Angkat Kearifan Lokal, Inovasi Tiga Pendidik Harumkan Nama Parepare

Reporter :
Editor : Muhammad Tohir

Online24, Parepare – Inovasi dalam best practice yang dipersembahkan tiga orang pendidik di Kota Parepare berhasil mengharumkan nama kota tempat kelahiran Bj.Habiebie.

Uniknya, dua di antara tiga pendidik itu mengangkat nilai budaya atau kearifan lokal dalam ‘best practice’ yang “dijualnya”. Bahkan keduanya, merupakan Kepala sekolah dan guru di satu sekolah, yaitu Makmur Kepala Sekolah SMPN 4, dan Thamrin Guru Bahasa Indonesia SMPN 4 Parepare.

Makmur berhasil sukses meningkatkan minat baca siswa melalui program managemen ‘Padamacca’. Program yang berasal dari bahasa Bugis, yang berarti ‘semua Pintar’ ini merupakan program rekor baca, yang merupakan kependekan dari Program Budaya Gemar Membaca.

“Kami ingin mengangkat kearifan lokal, nama khas budaya kita. Ada kearifan lokal di daerah kita jika diangkat menjadi inovasi dapat meningkatkan minat baca siswa,” papar Makmur. Rabu (08/08/2018).

Sementara Thamrin, Guru mata pelajaran Bahasa Indonesia di SMPN 4 Parepare juga mengembangkan Keterampilan Berbicara Melalui Penerapan Teknik ‘Tudang Sipulung’. Tak hanya penanaman nilai budaya lokal dari ‘tudang sipulung’ namun nilai karakter, percaya diri dibentuk melalui teknik belajar tersebut.

“Jadi bukan hanya kognitifnya saja yang kita bentuk, tapi melalui teknik ini kita ingin menanamkan nilai karakter percaya diri dan penghargaan sesama melalui teknik ‘Tudang Sipulung’ dan terpenting penanaman nilai kearifan lokal yang terintegrasi dengan pendidikan karakter,” urai Guru, peraih penghargaan sebagai Pustakawan terbaik di Sulsel ini.

Selain keduanya, Kepala Sekolah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Yusrianti juga berhasil menjadi Kepala PAUD berprestasi terbaik di Sulsel melalui program penanaman pendidikan karakter bagi anak usia dini, dengan melibatkan orangtua dalam pembelajaran.

“Dalam setiap program sekolah, orangtua siswa kita libatkan. Mereka berperan aktif dalam setiap program sekolah. Di sekolah orangtua siswa punya komunitas, namanya Kelompok Persatuan Orangtua (KPO),” ungkap Yusrianti, Magister Pendidikan ini.