Mengenal Viktor Laiskodat, Sosok Petarung Jalanan Yang Jadi Gubernur NTT (3)

    Editor : M N Ubay
    Victor Laiskodat. Foto/internet
    Victor Laiskodat. Foto/internet

    Online24, – Bukan Viktor Laiskodat namanya jika harus menyerah akan jalan hidupnya. Ia tetap berjuang dan memperbaiki hidupnya meski ia harus berada di dalam jeruji besi.

    Justru di dalam penjaralah Viktor menemukan makna hidupnya. Ia menawarkan diri kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan untuk menjadi ketua blok narapidana hukuman mati, Blok 4A. Ketua sel sebelumnya, pak De, terdakwa pembunuh Dietje, mengundurkan diri karena tak mampu mengatasi 32 orang terpidana mati.

    “Disiplin dan aturan sama sekali absen dari blok ini. Hari pertama, mereka lempar wajah saya dengan tinja manusia. Saya diam saja. Ada orang Jerman yang tiap hari pukul orang, ada jawara dari Banten yang membantai satu keluarga, ada guru yang memutilasi istrinya,” tutur Viktor.

    Upaya Viktor menerapkan disiplin ditertawakan. Mereka balik menantangnya. “Mereka lihat masa hukuman saya: “tiga tahun? Tiga tahun kau mau perintah-perintah kami. Ini mati semua di sini, tahu!,” kata Viktor menirukan reaksi para penghuni blok 4A.

    Sekali lagi, anak Semau ini membuktikan bahwa hal-hal besar lebih dilakukan melalui keberanian daripaa melalui hikmat. “Hari ketika jadi hari penentuan. Mereka atau saya yang mati. Saya mengunci gerbang blok dan malam itu menjadi malam penentuan,” tutur Viktor

    Malam itu, dua orang narapidana yang paling ditakuti, penghuni sel 39 dan 40, dilarikan ke rumah sakit dalam keadaan terluka. Tiga puluh delapan yang lain tak punya pilihan selain tunduk pada pemimpin baru mereka. Sang Viktor mulai mendapatkan respek sebagai pemimpin di kalangan terpidana mati.

    Keesokkan harinya para penghuni Blok 4A menjadi tertib teratur. “Hukumya adalah tiap hari kalian boleh bunuh saya dan saya boleh bunuh kalian. Hukum kita cuma itu,” katanya kepada para penghuni blok.

    Blok yang paling ditakuti itu kemudian bukan hanya menjadi blok paling bersih, teratur dan disiplin, tetapi juga paling mandiri. Berbagai jenis penataan dilakukan. Piket pembersihan blok diberlakukan, para narapidana bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan makan mereka, kualitas makanan ditingkatkan dengan hadirnya seorang chef yang juga adalah seorang narapidana.

    Tetapi lebih daripada segala keteraturan itu, hubungan emosional dengan sesama pesakitan menjadi kuat. “Selama di dalam ada dua orang yang menemui waktu eksekusinya. Beta son bisa tidur [menjelang eksekusi]. Dong nangis peluk beta. Sebagai pemimpin, lepas dari segala kekurangan beta, kotong su jadi satu. Tapi beta sonde mampu untuk bela sang dong. Son bisa lai. Beta hanya bisa bisik ke petugas: kalau bisa, siapapun yang nembak harus tepat ya pak. Dorang diambil jam dua pagi. Beta antar sampai depan. Padahal sonde boleh sebenarnya tapi beta minta beta antar,” kata Viktor mengenang dua temannya yang dieksekusi mati.

    Saat Viktor menyelesaikan masa tahanannya, para terpidana mati seakan enggan melepasnya pergi. “Waktu beta keluar dong pelok beta ko semua menangis. Sejujurnya beta menemukan beta pung hidup di penjara. Arah balik itu di penjara,” akunya.

    “Satu bulan sebelum keluar, saya tahu Tuhan kasih saya sesuatu,” akunya. Selepas jeruji besi di tahun 1997 justru memberi kekuatan lebih kepada Viktor. Ia melanjutkan kuliah ilmu hukum yang ditinggalkannya.

    “Saya harus menjadi ‘orang’ agar saya bisa berbuat bagi orang lain,” tekadnya sejak itu. “Saya bilang ke anak-anak yang biasa bersama saya: ‘Kalian harus sekolah, karena saya akan menjadi orang lebih hebat dari sekarang. Kita tetap jadi debt collector tapi harus sekolah’,” cerita Viktor.

    Teman-temannya malah mengira ia mengalami stress. “Padahal maksud saya: kalau saya bisa atur orang yang sudah tidak ada harapan saja akhirnya hidupnya berbalik dan jadi manusiawi, masak kita atur orang yang punya harapan gak bisa? Itu keyakinan saya. Sejak itu saya yakin saya bisa mengurus manusia,” jelasnya.

    “Kalau orang tanya saya: you pernah pimpin apa? Saya akan jawab: Saya gak tahu kamu pimpin di mana dan sebesar apa, tapi lu belum pernah pimpin orang mati. Saya mempimpin sebuah blok mati! Dan tempat itu lama-lama jadi tempat terbaik sehingga semua orang berebutan mau ke situ.”

    Viktor tak pernah menyembunyikan semua cerita hidupnya. Ia tahu benar arti peribahasa ‘siapa yang menyembunyikan masa lalu tak akan mempunyai masa depan.’

    “Itu hidup saya, saya utuh dalam hidup saya dan karakter saya di situ. Karena itu orang pernah minta untuk hilangin data saya di Google dan sebagainya saya gak mau. Itu sejarah hidup saya, tidak boleh hilang. Hitam putih, itu saya. Anak cucu saya harus ngerti, macam apa kakeknya.”