Mantan Kapten Kriket Menang, Pemilu Pakistan Terancam Diulang

Editor : Aris Munandar
Para pemimpin partai termasuk Shahbaz Sharif dari PML-N (ke-2 kiri) dan Maulana Fazalur Rehman dari MMA (ke-2 kanan). (foto: BBC Indonesia)
Para pemimpin partai termasuk Shahbaz Sharif dari PML-N (ke-2 kiri) dan Maulana Fazalur Rehman dari MMA (ke-2 kanan). (foto: BBC Indonesia)

Online24, Makassar – Sekelompok partai politik Pakistan menolak hasil pemilihan umum pada hari Rabu yang akan membawa mantan pemain kriket Imran Khan ke tampuk kekuasaan. Pemilihan itu dilihat sebagai kontes antara Partai Pakistan Tehreek-i-Insaf (PTI) Imran Khan dan Pakistan Muslim League-Nawaz (PML-N) Shahbaz Sharif.

Dilansir BBC Indonesia, dengan perhitungan suara terbanyak, partai Khan memimpin dengan 115 kursi di 272 konstituen Majelis Nasional yang diperebutkan, jauh di depan PML-N sebanyak 64 kursi.

Di tempat ketiga dengan 43 kursi adalah Pakistan Peoples Party (PPP) yang dipimpin oleh Bilawal Bhutto Zardari. Sebanyak 137 kursi diperlukan untuk mayoritas dan sementara Khan berada di jalur untuk menjadi perdana menteri, ia harus membentuk pemerintahan koalisi.

Khan, 65 tahun, menghadapi tuduhan bahwa kampanyenya mendapat dukungan militer Pakistan yang kuat, klaim yang dia dan tentara bantah.

Pada hari Jumat, tim pemantau Uni Eropa mengatakan ada “kekurangadilan” dalam kampanye pemilu. Di hari yang sama, AS menyatakan keprihatinan tentang “cacat” dalam proses kampanye.

Pada Kamis, Khan yang menjadi kapten Pakistan pada kemenangan Piala Dunia 1992 – mengatakan pemilihan itu merupakan “pemilihan paling jelas dan paling adil yang pernah dimiliki Pakistan”.

Namun setelah pembicaraan bersama di Islamabad, seorang pemimpin partai mengatakan mereka akan meluncurkan protes untuk menuntut pemilihan baru.

Pemimpin Shahbaz Sharif, saudara mantan PM Nawaz Sharif yang berada di penjara atas tuduhan korupsi, mengatakan partai itu belum memutuskan apakah akan memboikot parlemen.

Duduk di sampingnya di sebuah konferensi pers, Maulana Fazalur Rehman, pemimpin partai MMA dan juru bicara kelompok partai oposisi, mengatakan: “Kami akan menjalankan gerakan untuk mengadakan pemilihan lagi. Akan ada protes.”

Para pemimpin dari lebih dari sepuluh partai akan membentuk strategi bersama setelah pemilihan umum.