Terkait Kasus Tambang Emas Ilegal, Bareskrim Polri dan Polda Sulsel Amankan 3 Tersangka

Reporter :
Editor : Asri Muhammad

Online24, Makassar – Direktorat Tindak Pidana Tertentu Bareskrim Polri bersama Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sulsel berhasil mengungkap sindikat penambang emas illegal di wiliyah Timika, Papua. Dari pengungkapan itu, polisi menangkap tiga orang tersangka.

Para tersangka terbukti melakukan tindak pidana menampung, memanfaatkan, melakukan pengelohan dan pemurnian, penjualan mineral dan batu bara berupa emas yang bukan dari pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP). Dimana UIP merupakan izin resmi bagi perusahaan untuk beroperasi di Indonesia.

Kasus ini terkuak setelah anggota Dittipiter Bareskrim Polri membekuk seorang tersangka berinisial D (49), di Terminal Kedatangan Bandara Internasional Nasional Hasanuddin pada hari Kamis (25/5/2018) lalu. Dari tangan tersangka disita barang bukti berupa 15 batang emas lantakan 24 karat dengan berat sekitar 16,7 kilogram.

“Ungkapan pertama kami lakukan kita mengamankan tersangka D di Bandara terkait tindak pidana pelanggaran Undang-Undang mineral dan batu batu bara,” Kasubdit V Dittipiter Bareskrim Polri, Kombes Pol S. Putut Wicaksono dalam konfrensi pers di Mapolda Sulsel, Kamis (13/9/2018).

Sehari berikutnya, polisi melakukan pengembangan ke Toko Emas Bogor di Jalan Somba Opu Makassar untuk menangkap JFK (50).

“Kita melakukan pengembangan terkait tersangka D ini dengan pelaku yang di Toko Emas Bogor. Kita temukan 18 batangan emas besar dan kecil 24 karat dengan berat sekitar 16 kilogram,” lanjutnya.

Menurut Putut, aktivitas para tersangka yang saling bekerja sama dalam tambang ilegal dapat merugikan negara. Sebab, kata dia, bagi perusahaan yang memiliki IUP dari Kementrian ESDM sesuai dengan PP nomor 9 tahun 2012 tentang jenis tarif bukan pajak, seharusnya pemerintah mendapatkan pemasukan negara sebesar 3.75 persen untuk harga per kilo emas.

“Mereka saling bekerja sama dalam hasil tambang ilegal dari Timika. Hal ini merugikan negara karena setiap pengolah atau penampung emas harus mempunyai izin usaha pertambangan khusus penjualan dari Kementrian ESDM,” terangnya.

Sementara untuk ungkapan kedua, anggota Subdit IV Ditreskrimsus Polda Sulsel menangkap satu tersangka lainnya yakni A, 45 tahun. Ia juga dibekuk di Bandara Internasional Hasanuddin pada hari Senin (16/7/2018).

“Kami dapat informasi ada emas yang dibawa dari Timika menuju Makassar dan kami dalami lalu berhasil kami amankan. Barang bukti yang kami amankan adalah 10 batang emas dengan berat 8.6 kilogram,” ungkap Kasubdit IV Ditreskrimsus Polda Sulsel, Kompol Trihanto Nugroho.