Tim Medis Sulsel: Minimnya Pasokan Listrik dan Darah Hambat Operasi di RS Undata Palu

Editor : Aris Munandar

Online24, Palu – Tim medis gabungan Sulsel mengatakan terbatasnya pasokan listrik dan darah jadi penghambat proses operasi terhadap korban gempa dan tsunami di RS Undata, Palu, Provinsi Sulawesi Tengah.

Puluhan tim medis Sulsel yang merupakan gabungan dari FK Unhas, FK UMI, FK Unismuh, IKA FK UNHAS dan IDI Wilayah Sulselbar telah tiba di Palu untuk memberikan pertolongan kepada korban yang masih selamat usai gempa dan tsunami, Jumat (28/9/2018).

“Pukul 23.00 Wita (Minggu) operasi terakhir selesai di RS Undata pada hari kedua pasca gempa. Total 7 operasi diselesaikan hari ini,” kata perwakilan Tim Medis Sulsel, Dr Andi Alfian, Minggu (30/9/2018).

Ia mengatakan, awalnya akan mengaktifkan kamar operasi sebelum Minggu siang. Namun ternyata ada kendala yang memundurkan dimulainya operasi yakni kurangnya pasokan listrik yang hanya bergantung dari genset.

“Genset RS Undata telah mendapat suplai solar, sayangnya ternyata mengalami masalah teknis sehingga tidak bisa digunakan. Ruangan-ruangan yang walau dengan retakan dibeberapa tempat, telah kami nilai layak untuk digunakan, butuh suplai listrik yang cukup besar,” ungkapnya.

Beruntungnya, kata dia, tim bantuan yang tiba dari Makassar Senin pagi ini, datang dengan membawa sebuah genset. Walau demikian masih terkendala bahan bakar, karena genset kecil itu membutuhkan premium yang menjadi langka pasca gempa.

“Premium berhasil didapatkan walau dengan volume cukup terbatas. Dua kamar operasi di IGD RS Undata kami operasikan dengan genset ini,” tuturnya.

Ia menambahkan, pasien-pasien cedera extremitas telah mengantri untuk segera dioperasi. Enam operasi yang dapat dilakukan oleh tim orthopedi hari ini, dua di antaranya adalah kerjasama dengan tim obstetry.

“Prioritas tim dalam kondisi terbatas ini adalah pasien-pasien yang mengalami cedera dengan ancaman kematian tungkai dan infeksi berat. Satu kasus amputasi terpaksa dilakukan di tengah reruntuhan, untuk mengevakuasi seorang korban yang kakinya terjebak oleh reruntuhan,” urainya.

Selain itu, tim obstetri melakukan 7 pertolongan persalinan pervaginam sejak pagi. Ada dua pasien yang in-partu dan juga mengalami cedera tungkai bawah, sehingga terpaksa dilakukan SC sekaligus diberikan bantuan penangan orthopedi.

Kendala lain yang menjadi pertimbangan dalam pemilahan prioritas pasien adalah masalah bank darah. Tidak adanya informasi pemeriksaan lab darah, terutama kadar hemoglobin jadi hambatan tersendiri bagi tim medis.

“Hal ini menjadi pertimbangan karena hingga saat ini, unit transfusi dan bank darah belum berfungsi. Tidak ada persiapan darah sama sekali untuk persiapan operasi. Tim anastesi terpaksa melakukan seleksi ketat terhadap pasien dan tentunya persiapan optimal untuk intra dan pasca operasinya,” jelas Dosen Fakultas Kedokteran Unhas ini.

Kerja ketat dan terbatas sungguh menguras energi tim medis di lapangan. Cuaca panas ditambah terbatasnya air minum membuat anggota-anggota tim makin mudah lelah. Walau demikian semangat mereka, kata Alfian, untuk memberi pertolongan tidak padam.

“Saat hari gelap, panasnya udara berangsur turun. Hembusan angin memberi kesejukan. Namun, udara dingin yang datang juga disertai bau menyengat dari jenazah-jenazah korban yang mengalami pembusukan,” ujarny.

Ia mengatakan, baru sebagian kecil jenazah yang telah diidentifikasi oleh keluarga dan dibawa pulang untuk di makamkan.

“Tidak adanya Tim DVI di RS Undata memang menyulitkan proses penangan korban yang meninggal. Jika besok (Senin) tidak juga di makamkan, tentu jenazah-jenazah ini akan makin menimbulkan bau yang menyengat,” tandasnya.