Mengenal Viktor Laiskodat, Sosok Petarung Jalanan Yang Jadi Gubernur NTT (4)

    Editor : M N Ubay
    Victor Laiskodat. Foto/internet
    Victor Laiskodat. Foto/internet

    Online24,- Pernah di penjara tak membuat Gubernur NTT terpilih, Viktor Laiskodat berkecil hati. Ia justru semakin bangkit usai keluar dari dalam jeruji besi.

    Keberuntungan memang selalu selalu berada di pihak mereka yang berani. Perlahan tapi pasti, ia melebarkan sayap jaringan usaha hingga mendapat posisi tinggi di sejumlah perusahaan. Perusahaan-perusahaan dimana ia menjadi tukang tagih atas piutang mereka, menghitung jasa tagihan Viktor dalam bentuk saham.

    “Waktu itu lagi trend perusahaan memberi hutang bahkan ada yang sampai trilyunan rupiah,” jelas Viktor. Maka jadilah ia pemegang saham dalam sejumlah perusahaan. “Ini mungkin untuk pertama kalinya seorang preman melakukan hal ini,” akunya.

    Setelah menyelesaikan pendidikan hukum di tahun 2000 ia mendirikan kantor pengacara sendiri. Selain menjadi komisaris di berbagai perusahaan, Viktor juga mendirikan sejumlah yayasan nirlaba, yang semuanya digunakan untuk menyalurkan berkat yang diperolehnya.

    Keberhasilan yang diraih dalam tempo yang relatif singkat itu, membawa banyak isu tak sedap, terutama kedekatannya dengan pengusaha Tomy Winata. “Orang gak percaya maka mereka bangun isu bahwa saya menikahi anak Tomy Winata. Mana ada? Orang kalau kawin sama anak bos atau saudaranya bos, dia malah gak akan laku,” jelas suami dari Juliet Sutrisno ini.

    Kedekatannya dengan pihak militerpun tak luput dari gunjingan. Tapi Viktor punya penjelasan tersendiri. “Memang hidup saya itu di situ. Kami Artha Graha itu memang dibangun oleh tentara. Basic awal bisnis itu dari tentara. Pak Tomy [Tomy Winata, red] dekat tentara ya otomatis jaringan saya menuju ke situ,” jelasnya.

    “Rata-rata properti kami itu dulu dipakai oleh kelompok-kelompok tertentu untuk bisnis perjudian. Itu properti dan bukan kami yang menjalankan. Kenapa itu dilakukan? Karena negara membutuhkan untuk operasional di Aceh. Bukan karena kami yang mau cari uang. Tak satu sen pun masuk ke kantong kami. Di saat Reformasi, tidak seperti di jaman pak Harto dimana ada stand-by anggaran, maka salah satu pilihan pemerintah itu adalah perjudian. Jadi judi dibuka di Jakarta itu bukan untuk kepentingan ekonomi siapa-siapa tapi untuk kepentingan operasional Jakarta untuk Aceh waktu itu,” jelasnya.

    Bagi Viktor, hubungannya dengan dua orang penting dalam hidupnya, Tomy Winata dan Surya Paloh, bukanlah hubungan kerja, melainkan hubungan guru dan murid.

    “Mereka idola saya. Karakter mereka tegas, jujur, ngomong apa adanya. Dan mereka tidak pernah give up dalam setiap kegagalan hidup. TW pernah bangkrut dua kali tapi bangkit lagi. Surya Paloh berkali-kali gagal. Tapi malah mereka bangkit dan makin bertumbuh,” jelasnya.

    Seorang pemberani, seperti Viktor, dapat saja jatuh, tapi ia tak gampang menyerah. Dua kali bangkrut di tahun 2000 dan 2005 namun ia bangkit kembali.

    Viktor mewarisi keteguhan sikap sang ayah. Darah politik mengalir dari sang ayah yang adalah seorang ketua PDI di jaman Orde Baru. “Bapa itu manusia setia terhadap profesinya. Dia itu mau kampanye hanya lima orang, dia pidato mati pung. Saya hidup di situ, dan memahami politik itu di PDI. Dari Parkindo lalu PDI,” kenangnya.

    Langkahnya ke kursi gubernur bukanlah langkah yang pertama. Ia pernah dicalonkan oleh partai Golkar menjadi Gubernur NTT periode 2003-2008, namun kalah satu suara dari Piet A. Tallo. “Dulu itu saya gak merasa sebagai sebuah kegagalan. Itu bukan bad loser. Itu good loser. Dan saya melawan seorang yang luar biasa,” akunya.

    Pasca kekalahan dari Piet Tallo, ia memutuskan masuk Golkar atas dorongan Ruben Funay dan Ibrahim A. Medah. Ia langsung dicalonkan menjadi anggota DPR RI dan terpilih untuk periode 2004-2009.

