Sering ajak Akbar Faisal diskusi, Dinda Saraswati sukses ciptakan novel

Editor : AS
Novel Adinda Saraswati, anak pertama Akbar Faisal
Novel Adinda Saraswati, anak pertama Akbar Faisal

Online24, Jakarta – Adinda Saraswati , novelis yang masih berusia remaja rupanya tidak se begitu mudah ia menggapai mimpinya untuk menciptakan satu novel. Pernah di bully oleh teman temannya sebab kesulitan berbahasa Inggris setelah ayahnya memindahkan Dinda ke sekolah semi pesantren. Pasalnya, sekolahnya yang baru  tersebut diwajibkan menggunakan bahasa Inggris. Selama lima bulan ia menangis namun tetap belajar sebab tetap dibimbing oleh Akbar Faizal, ayahnya. “Saya sebagai bapaknya jauh lebih menderita melihat anakku seperti itu” kisah Akbar menceritakan proses  awalnya menggembleng Dinda menjadi seorang penulis.

Dinda mencoba menulis sejak kelas 6 SD. Dengan latar belakang jurnalis serta seniman  tentu  bagi Akbar lebih muda memantau anak anaknya dari segi hobi. Maka Akbar, di tengah kesibukannya seringkali mengajak Dinda berdiskusi serta membelikan buku  bacaan terutama buku tentang sastra dan politik. “Kubimbing dia agar bisa mengikuti pelajaran. Kuajak diskusi dan motivasi tentang apa saja.Seringkali kuajak ke tempat tempat diskusi tentang  apa saja. Berhasil” kata Aanggota DPR RI asal Fraksi Partai NasDem tersebut. 

Maka sejak saat itu, Dinda secara diam-diam menulis tentang apa saja.  Dan laman Facebook lah tempat “pelampiasan” Dinda menulis apa yang menurutnya menarik pada saat itu.   Dalam perjalanan proses belajar itulah, Akbar sempat dibuat kaget sebab tiba tiba ia ditelpon banyak pihak tentang tulisan anaknya tersebut di laman facebook. “Tulisannya jadi viral dan saya tidak tau”, kata Akbar. Saat Sea Games lalu, Dinda menulis di halaman FB nya yang memprotes panitia pelaksana di Malaysia sebab memasang bendera Indonesia yang terbalik. “Menteri Pemuda Imam Nahrawi menelepon saya untuk  memastikan apakah tulisan itu benar tulisan anakku sebab viral di Malaysia”  ungkap Akbar mengiyakan pertanyaan Imam Nahrawi tersebut. Lewat tulisan Dinda itulah, iman berterima kasih sebab terdapat seorang remaja yang berani menyuarakan kemarahan  bangsa Indonesia.  

Saat Dinda mulai  menulis untuk menciptakan  satu buku Akbar pun tak pernah meragukan kualitas anaknya  tersebut.  Keyakinan Akbar semakin kuat sebab Dinda paling rajin membeli buku. “Dia (Dinda) baru akan beli buku baru kalau buku yg dibelinya itu sdh dia baca habis. Adinda kuat dlm pemilihan kata. Dia berani mengelaborasi kata dan makna. Di sekolahnya, dia menjadi role model untuk teknik penulisan” lanjut Akbar. 

Jika kemudian Dinda sukses dengan buku  yang ia tulis, tidaklah mengherankan bagi Akbar. Apalagi melalui bukunya Thing That Live Whitin mendapat respon positif dari kalangan profesional di tanah air. Mulai seniman, sastrawan, presenter, hingga penulis buku best seller. “Novel keduanya sudah dimulai meski tak pernah dia ungkapkan secara terbuka. Tapi saya  tahu kalau dia lebih  banyak di kamarnya maka dia sedang  melakukan atau menulis sesuatu” jelas Akbar. 

Adinda  Saraswati remaja yang masih berusia 15 tahun menjadi pembicaraan hangat di kalangan novelis tanah air. Pasalnya anak SMP yang masih terbilang remaja ini sukses menciptakan novel. Novel karya perdana Dinda tersebut kini sudah dapat ditemui di toko Buku Gramedia.