Korut Ancam Batalkan Pertemuan dengan Amerika Serikat

Editor : Asri Muhammad
Presiden Korea Utara, Kim Jong Un (foto: int/Business Insider)
Presiden Korea Utara, Kim Jong Un (foto: int/Business Insider)

Online24, Makassar – Pertemuan antara pemerintah Korea Utara (Korut) dan Amerika Serikat terancam batal. Hal ini setelah pemerintah Korut mengeluarkan ancamannya.

Korut akan membatalkan pertemuan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump, jika AS secara sepihak mengharuskan Korut menghentikan program senjata nuklir mereka. Trump pun hati-hati mengomentarinya.

Trump mengatakan, pemerintah AS belum menerima pernyataan resmi mengenai perubahan soal rencana pertemuan yang akan digelar pada 12 Juni di Singapura tersebut.

“Kami belum diberitahu sama sekali. Kami harus menunggu,” ujar Trump di Gedung Putih seperti dilansir kantor berita¬†AFP,¬†Kamis (17/5/2018).

“Kami belum melihat apapun. Kami belum mendengar apapun. Kami akan melihat apa yang terjadi. Apapun itu, ya itulah,” tambahnya.

Dilansir Detik, pada Selasa (15/5) waktu setempat, Pyongyang tiba-tiba mengancam akan membatalkan pertemuan puncak dengan Trump terkait tuntutan sepihak AS untuk menghentikan program senjata nuklir Korut.

“Jika AS mencoba memojokkan kami untuk secara sepihak memaksa kami menghentikan persenjataan nuklir, kami tidak akan lagi berminat pada perundingan,” demikian disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Korut Kim Kye Gwan dalam statemen yang dilansir kantor berita Korut, KCNA.

Diimbuhkan Kim Kye-Gwan bahwa Pyongyang harus mempertimbangkan kembali kehadiran dalam pertemuan Trump dan Kim Jong-Un pada 12 Juni mendatang.

Dia mengatakan Korut “menaruh harapan besar tapi sangat disayangkan bahwa AS memprovokasi kami menjelang KTT dengan melontarkan pernyataan-pernyataan konyol”.

Kim Kye-Gwan merupakan tokoh yang sangat dihormati di Korut dan terlibat dalam negosiasi dengan AS sebelumnya. Diyakini bahwa pernyataan ini mendapat dukungan pribadi dari Kim Jong-Un.

Beberapa jam sebelumnya, Korut juga menarik diri dari pertemuan dengan Korea Selatan (Korsel) yang seharusnya dijadwalkan berlangsung hari Rabu (16/5). Keputusan ini sebagai respons Korut atas dimulainya latihan militer gabungan AS-Korsel.