    Kami Baku uji

    Viktor memang telah menjadi buah bibir soal keberaniannya, tapi tak banyak yang tahu soal kedetakatn anak Semau ini dengan Sang Khalik. Tak seperti lazimnya kebanyakan pentobat, kedekatan itu bukanlah didapatkannya ketika dipenjara.

    “Dalam satu kesempatan, hidup saya begitu susah setengah mati, itu di awal 1997. Saya baca di Maleakhi 3: 10 “bawalah kepadaKu sepersepuluh dari hasil usahamu agar dalam rumahmu tidak berkekurangan dan ujilah Aku Tuhan semesta alam apakah Aku tidak akan membuka tingkap-tingkap di langit agar engkau berkelimpahan. Aku akan mengusir belalang pelahap daripada hidupmu,” katanya dengan fasih tentang ayat Alkitab ini.

    “Saya tidak tertarik yang lain”, lanjutnya. “Saya tertarik dengan ‘ujilah Aku’ itu, maka sejak itu saya dengan DIA baku uji sampai hari ini. Dan sejak itu saya tahu bahwa saya bertumbuh terus jatuh, bertumbuh jatuh. Jatuh itu cuma latihan agar bisa naik lebih tinggi. Dan sejak itu kedekatan hubungan saya dengan DIA luar biasa,” jelas Viktor.

    Viktor mendirikan persekutuan doa yang menjadi sarana penyejuk rohani ribuan anak asuhannya yang sehari-hari bergelut dengan kerasnya Jakarta. Hingga hari ini semua kegiatan sosial dan kerohaniannya terus bertumbuh mengiringi kesuksesan hidupnya.

    Sebagaimana kata Josef Nae Soi, Viktor adalah orang yang menemukan kehidupan. “Hidup dia bergejolak tapi sekarang dia menemukan kehidupan, bukan hidup saja. Banyak orang yang tidak pernah menemukan kehidupan,” kata mantan Staf khusus Mentri Hukum dan Perundang-undangan ini.

    “Sekarang dia komplit. Diskusi apa saja pasti dia bisa ladeni, dan dia apa adanya, tidak menutup-nutupi. Selalu ada pemikiran yang original, itulah orang yang menemukan kehidupan. Hidup biasa, seringkali hanya contek sana contek sini, tapi orang yang menemukan kehidupan pasti original. Kalau orang lain tidak mungkin saya bersedia maju jadi wakil,” kata Nae Soi tentang sahabatnya ini.

    Karakter Viktor memang tergambar dalam dua tokoh politik yang ia kagumi: Nelson Mandela dan Vladimir Putin. Baginya, Mandela adalah contoh sempurna pengampunan yang membawa kebaikan dan Putin adalah contoh sempurna dari kemampuan membangkitkan kembali pride (kebanggaan) di saat sebuah bangsa yang terpuruk.

    “Putin punya kharakter yang kuat dan membangun pride di saat orang menganggap remeh Rusia. Saat Uni Soviet pecah, Cina dan Amerika Serikat memandang sebelah mata Rusia. Tapi sekarang Rusia ditakuti oleh Cina maupun Amerika.”

    “Mendela mengalami penderitaan dan tidak membuat penderitaan itu menjadi alasan untuk membalas. Duapuluh tujuh tahun dalam penjara, tapi dia tidak membalas. Itu luar biasa. Musuhnya diampuni dan Aftika Selatan terbang.”

    “Dan saya suka dia punya quote: ‘I’m the master of my fate, I’m the captain of my soul’.” [saya adalah tuan dari nasib saya, saya adalah kapten dari jiwa saya, red].

    Pemimpin yang Legitimate

    Kini, anggota DPR RI ini maju lagi sebagai calon gubernur NTT periode 2018 – 2023. Bagi Viktor, tugas yang menanti seorang gubernur NTT adalah bagaimana membuat NTT maju secara ekonomi dan pada saat yang sama membangkitkan harga diri orang NTT.

    “Kemampuan seorang kepala daerah, khususnya gubernur NTT bukan hanya me-manage dan mengarahkan seluruh potensi daerah tapi dia juga harus mempunyai jaringan nasional maupun internasional yang luas,” jelas Viktor.

    “Itu akan membuat dia cepat bergerak menyelesaikan urusan-urusan di daerah. Karena khusus untuk NTT kita hidup 95 persen itu dari pusat. Jadi kalau kita bisa menyelesaikan urusan internal kita maka kita akan mengurangi beban pusat.”

    Bagi Viktor sejumlah perusahaan ini, kepemimpinan itu bukan soal jabatan atau posisi. Kriteria pertama seorang pemimpin adalah legitimasi atau pengakuan. ”Pemimpin yang benar adalah pemimpin yang legitimate yaitu pemimpin yang diakui entah ada atau tidak ada jabatan, selalu melayani,” jelasnya. “Yang sering terjadi, ada jabatan tapi tidak legitimate. Bahaya ini. Banyak orang dipilih karena janji mau bikin ini dan itu”.

