“I Ma’ddi Dg. Rimakka” Cermin Harga Diri Yang Berakhir di Ujung Badik

Editor : Muh. Idris
Pertunjukan Teater
Pertunjukan Teater "I Ma'ddi Dg. Rimakka"

Online24,Makassar – Pertunjukan Teater I Ma’ddi Dg. Rimakka yang dipentaskan di gedung Societte de Harmoni merupakan pertunjukan yang memperlihatkan “Taktik devide et empera” yang diterapkan Belanda untuk menguasai Turatea dari kedaulatan perikatan keluarga para karaeng yang gagah berani. Pada masa lalu.

Harta, ternak Karaeng Bontotanga yang disiapkan untuk hajatan keluarga, dicuri oleh orang suruhan Belanda. Dihembuskan issu bahwa I Maddi Dg Ri Makka, keponakan yang akan dinobatkan sebagai Raja Turatea oleh Sombaya Ri Gowa, sebagai dalangnya.

Keluarga yang diutus kepada I Maddi untuk menagih atau meminta ganti, justru memicu siri akibat fitnah dan siri sebagai orang yang tertagih. Karena utusan tiada berhasil, Kr Bontotanga, Paman yang terprovokasi, dengan ditemani beberapa tobaraninya datang menagih demi menegakkan sirinya atas ancaman gagal pesta akibat pencurian itu.

Sama-sama menegakkan siri, keduanya bersepakat untuk mentutaskannya dengan ujung badik. Bujukan ibunda dan isterinda I Maddi untuk membayar saja tagihan penggatian harga ternak demi kelangsungan penobatannya sebagai Raja Turatea, di tolak. Ia pun pamit dengan meminta Ibunda dan Isterinya mennyiapkan segala upacara terkait kemungkinan ia pulang sebagai mayat.

Pertarungan Paman dan Keponakan, dua ksatria Turatea yang sakti dan gagah berani, berakhir dengan tewasnya I Maddi sang Keponakan.

Merasa bersalah karena ulahnya menimbulkan kematian raja terpilih Turatea, pencuri utusan Belanda mengaku. Maka terpiculah semangat isterinda , dan dengan ditemani adinda I Maddi, ia melakukan serangan ke Bontotanga, lalu merangsek dan berhasil memenangkan perang kepada Belanda..

Sutradara Fahmi Syarif mengangkat dengan fasih idiom perilaku dan adat di Turatea termasuk menampilkan simbol-simbol Kekaraengan yang dikelilingi oleh para tobarani, petarung dan pemberani. Jamal Dilaga sebagai I Maddi dan Hamrin Samad sebagai Kr Bontotanga patut diacungi jempol yang membuat tontonan ini penuh ketegangan, dan juga menarik karena dukungan pemain-pemain lain yang berpengalaman.

Illustrasi musik dan bunyi bagus, namun tata suara agak mengganggu misal suara kuda yang datang terdengar selalu dari arah kiri, tapi penunggang kudanya muncul selalu dari kanan. Tata busana Makassar tidak terlalu susah ditampilkan, tapi desainernya perlu menyesuaikan bahwa para karaeng dan tobaraninya ini berkuda tanpa pelana.

Pertunjukan yang menarik disaksikan ditengah lesuhnya dunia berkesenian di Makassar.

“Selamat…DKM ke 48 Tahun, masih menunjukkan eksistensinya, para penggiatnya dan pengurus-pengurus pendahulu yang semakin gaek masih datang bernostalgia.”

Pengamat Kesenian : Soeprapto Budi Santoso