Mengenal Viktor Laiskodat, Sosok Petarung Jalanan Yang Jadi Gubernur NTT (2)

    Editor : M N Ubay
    Victor Laiskodat. Foto/internet
    Victor Laiskodat. Foto/internet

    Online24, – Viktor Laiskodat, Gubernur terpilih provinsi NTT, dikenal sebagai sosok yang nasionalis. Politikus yang juga sebagai pendiri Yayasan Peduli Kasih (YAPEKA) juga dikenal sebagi pria yang pantang menyerah.

    Ia menjalani masa SMA nya di Oepura. Di sana ia tinggal bersama kakak perempuannya yang menikah dengan lurah Oepura saat itu.

    Pendidikan SMApun dijalani di dua sekolah. Setelah gagal ujian di SMA Sinar Pancasila tahun 1984, ia pindah ke SMA PGRI. Viktor mengakui ketidakseriusannya menjalani pendidikan.

    “Seumur hidup, saya ini sekolah serius hanya dua kali: SD dan S2,” kata Viktor yang baru saja menyelesaikan pendidikan Master pada Fakultas Pasca Sarjana UKSW Salatiga pada Januari lalu.

    Selepas SMA, Viktor mengganggur. Tak ada biaya kuliah. Walau sempat bekerja sebentar sebagai tenaga honorer di Kantor BKKBN NTT, ia memilih keluar. Pertarungan jalanan tetap menjadi kebiasaannya.

    Enam tahun menjalani hari-hari di jalanan kota karang, Viktor ingin mengadu nasib ke Jakarta, pilihan populer anak-anak Kupang saat itu. Kakaknya Ance mencari jalan agar adiknya bisa merantau ke Jakarta.

    “Kalau lu model begini lu pi Jakarta bisa hidup,” kata Viktor mengenang ungkapan kakaknya. Hampir tiap pagi sang kakak ke pelabuhan mencari tahu jika ada kapal yang berangkat ke pulau Jawa.

    Niat itu akhirnya terwujud. Pada 12 Maret 1991, berbekal uang Rp 60.000 yang dipinjam dari seorang kerabat, Viktor meninggalkan Kupang menumpang sebuah kapal hewan.

    Di atas kapal Pulau Sebuku ia tidur di atas jerami makanan sapi-sapi. Enam hari kemudian kapal kayu ini berlabuh di Kali Mas, Surabaya. Keesokan harinya, ia langsung melanjutkan perjalanan dengan bus Damri ke Jakarta.

    Kemampuan survive sang Viktor tampak mengiring sepanjang jalan. Ia tak perlu membayar ongkos bus. “Saya bilang saya preman Cililitan, jadi gak berani ditagih ongkos. Tapi saya bantu-bantu nagih, jadi dikasih makan dalam perjalanan ke Jakarta,” kenang Viktor.

    “Turun di Cililitan jam 11 pagi, 19 Maret 1991,” ingatannya jelas tentang saat pertama menjejakkan kaki di Ibukota.

    Berbekal alamat di sepotong kertas, Viktor mencari alamat keponakannya yang merupakan anak dari Ance Ataupah Amtiran bernama Mese Ataupah yang sedang menempuh pendidikan di Jakarta. Ia meminta pertolongan seorang anggota polisi yang ia temui di jalan. “Saya bawa dua botol madu Amfoang. Saya bilang kalau pak ketemu ini alamat, pak dapat satu botol saya dapat satu,” kata Viktor. Sang polisi sukses mencari alamat tersebut.

    Di Jakarta, pertarungan hidup sesungguhnya dimulainya. Pekerjaan pertama di ibukota adalah menjadi satpam di sebuah pabrik rotan. Hanya dua bulan di pabrik itu, ia pindah ke grup swalayan Hero juga sebagai satpam. Di Heropun ia tak betah.

    Viktor terus bekerja serabutan untuk menghidupi dirinya. Setelah berganti sejumlah pekerjaan, akhirnya Viktor mulai mengenal dunia penagihan hutang (debt collector). Keberanian dalam dirinya cukup menjadi modal sebagai penagih.

    Dengan uang yang didapat dari penagih utang ini, Viktor melanjutkan pendidikan di bidang hukum, impian masa kecilnya. Ia menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Hukum Indonesia.

    Namun, pekerjaan ini jualah yang membawanya ke balik jeruji besi. Sebuah order penagihan dari seorang yang dihormatinya, membawanya pada dakwaan melakukan penganiayaan dan penculikan terhadap seorang pengusaha yang menunggak utang ke Bank Panin. Demi orang tersebut, Viktor ‘pasang badan’.

    “Ketika itu kami sekitar 20 orang melakukan pemukulan beramai-ramai. Namun saya harus memikul tanggungjawab,” ungkap Viktor.

    Solidaritas dan setia kawan adalah ciri yang melekat pada Viktor. “Dia keras tapi sangat solider. Ia bahkan tak segan-segan mengorbankan diri untuk teman, dia sangat pemaaf dan cepat melupakan. Orang yang pernah menjadi musuhnya bisa berbalik menjadi teman baiknya, sulit mencari orang seperti dia.,” kata Thalib Makarim, salah seorang sahabat Viktor.

    “Dia keras untuk perubahan, dia keras terhadap anak-anak yang tidak punya semangat juang di Jakarta, misalnya. Bahkan untuk dirinya sendiri dia keras, dia tak akan makan sebelum tuntas kerja. Kita butuh orang seperti ini dan mungkin 50 tahun ke depan belum tentu kita ketemu orang dengan karakter, semangat juang dan kualitas seperti Viktor,” kata Thalib yang mengenal Viktor sejak awal tahun 1990-an.