Kisah Razan al-Najjar, Perawat Sukarela Palestina yang Tewas Ditembak Israel

Editor : Aris Munandar
Foto almarhum Razan al-Najjar, Perawat Sukarela Palestina yang Tewas Ditembak Israel semasa hidup (internet)
Foto almarhum Razan al-Najjar, Perawat Sukarela Palestina yang Tewas Ditembak Israel semasa hidup (internet)

Online24, Makassar – Dunia muslim terutama pendukung perjuangan Palestina kembali berduka dengan jatuhnya korban kejahatan tentara Israel. Razan al-Najjar (21), perawat sukarela asal Palestina yang bertugas di Khan Yunis, Jalur Gaza selatan, ditembak mati oleh tentara Israel.

Ditulis New York Times, Razan ditembak pada Jumat (1/6/2018) sore, sekitar satu jam menjelang matahari terbenam. Saat itu, Razan yang berpakaian putih tim medis, tengah berusaha membantu salah seorang pengunjuk rasa lainnya untuk terakhir kalinya.

Kematian Razan menambah daftar warga Palestina yang tewas oleh peluru Israel, menjadi 123 orang. Ini adalah serangan terburuk sejak perang di Gaza 2014. Serangan itu, diikuti oleh aksi demonstrasi dan bentrokan mematikan di sepanjang perbatasan sejak 30 Maret lalu.

Penduduk Palestina menuntut agar warganya yang melarikan diri atau diusir dalam perang tahun 1948, bisa kembali ke kampung halaman mereka, yang sekarang masuk ke dalam wilayah Israel.

Puncaknya pada 14 Mei lalu, ketika sekurang-kurangnya terdapat 61 warga Palestina yang terbunuh dalam bentrok atas protes pengalihan kedutaan AS di Israel ke Yerusalem.

Sulung dari enam bersaudara, Razan merupakan warga Khuzaa, sebuah desa pertanian di perbatasan Israel, sebelah timur Khan Younis, kawasan selatan Jalur Gaza. Ayahnya yang bernama Ashraf Al Najjar (44) adalah pengangguran setelah toko onderdil motor miliknya hancur oleh serangan udara Israel pada 2014 lalu.

Beberapa waktu lalu, Razan sendiri sempat menyatakan bahwa ayahnya bangga dengan apa yang kini ia lakukan (sebagai perawat).

“Kami punya satu tujuan, (yaitu) menyelamatkan nyawa dan mengevakuasi orang. Dan juga menyampaikan sebuah pesan kepada dunia: bahwa tanpa senjata kami bisa melakukan apa saja,” tuturnya sebagaimana dikutip New York Times.

Namun kini, sang ayah –bersama banyak orang yang juga berduka atas kepergian Razan– mungkin hanya bisa bersedih. Kebersamaan terakhirnya dengan sang putri adalah pada subuh Jumat itu, ketika Razan menikmati sahur untuk berpuasa Ramadan, diikuti salat Subuh.