    “Jangan hanya menunjukkan peduli sama orang kalau lagi maju. Harus asli. Dari dulu hidup lu udah begitu. Kalau lihat orang susah ya urus. Bukan kalau mau maju aja,” jelasnya.

    Kriteria kedua dari seorang pemimpin, menurut Viktor, adalah visi. “Visi saya adalah bagaimana membangkitkan masyarakat NTT dari tidur panjang. Delapan puluh persen orang NTT begitu selesai sekolah mau jadi PNS. Karena itu banyak sarjana yang nganggur sepanjang masa. Atau menjadi tenaga honorer sepanjang hidup. Ini yang kita mau ajak bangkit. Bangkit dari masalah yang membuat dia tidak pernah lihat dunia lain selain PNS.”

    “Tidak baik orang cuma punya satu pilihan. Kita musti punya beberapa pilihan sehingga kemampuan kita diuji. Mengapa pilihan itu tidak ada? Karena pemimpin tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan.”

    Karena itu, menurutnya, lapangan pekerjaan harus dibuka atas dasar kekuatan sumber daya daerah. Salah satu sumber daya daerah yang mampu menciptakan lapangan pekerjaan yang besar adalah industri garam. Industri ini harus dikerjakan secara massive untuk memenuhi 4.2 juta metrik ton yang diimpor oleh Indonesia. “Kita harus kerja 1.5 juta metrik ton baru bisa. Kalau kita bisa mampu suplai itu, maka sedikit-sedikitnya 15 ribu tenaga kerja terserap.”

    Menurut Viktor, garam industri menjadi pilihan yang tepat bagi NTT karena pasokan garam dalam negeri dikuasai oleh mafia. “Karena industri garam besar sudah dikerjakan di Tiongkok, India, Australia, mereka tinggal suplai dan pemerintah bayar. Itu dikendalikan oleh mafia,” jelasnya.

    “Siapapun yang jadi gubernur, dia harus lebih giat daripada para mafia. Dia harus mampu bicara dengan Presiden, stop impor garam! Ini ndak mungkin kalau pemimpin tidak punya keberanian. Ini tidak bisa menyelematkan orang.”

    “Ada orang berani tapi bodoh. Hanya nekad. Mati semua. Ada juga yang pintar, berani tapi rakus. Ini hancur. Kerjanya maling terus. Apa saja diambil.”

    “Orang seperti itu tidak bisa bangun NTT. You bangun NTT kalau rakus ndak bisa. You bangun NTT tapi tidak ada kecerdasan tak bisa. You bangun NTT tapi tidak ada keberanian tak bisa. Ini daerah, daerah susah, you musti berani untuk melawan dengan pusat. Bikin ini, bikin itu, kalau tidak saya tabrak.”

    Selain bicara soal industri garam, manajemen pariwisata yang modern dan profesional, ia juga bicara soal sejumlah kesempatan di depan mata yang harus ditangkap NTT antara lain bagaimana menangkap peluang menyediakan logistik blok Masela yang bernilai satu milyar US Dollar serta rencana pemindahan Observatorium Lembang yang bernilai Rp 40 trilyun ke wilayah sekitar gunung Timau.

    “Ini kerja untuk masa depan. Sebuah masa depan itu harus kita rebut. Tidak bisa duduk dan melihat masa depan saja, harus direbut! Jadi langkah pertama kita rebut dulu kekuasaan. Kekuasaan ini bukan kita pakai untuk senang. Kita butuh pemimpin dengan leadership yang kuat. Percuma jadi pemimpin kalau semuanya cuma janji. Analoginya, yang kita siapkan adalah sebuah kapal induk NTT. Karena kapal induk maka nahkodanya harus berani dan berdiri tegak di sana punya kemampuan.”

    Bagi Viktor, kepulangannya ke NTT adalah sebuah bakti. “Saya baktikan apa yang telah saya dapatkan selama ini ke NTT. Fokusnya kepada bagaimana melayani. Kalau saya jadi gubernur maka saya akan menggunakan seluruh potensi dalam diri saya agar semua itu bisa membawa NTT sejahtera.”

    Bakti itu ia jalani dengan sadar dan siap akan kosekwensinya. “Saya datang mencoba mengambil kekuasaan dan memanage kekuasaan itu menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat NTT. Tapi kalau rakyat dan Tuhan berkehendak lain, ya tidak ada masalah dan saya tetap berkarya untuk NTT. Minimal [upaya saya] sudah termaafkan. Saya telah berusaha untuk meyakinkan bahwa inilah jalan keluar kita,” katanya enteng.