Pengacara Resky Menganggap Tuntutan JPU Kurang Masuk Akal

Reporter :
Editor : Muh. Idris

Online24, Makassar – Tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) terhadap tiga terdakwa dalam kasus pembunuhan Resky Evienia, Mahasiswa Kedokteran UMI dianggap kurang masuk akal oleh pengacara korban, Syamsul Hami, Kamis (10/5/2018).

Jaksa Penuntut Umum (JPU) dalam kasus Resky hanya memberikan tuntunan ringan kepada tiga orang terdakwa dalam kasus ini, yakni 1 tahun 4 bulan penjara berdasarkan pasal 359 junto pasal 55 ayat (1) KUHP.

Menurut Syamsul, Tuntutan itu lebih ringan jika dibanding dengan dakwaan awal yang menyebut bahwa ketiga terdakwa melanggar pasal 353 ayat (3) KUHP junto pasal 55 ayat (1) KUHP subsider pasal 351 ayat (3) dan (4) KUHP.

“Tuntutan ini sangat tidak wajar, karena kenapa, ini kan masalah pembunuhan, mau alasannya disengaja ataupun tidak itu seharusnya ancamannya lebih dari apa yang menjadi tuntutan jaksa,” ujar Syamsul.

Selain itu, kata Syamsul dalam kasus ini juga sempat disampaikan kalau ancamannya bisa pasal 351 ayat 3 dengan ancaman sekitar 7 tahun penjara

“Jadi saya berharap dan meminta kepada majelis hakim sebagai pengambil keputusan nantinya agar bisa menaikkan hukumannya atau memvonis sesuai perbuatan terdakwa dalam memberikan efek jera,” sambungnya

Sebelumnya, dalam sidang tuntutan yang digelar hari Senin (30/4/2018) lalu JPU menyebut beberapa pertimbangan meringangkan bagi ketiga terdakwa.

Diantaranya ketiga terdakwa bersikap sopan, sudah terjadi perdamaian, dan keluarga almarhumah Rezky telah menerima uang ganti rugi selama Rezky menempuh pendidikan di Universitas Muslim Indonesia (UMI).

Ketiga terdakwa yakni Sesaria Fatimah Nur Bahtiar, Wahyuni Rachman, Heldi Jafar, dianggap terbukti melanggar pasal 359 jungto 55 ayat 1 tentang perbuatan yang mengakibatkan matinya orang. Kasus ini sendiri telah bergulir sejak tahun 2016.

Rezky Eviena meninggal saat mengikuti kegiatan Study Club (SC) Tim Bantuan Medis Fakultas Kedokteran UMI. Hingga saat ini ketiga terdakwa tidak pernah ditahan baik dalam tahap kepolisian, Kejaksaan dan pengadilan. Selain itu, sidang pembacaan tuntutan ini sempat tujuh kali ditunda dengan berbagai macam alasan.