Ini Pesan Wapres JK di konfrensi Internasional ke-24 di Tokyo

Editor : Asri Muhammad
Wapres Jusuf Kalla menyampaikan pidatonya saat Konfrensi Internasional ke-24 di Tokyo.
Wapres Jusuf Kalla menyampaikan pidatonya saat Konfrensi Internasional ke-24 di Tokyo.

Online24, Tokyo – Keterbukaan berperan penting dalam mendukung kerja sama antarnegara untuk menciptakan perdamaian dan stabilitas. Stabilitas politik merupakan prasyarat bagi terwujudnya pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan, sedangkan kesejahteraan akan menjamin adanya stabilitas nasional maupun internasional.

“Keterbukaan ini sekarang mendapat tantangan dari beberapa pandangan baru yang dibangun atas dasar pertimbangan internal suatu negara dan nilai-nilai yang dianut oleh negara itu sendiri. Proteksionisme dan unilateralisme semakin berkembang,” ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla, saat menyampaikan pidatonya yang bertajuk “Keeping Asia Open: How to Achieve Prosperity and Stability” pada Konferensi Internasional ke-24 tentang Masa Depan Asia di Hotel Imperial, Tokyo, Jepang, Selasa (12/6).

Contoh yang cukup jelas dari fenomena ini, kata Wapres, adalah Amerika Serikat (AS) yang meninggalkan TPP Agreement (Kemitraan Trans-Pasifik) dan keluar dari Paris Accord (Kesepakatan Paris) lalu melakukan perang dagang dengan beberapa negara.

Tindakan seperti ini, lanjutnya, akan mencederai upaya membangun konsensus dan komitmen global yang telah dibangun puluhan tahun.

Namun, ujar JK, AS pada masa pemerintahan sekarang secara paradoks melakukan pendekatan unilateral dalam menanggapi perkembangan yang berlangsung di Timur Tengah dan Semenanjung Korea.

“Keputusan AS memindahkan kedutaan besarnya ke Yerusalem membuat perdamaian di Palestina semakin sulit terwujud dan meningkatkan ketegangan di seluruh dunia,” tegas Wapres yang hadir pada forum tahunan tersebut untuk kedelapan kalinya.

Menurutnya, nilai-nilai yang dianut bersama di masa lalu, seperti demokrasi, keterbukaan ekonomi, dan pengentasan kemiskinan, semakin pudar. Akibatnya, terangnya, dunia semakin terkutub-kutub baik secara ekonomi maupun politik.

Kini, kata Wapres, semakin banyak masalah yang timbul, mulai dari krisis Iran dan Yerusalem yang memicu aktivisme jaringan teroris dunia hingga retaliasi negara-negara ekonomi maju akibat kebijakan ekonomi AS yang proteksionis.

“Singkatnya, masalah-masalah baru muncul sebelum masalah-masalah lama terselesaikan. Dunia pun menjadi semakin rapuh,” ujarnya.

Pada forum yang dihadiri oleh para pemimpin, pembuat kebijakan, serta para ahli dan pelaku usaha di Asia itu Wapres kemudian menyeru semua negara untuk bekerja sama menangani masalah yang sama-sama mereka hadapi.

“Masalah yang kita hadapi tidak dapat diselesaikan oleh satu negara sendirian. Kerja sama internasional menjadi keharusan untuk menangani masalah itu,” kata Wapres.

Namun, ia mengingatkan, hanya negara-negara yang stabil secara internal yang dapat berperan serta secara efektif dalam kerja sama tersebut. Ia pun kemudian menunjukkan kesiapan Indonesia dengan memaparkan data tentang proses demokratisasi dan pertumbuhan ekonominya yang relatif stabil.

Wapres kemudian menggarisbawahi pentingnya pertumbuhan ekonomi yang inklusif untuk mewujudkan kesejahteraan bersama di seluruh dunia.

“Untuk mewujudkan visi ini, kita harus mendukung terciptanya stabilitas politik dan ekonomi dunia,” tegasnya.

Stabilitas politik, menurut Wapres, dapat tercipta dengan menolak paham unilateral dari negara manapun, selain secara bersama-sama menangani masalah terorisme dan kemiskinan.

Sementara itu, terangnya, stabilitas ekonomi dapat dicapai dengan tetap menaati perjanjian perdagangan yang telah disepakati bersama, termasuk perjanjian perdagangan bebas.

Namun, Wapres mengingatkan agar perdagangan bebas harus berdasarkan prinsip perdagangan yang adil (fair trade).

“Kita harus menghindari kebijakan “beggar-thy-neighbor” yaitu suatu negara mengambil keuntungan dari sebuah kebijakan perdagangan tertentu sementara negara lain dirugikan karena itu,” ujarnya.

Mengakhiri pidatonya, Wapres memompakan semangat bahwa meskipun dunia sedang dilanda krisis di berbagai bidang, terdapat banyak peluang perbaikan di balik krisis tersebut.

“Yang terpenting adalah kita tetap memiliki keinginan untuk bekerja sama dan menemukan solusi atas berbagai krisis yang kita hadapi. Kita juga harus terus menumbuhkan nilai-nilai bersama untuk mendukung terciptanya stabilitas dan kesejahteraan bersama,” pungkasnya.