikan kedewasaannya secara psikologis dan secara pemikiran, baik lewat media Instagram, Facebook, film, dan lain-lain.

“Kami ambil peran di akun Instagram sebagai media untuk menyadarkan mereka agar berkembang gak hanya secara biologis, tetapi juga perlu diisi secara pemikiran,” imbuhnya.

Peran media sosial dalam menularkan pemikiran tak bisa dipandang enteng. Tim buzzer gerakan Indonesia Tanpa Pacaran, misalnya, menargetkan bisa menjangkau satu juta orang per hari. Peran sosial media akan membawa perubahan meskipun tidak secara langsung.

“Bisa jadi di seberang Sulawesi sana ada yang memutuskan pacarnya, ada yang tiba-tiba menikah muda karena baca status, atau ada yang setelah melihat tulisan ITP lalu mutusin pacarnya. Dampak tulisan dan sosmed itu diam-diam. Bisa jadi menghasilkan gelombang besar yang akan menunjukkan perubahan di tengah masyarakat,” kata Munafar.

“Jangan pandang enteng sebuah tulisan. Gerakan terkuat dari dalam dunia perubahan, selain fisik adalah gerakan tangan seorang penulis yang merangkai kata dan bisa membuka hati serta pikiran masyarakat,” pungkasnya.