Begini Cara Para Astronot Kerjakan Kewajiban Sebagai Muslim

Reporter :
Editor : M N Ubay
Sumber Internet
Sumber Internet

Online24, Makassar – Sudah menjadi kewajiban bagi seorang mukmin menjalankan perintah Allah. Apapun yang sedang dilakukan atau profesi apa pun itu kewajiban agama todak boleh ditinggalkan.

Seperti yang dilakukan astronot muslim, Sheikh Muszaphar Shukor. Pria asal Malaysia ini tetap menjalankan perintah agama meski berada di ruang angkasa nan jauh disana.

Pasti dalam benak kita bertanya-tanya, bagaimana bisa menjalankan ibadah di angkasa? atau mungkin pertanyaan merujuk pada, bagaimana cara beribadah jika di ruang angkasa? Hal seperti ini ternyata pernah didiskusikam pada 2007 lalu. Ketika itu pria asal Negeri Jiran tersebut akan di terbangkan menggunakan pesawat ISS selama 10 hari.

Siap untuk menemui jawabannya. Berikut ulasan yang dilansir Online24 berkenaan dengan pertanyaan tersebut.

1. Sulit Untuk Berlutut di Angkasa, Posisi Sholat Dibebaskan 

Angkasa merupakan tempat yang memiliki nol gravitasi, jadi jangan heran jika seorang astronot mampu melayang-layang di sana. Dilansir laman National Georaphic, pesawat luar angkasa ISS memiliki kecepatan tinggi juga menyebabkan mikrogravitasi hal ini menyebabkan sulit berlutut. Kondisi tersebut menjadikan para astronot dibebaskan dalam posisi sholat dan bisa disesuaikan kondisi disana. Boleh berdiri, membungkuk, dan berlutut sebagaimana diutarakan Dewan Fatwa Nasional Malaysia.

2. Untuk Sholat dan Puasa Disesuaikan Zona Waktu Posisi 

Pesawat angkasa ISS sendiri dalam melakukan tugasnya tercatat mengelilingi bumi sebanyak 16 kali. Hal tersebut juga menyebabkan mereka bertemu matahari terbenam dan terbit selama 90 menit sekali. Lalu bagaimana menentukan waktunya? Menurut Dewan Fatwa Nasional Malaysia yang dilansir laman Kompas, durasi waktu 24 jam ditentukan oleh tempat astronot di luncurkan. Jadi apabila berada di daerah Lintah Utara mereka harus mengikuti waktu di situ begitupun selanjutnya.

3. Arah Kiblat Mengarah ke Bumi atau Gambar Mekkah Jadi Pedoman

Sebagai mukmin yang menjalankan sholat, Kabbah pastinya
menjadi kiblat atau bisa dikatakan arah dalam sholat. Lantaran di luar angkasa sulit mengarahkannya, boleh menjadikan bumi sebagai arah kita bersujud. Bahkan apabila masih sukar bisa juga menggunakan gambar Mekkah sebagai pedomannya. Ungkap Dewan Fatwa Nasional Malaysia. Diharapkan melalui hal tersebut mereka yang ada di luar angkasa lebih khusuk dan mudah untuk sholat.

4. Puasa Tidak Diwajibkan

Meski sudah diatur waktu dalam 24-jam di sana, namun para astronot diperbolehkan untuk tidak berpuasa. Tapi, jangan berpikiran negative dulu, mereka tetap diwajibkan untuk menggantinya saat berada di Bumi. Kemudahan-kemudahan ini mengacu pada keselamatan dan kesehatan saat di luar angkasa yang jauh lebih ekstream dari ketimbang di Bumi.

Beberapa ketentuan pada ulasan tersebut diatur oleh Dewan Fatwa Nasional Malaysia. Lewat hal tersebut, kita belajar apabila apa yang diperintah Allah adalah kewajiban untuk umatnya.

Meski bersifat mengikat, tapi Allah selalu memberi kemudahan menyesuaikan kemampuan umatnya. Jadi untuk kita yang tidak dalam kesulitan atau kendala mari lebih meningkatkan ibadah apalagi pada bulan yang penuh berkah ini.