Jual Beli Sel Mewah

Editor : Muh. Idris
Ikbal Tehuayo, Kader PMII FKM UMI.
Ikbal Tehuayo, Kader PMII FKM UMI.

Online24,Makassar – Mutakhir ini kita di kejutkan oleh peristiwa yang terjadi di lemmbaga pemasyarakatan ( lapas ) suka miskin. Barang-barang yang dilarang untuk dibawa ditemukan di kamar narapidana saat Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM melakukan sidak di Lapas Sukamiskin Bandung, Jawa Barat, Minggu (22/7/2018).

Kita kemudiaan dikejutkan dengan kunjungan Mbak Nana ( Sapaan akrab Najwa Sihab ) yang mana menunjukan kamar-kamar tersebut sangatlah mewah. Mengapa mewah? Ya karena terfasilitasi segalanya. seperti, dispenser kipas angin, parfum dan bahkan tempat tidur yang empuk.

Hal ini tentunya di luar ekspetasi kita selama ini tentang lembaga pemasyarakatan
(Lapas). Hal ini tentunya sinkron dengan temuan petugas Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM melakukan sidak di Lapas Sukamiskin yang menemukan berbagai barang, mulai dari uang, televisi, lemari pendingin, kompor, microwave, katel, panci, spatula, handphone, hingga AC.

Setelah penulis menyaksikkan tayangan salah satu televisi swasta tersebut dimana terdapat beberapa tahanan yang menyimpan uang saku dengan jumlah fantastis. Hal ini tentunya membuat penulis bertanya-tanya dengan alasan apa tahanan tipikor mengantongi uang tersebut. Terlihat pula petugas dengan cepat menyita uang tersebut. Peristiwa ini membuat kita mesti membuat sebuah hipotesa apakah tak ada pengontrolan petugas Lapas Sukamiskin?.

Lucunya sebagian dari mereka (Tahanan) benar-benar mengetahui kalau hal tersebut
merupakan suatu pelanggaran, sebab negara memberikan jaminan uang sebanyak Rp.15,000. Perharinya dari anggaran pendapatan dan belanja negara ( APBN ) kepada tahanan untuk kebutuhan makannya.

Tragisnya Setia Novanto dan Nazarudin tidak menempati selnya pada saat kunjungan Najwa ke Lapas Sukamiskin, selain itu menurut Najwa tak ada pula tumpukan baju layaknya sudah dihuni sejak awal masuknya ke dalam kamar tahanan itu. Walaupun Setia Novanto sendiri telah mengungkapkan kalau kamar yang ia tempati sekarang adalah kamar tahanan sejak awal ia masuk ke lapas. Namun Mentri Hukum dan HAM mengonfirmasi bahwa kecurigaan Najwa benar adanya.

Tak sampai disitu, informasi yang diterima oleh Najwa Sihab, bahwa kamar tahanan Setya
Novanto seharusnya berada di kamar nomor 3 blok timur Lapas Sukamiskin dengan
kamar yang sangat luas dan celakanya juga seringkali ada mobil yang datang, membawa
perlengkapan kedalam kamar tahanan tersebut.

Menurut hemat penulis, adanya praktik amplop mengampolopi menjadi penyebab utama.
Maka dengan bebas para tahanan melakukan tindakan- tindakan yang kerap kali melanggar aturan. Kalau sistem pengawasan masih terus larut seperti ini dan tidak secepatnya diperbaiki, tentunya akan mengundang emosi bangsa ini untuk terkocok. Bagaimana tidak, representasi keadilan tentunya tak ditemukan dibalik upaya penegakan hukum dimana para koruptor yang telah dijatuhi hukuman masih bisa tidur dengan nyenyak. Jangan kaget jika masyarakat memandang lembaga pemasyarakatan, hanya tempat yang layak dianggap penginapan sementara, untuk menghilangkan lelah dari banyaknya aktifitas politik yang mereka jalani.

Petugas lapas dalam melaksanakan tugas pengawasan terhadap para tahanan, agar janganlah tidur di saat waktu kerja, sebab di pundak kalianlah para tahanan itu dititipkan, untuk dibina sehingga ketika dibebaskan nanti, semua kejahatan yang pernah ia lakukan itu bisa dikuburkan, dan kembali menjadi insan yang lebih ber akhlak, dalam menjalankan tugas dan berbakti kepada negara, bukan sebaliknya yang menjadi ganas dari kejahatan sebelumnya, nah kalau masih juga ada para tahanan setelah kembali atau di pulangkan kepada keluarganya dan masih seperti dahulu, maka tentunya akan menjadi perbincangan publik, dan menanyakan bagaimana cara pembinaan tahanan selama di dalam lapas ,tentunya akan mendatangkan penilaian buruk terhadap lapas tersebut.

Menurut hemat penulis, ciri lembaga pemasyarakatan (Lapas) yang telah tergambarkan di
atas dengan para tahanannya, bila tidak secepatnya mendapatkan peringatan yang tegas, maka perlahan lembaga pemasyarakatan (Lapas) tersebut tidak mampu lagi untuk
menyampaikan pesan moral kepada masyarakat pada umumnya dan para pejabat khususnya, untuk meninggalkan korupsi di negeri ini, sebab tak ada bedanya hidup di penginapan dengan di dalam penjara. Lantas jika begitu adanya, mengapa harus Lapas di bangun oleh negara?

Patut kita pertanyakan pula dimana implmentasi dari Undang-undang tentang masa tahanan, hukuman, maupun denda terhadap para koruptor, bila hanya nanti pada akhirnya koruptor itu tersenyum, gembira, dan menertawakan hukum di balik kamar tahanan, sebab pada hakikatnya mereka tak di hukum. Lucunya lagi walaupun aturan-aturan tentang tipikor itu di rubah dari undang-undang no 31 tahun 1999 menjadi undang-undang no 20 tahun 2001.

Namun sampai sekarang tak mampu mendatangkan efek jerah. Mungkinkah ini adalah hasil dari perumusan undang- undang tipikor yang dilandasi oleh berat hati, yang melaksanakannya pula tidak sepenuh hati, sehingga kita akan menerima hasil yang menyakiti hati pula.

Sudah seharusnya ada ketegasan “full power” dalam menindak para koruptor di negeri ini.
Para benalu-benalu itu pantas dan sangat layak untuk dimiskinkan. Sebab perut mereka terus buncit, dengan merampas uang rakyat yang meyebabkan banyak yang melarat. Kalau hukum masih saja tumpul bagi mereka, sudah tentunya korupsi akan menjadi duri bagi negara ini, sehingga negara akan kurus dan mati.

Oleh : Ikbal Tehuayo, Kader PMII FKM UMI.