Di Pesantren Ini Ada Ritual Berzikir 24 Jam Tanpa Henti

Editor : Aris Munandar
Para peserta ritual Suluk tekun mendaraskan ayat-ayat Al-Quran di Pesantren Seuramoe Darussalam, di pelosok Gampong Beuredeun, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. (foto: BBC News Indonesia)
Para peserta ritual Suluk tekun mendaraskan ayat-ayat Al-Quran di Pesantren Seuramoe Darussalam, di pelosok Gampong Beuredeun, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh. (foto: BBC News Indonesia)

Online24, Aceh – Pesantren Seuramoe Darussalam, di pelosok Gampong Beuredeun, Kecamatan Peukan Bada, Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh punya ritual berzikir 24 jam tanpa henti.

Ritual zikir itu bernama suluk. Pimpinan pesantren, Tengku Harwalis, mengatakan suluk adalah ibadah yang dikembangkan tarikat Naqsyabandiah sekitar abad ke-13 dan ke-14 Masehi. Ritual ini dipimpin oleh orang yang sudah memiliki ijazah dalam ilmu tasawuf alias mursyid.

Berbeda dengan ibadah iktikaf, yang doa dan bacaan zikirnya boleh dilakukan masing-masing, suluk punya bacaan tersendiri yang yang ditentukan oleh mursyid. Ibadah ini dilaksanakan dengan sebuah target tertentu, agar nilai dan jumlah bacaan doa maupun zikir sampai pada batasnya.

“Para jamaah suluk, bertasbih selama 24 jam tanpa henti, bahkan tidurpun mereka masih tetap bertasbih dalam hatinya, kecuali hendak berbuka dan salat,” kata Tengku Harwalis dilansir dari BBC News Indonesia, Senin (4/6/2018).

Durasi suluk bisa berlangsung 10 hari, 20 hari, hingga 40 hari, yang dilaksanakan sebelum dan sesudah bulan Ramadan.

“Ada ribuan ayat dan zikir yang dibacakan oleh orang-orang yang sedang mengikuti suluk, semuanya untuk membersihkan diri dan hati dari perbuatan yang menyimpang, dan kembali kepada Allah,” jelas Harwalis.

Guru Besar Ilmu Filsafat Islam pada Fakultas Ushuluddin UIN Ar-Raniry, Profesor Syamsul Rijal menilai ritual itu positif dan sangat baik. Namun, dia menyayangkan satu hal, yaitu semua orang seperti berlomba-lomba beribadah tatkala bulan Ramadan tiba, tapi abai selepas Ramadan.

“Seakan membuat matematika ibadah, untuk momen pengampunan, melepas nazar, dan hal lainnya,” tutupnya.