Debat Pilgub II Mereka Hanya Sangar di Luar Layar

Editor : Muh. Idris

Dua kali debat kandidat Pilgub Sulawesi Selatan telah berlangsung. Debat I berlangsung 27 Maret 2018 yang disiarkan langsung melalui layar televisi Kompas TV sementara debat II berlangsung di Grand Studio layar televisi Metro TV 19 April 2018. Dua kali debat berlangsung namun secara signifikan, debat yang kedua mulai terasa gema nya sebab empat pasang calon mulai sedikit “agak nakal” dalam hal materi debat. Namun tulisan ini saya hanya mau melihat dari penampilan mereka di layar televisi.

Penampilan perdana kelihatan empat pasang masih agak canggung sehingga terlihat monoton atau kaku di layar kaca. Empat kandidat bahkan beberapakali terlihat belum menguasai panggung atau studio termasuk posisi kamera. Sehingga hal hal yang kecil ini ikut mempengaruhi penampilan mereka di layar kaca. Termasuk jenis kostum atau wadrobe yang mereka gunakan.

Namun pada sesi kedua yang dipandu oleh Zilvia Iskadar, Host dari Metro TV empat pasang calon telah memperlihatkan penampilan yang menarik. Keempat kandidat telah rileks tampil di layar televisi sehingga ikut mempengaruhi kualitas debat. Termasuk bagaimana empat pasang ini memainkan intonasi suara nya ketika menjelaskan program atau menjawab pertanyaan dari host sehingga penjelasan yang mereka paparkan akan lebih mudah dipahami oleh penonton. Dari segi penampilan, Nurdin Halid (NH) terlihat sangat rileks sehingga menguasai sesi demi sesi. Hal ini dapat kita saksikan bagaimana NH tetap santai meskipun terjadi kekeliruan atau saat masih hendak menjelaskan sesuatu namun terbatas oleh durasi. Dan itu tertangkap oleh kamera, NH mengangkat kedua tangannya, tertawa lebar lalu dibalas oleh pasangannya. Bagi saya setiap gerak gerik seperti ini yang tertangkap oleh kamera adalah bermanfaat bagi calon tersebut. Saking rileks nya sehingga NH terlihat siap menjawab apapun yang disanggahkan pada dirinya. Ia sangat percaya diri dan itu terlihat disetiap kompetirtornya menyanggah atau menyerang melalui sejumlah pertanyaan. Mantan ketua PSSI tersebut dengan mudah menjawabnya bahkan sesekali ia mampu memanfaatkan durasi yang sangat singkat itu untuk memasukan beberapa programnya lalu membandingkan dengan program yang lain.

Selanjutnya penampilan Ichsan Yasin Limpo (IYL) juga tak kalah menariknya. Ia mencuri perhatian penonton di saat menyodorkan pertanyaan yang sebenarnya menohok tapi mantan bupati Gowa itu memberikan penekanan suaranya yang ringan dan datar mengenai data kemiskinan kepada Nurdin Abdullah. Walaupun ringan tapi IYL mengimbanginya melalui penekanan pada body language sehingga pertanyaan ini berbobot dan menarik perhatian. Meskipun isu yang diangkat oleh IYL ini telah menjadi viral di tengah tengah masyarakat. Padahal pola seperti ini bukan tipe keseharian yang dapat disaksikan pada seorang IYL. Sekali lagi IYL mendapatkan poin positif pada sesi ini. Saya berkesimpulan, justru sesi inilah debat itu telah terlihat sehingga menarik untuk kita saksikan.

Pula bagaimana kita melihat Agus Arifin Nu’mang yang begitu cool dan tenang. Oleh karena ketenangannya itulah mantan wakil gubernur Sulsel dua periode ini tak ada beban sedikit pun pada setiap sesi termasuk ketika IYL mempertanyakan ulang bagaimana konsep pendidikan versi Agus Arifin Nu’mang. Berbekal pengalamannya, ia melahap segala sanggahan yang diarahkan padanya. Bukan sekedar teori namun pasangan TBL tersebut menyodorkan melalui data data yang telah ia hafal hingga tuntas. Sodoran data inilah sebenarnya yang memperkuat posisi AAN pada sesi debat yang berlangsung di Jakarta ini.

Debat kedua ini juga menguntungkan bagi Nurdin Abdullah sebab ia berkesempatan menjawab segala tudingan selama ini tentang data data kemiskinan, pendidikan serta pembangunan di daerah tersebut. Termasuk ketika IYL serta NH menyoroti tentang pendidikan serta kemiskinan yang kedua kandidat tersebut dapatkan baik melalaui data BPS maupun saat menggelar sosialisasi di Kabupaten Bantaeng. NA seperti biasa mampu meyakinkan kepada pemirsa bukan hanya melalui teori akan tetapi NA mampu mengelaborasi data BPS sesuai dengan kebutuhan dirinya. Sehingga meskipun semula ia menyatakan pesimis dengan data BPS seperti saat kompetitor nya menyodorkan data akan tetapi NA sanggup memperinci data data kemiskinan, ekonomi serta pendidikan yang telah ia capai dibanding pendahulunya. NA membaca data BPS melalui angle lain.

Namun demikian apa yang tengah berlangsung melalui debat tersebut kita belum melihat debat yang sesungguhnya. Meskipun karakter mereka telah mulai terlihat pada malam itu akan tetapi perdebatan seperti debat Pilpres dan Pilgub DKI belum mereka pertontonkan sehingga dapat mempengaruhi publik. Baik mempengaruhi secara emosi maupun pindah keyakinan atas pilihannya. Empat pasang cagub hanya sangar di luar layar akan tetapi saat bertemu di satu layar, mereka nampak sangat sopan. Belum kelihatan watak yang sesungguhnya, seperti seorang NH yang dikenal sebagai orator dan mampu menekan lawan bicara, seorang Agus yang selalu tajam dan judes saat bertanya, NA yang kepakarannya sebagai guru besar serta IYL yang memiliki kemampuan meledak ledak. 9 Mei sebagai debat terakhir Pilgub Sulsel, semoga emperium mini demokrasi di Sulsel dapat kita saksikan pada saat itu. Sekaligus memperlihatkan pada Indonesia, bagaimana Sulawesi Selatan berdemokrasi.

Jangan Lewatkan Berita Terbaru lainnya
Ikuti Online24jam.com di social Media Kamu