Kisah 2 Pangeran Makassar diasuh Raja Prancis

Editor : AS
Ilustrasi  Louis XVI Prancis
Ilustrasi Louis XVI Prancis

Online24, Paris : Nationalgeografhic Indonesia baru saja merilis kisah dua pangeran asal Makassar yang mendapat gelar Louis dari Kerajaan Prancis, pada tahun 1686. Selain mendapat gelar sebagai “Louis” keduanya juga tercatat sebagai perwira militer di negeri Napoleon tersebut. 

Kisah ini diawali dari seorang pangeran asal Makassar yang hidup di pengasingan Kerajaam Siam. Daeng Mangalle, yang dalam peperangan pada 1686 memilik dua anak yang kemudian ia kirim merantai ke Prancis. Kedua anaknya itu adalah Daeng Ruru yang berusia 15 tahun pada saat itu serta Daeng Tulolo berusia 16 tahun.  Bekerjasama dengan Kantor dagang Prancis. Keduanya berlayar menuju Prancis menggunakan kapal Coche.  Perjalanan ia tempuh selama November 1686 lalu tiba pada bulan Agustus 1687.  Keduanya mendapat asuhan dari Raja Louis XIV sebab kedua pangeran asal Makassar tersebut memiliki kelas sosial yang tinggi.

Keduanya menempuh pendidikan di sekolah tinggi Clermont setelah mendapat gelar kehormatan sebagai Louis. Usai tamat di sekolah tinggi tersebut, keduanya melanjutkan pendidikan perwira angkatan laut Brest, salah satu institut bergengsi pada masa itu, cikal bakal institut marinir Prancis. 

Pada usia 19 tahun Daeng Ruru lulus sebagai perwira angkatan laut. Ia menyandang pangkat letnan muda (setara dengan letnan di angkatan darat). Oleh karena pendidikan cemerlang yang ia miliki, perwira Prancis menamainya Louis Pierre, pada tahun 1707. Ia bertiga di kapal Jason membawa 54 Meriam yang tugasnya mengejar kapal perang Belanda. Selanjutnya ia mendapat tugas di kapal Grand yang mengambil bagian dalam armada laut Laksamana Ducasse. Pada 19 Oktober 1707, armada laut itu tiba di Havana untuk membantu Spanyol bertempur melawan Inggris. 

Sementara itu kakaknya Daeng Tulolo mendapat gelar Louis Dauphin memilih kembali ke Makassar usai mengetahui adiknya tewas dalam peperangan di lautan Spanyol. Louis Dauphin menggunakan kapal raja Prancis kembali ke Makassar.  Berbeda dengan adiknya, Daeng Tulolo alias Louis Dauphin lebih dulu berpangkat letnan muda. Pangkat itu ia sandang hingga akhir hayatnya. Pada usia 62 tahun, daeng Tulolo meninggal dunia kemudian disemayamkan di Gereja Carmes yang dihadiri perwira Angkatan Laut Prancis.  Namun kuburan nya hancur ketika terjadi perang dunia II.