Mengenal Viktor Laiskodat, Sosok Petarung Jalanan Yang Jadi Gubernur NTT (1)

    Editor : M N Ubay
    Victor Laiskodat. Foto/internet
    Victor Laiskodat. Foto/internet

    Online24,- Viktor Laiskodat dan Joseph Naisoi memenagnkan pemilihan Gubernur NTT pada Pilkada yang diselenggarakan secara serentak pada 27 Juni 2018. Pria yang berasal dari desa kecil di provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) tersebut mengisahkan jalan terjal yang ia lalui hingga bisa menjadi sukses seperti sekarang ini.

    Ketika hampir semua orang menjejal-jejal gelar akademis untuk menyatakan sebuah kebesaran, Viktor Laiskodat justru lebih percaya pada sekolah kehidupan.

    “Bagi saya, sekolah yang paling hebat itu sekolah di jalanan. Di jalanan kita bisa firm (teguh), komit, dan menjaga nama. Itu antara hidup dan mati. Kadang datang musuh mau bunuh saat itu juga. Kita hadapi semua itu,” kenang Viktor akan kehidupan jalanannya.

    Pria yang memiliki nama Viktor Bungtilu Laiskodat memang menapaki sukses melalui jalan terjal yang tak dilalui banyak orang. Dari seorang petarung jalanan, menjadi buruh, petugas satpam, penagih utang dan segala pekerjaan serabutan, lalu perlahan menanjak menjadi pengusaha dan politisi nasional.

    Kehidupan Viktor memang bagaikan legenda bagi banyak orang. Namun sama hal sebuah legenda, orang hanya tahu manis di ujungnya. Tak banyak yang tahu bagaimana perjuangan Viktor menuju puncak kesuksesan seperti saat ini. Pujian dan fitnahpun mengiring sepanjang jalan namun ia tetap pada jalannya: jalan keteguhan hati dan keberanian.

    Viktor lahir bukan dari keluarga kaya. Ia lahir dari sebuah keluarga petani miskin di Oenesu, sebuah kampung di Kabupaten Kupang. Viktor memang terlahir menjadi pemenang. Dini hari, 17 Februari 1965 Viktor Bungtilu Laiskodat hadir ke dunia sebagai putra bungsu dari enam bersaudara pasangan Lasarus Laiskodat dan Orpa Kase. Ia dibesarkan dalam suasana serba kekurangan.

    “Mama biasa goreng kasi kami biji kapuk untuk kami makan”, kenang Viktor akan masa kecilnya.

    Menyiasati kerasnya hidup, saat Viktor duduk di bangku kelas 1 SD, sang ayah memboyong keluarganya pindah ke Pulau Semau. Di pulau inilah Viktor menamatkan pendidikannya di SD Negeri Otan dengan brilian. “Saya lulus ujian nomor dua, nomor satu anaknya kepala sekolah,” kata Viktor. Ia bahkan masih mengingat temannya yang juara itu yaitu Melki Mola.

    Agar bisa melanjutkan sekolah, Viktor kemudian dititipkan pada kakak perempuannya Ance Ataupah Amtiran di kota Kupang. Tak ada sekolah menengah di Semau saat itu. Ance menikah dengan Hendrik Ataupah, seorang dosen Universitas Nusa Cendana. Merekalah yang membiayai pendidikan Viktor.

    Lain Semau, lain Kupang. Suasana di kota kecil ini turut merubah kehidupan sang anak kampung ini. Sebagai murid SMPN 1 Kupang, ia sering di-bully atau diadu berkelahi. Kupang bukan Pulau Semau sehingga ia bisa berlari pulang mengadu kepada orangtuanya.

    “Saya ingat pertama kali saya berkelahi di Oeba. Di Semau tidak pernah berkelahi. Di Kupang ini tiap hari anak-anak berkelahi. Tiap hari saya dipukuli dan diadu berkelahi. Saya harus melawan,” kenangnya. “Bagi saya ini alami. Orang yang ditekan terus-menerus hanya ada dua kemungkinan: menjadi pecundang atau dia melawan dan menang.”

    “Saya ingat pertama kali saya berkelahi di Oeba. Di Semau tidak pernah berkelahi. Di Kupang ini tiap hari anak-anak berkelahi. Tiap hari saya dipukuli dan diadu berkelahi. Saya harus melawan,” kenangnya.

    “Bagi saya ini alami. Orang yang ditekan terus-menerus hanya ada dua kemungkinan: menjadi pecundang atau dia melawan dan menang.” ujarnya.

    Setamat SMP ia pindah ke rumah seorang kakak perempuannya yang lain di Oepura. Kakak perempuannya itu menikah dengan Nomensen Muni, Lurah Oepura saat itu. Merekalah yang membiayai pendidikan SMA-nya. Namun Kupang bukanlah kota yang besar. Viktor telah mendapatkan namanya sebagai salah satu petarung jalanan di kota karang ini. Kakak-kakaknya kehabisan akal mengatasi kegemaran baku hantamnya.

    “Lama-lama saya terbiasa. Saya harus survive. Tidak ada yang membela saya di sekolah atau di jalan,” jelas Viktor.