Cetak Sarjana Nonmuslim, UMI Buktikan Kampus Islam Jauh dari Radikalisme

Editor : Aris Munandar

Online24, Makassar – Sejumlah kampus perguruan tinggi Islam di Indonesia belakangan jadi sorotan setelah aksi terorisme kembali marak terjadi. Penyebabnya karena di lingkungan kampuslah seseorang mudah ditanamkan ajaran tentang paham-paham radikal.

Pemerintah pun lantas meminta birokrasi kampus mengawasi ketat kegiatan-kegiatan intra maupun ekstrakurikuler mahasiswanya. Merespon hal tersebut, Universitas Muslim Indonesia (UMI) membuktikan jika kampus bukanlah tempat munculnya bibit radikal.

Meski berlabel Islam, Fakultas Teknik Industri UMI justru mau menerima mahasiswa nonmuslim. Terbaru, dua mahasiswa beragama Kristen, Damaris (22) dan Puspa (22) berhasil menyelesaikan studi sarjananya dengan mengambil konsentrasi jurusan Teknik Kimia.

Kedua mahasiswi asal Toraja, Sulawesi Selatan ini tanpa hijab berbaur bersama 192 lulusan sarjana lainnya dan 71 lulusan program profesi insinyur FTI UMI saat ramah tamah di Hotel Myko, Makassar, Sabtu (23/6/2018) malam.

Dekan FTI UMI, Zakir Sabara menjelaskan alasan pihaknya mau menerima mahasiswa nonmuslim. Ia mengatakan akronim kampus UMI tidak berhenti di kata Muslim saja.

“Tapi ada Indonesia, jadi semua yang ada di Indonesia kami terima mau agama apapun itu. Saya ingin sampaikan jika kampus kami jauh dari radikal dan juga kepentingan politik semata,” katanya.

Ia mengakui FTI UMI memang telah menerima mahasiswa nonmuslim sejak beberapa tahun belakangan. Jumlahnya pun tidak dibatasi. Bahkan
kedua mahasiswa tersebut juga ikut kuliah mata pelajaran agama.

“Kami memberi kebebasan kepada mahasiswa untuk menganut kepercayaannya. Misal Nasrani, kalau ada materi agama yang tidak menyangkut aqidah seperti syahadat, salat, merek ikut,” ungkapnya.

Zakir menambahkan, meski jadi minoritas, keduanya tetap bergaul dan tidak mendapat perlakuan berbeda dengan mahasiswa muslim di kampus UMI.

“Mereka malah ikut pesantren di Padang Lampe. Kalau materi keilmuan seperti bagaimana syariat Islam, mereka ikut belajar. Bahkan makan satu piring empat orang, mereka ikut juga,” tambahnya.