Dibuka Jokowi, Rakernas LDII Gaungkan 8 Klaster Pembangunan

Editor : Aris Munandar

Online24, Jakarta – Presiden Joko Widodo menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Pondok Pesantren Minhaajurrosyidiin, Jakarta, Rabu (10/10/2018).

Hadir dalam kesempatan tersebut, Ketua DPP LDII Prof Dr KH Abdullah Syam MSc, kepala staf kepresidenan Jenderal (Purn) Moeldoko, para ulama, pengurus DPP LDII, pengasuh pondok pesantren dan sekolah yang berada di bawah naungan LDII, dan 1.500 pengurus LDII tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dari seluruh Indonesia.

Turut hadir Ketua DPW LDII Sulawesi Selatan Drs HM Hidayat Nahwi Rasul MSi, dewan penasihat, dewan pakar DPP LDII yang juga guru besar Universitas Negeri Makassar (UNM) Prof Dr Haryanto MPd, Ketua DPD LDII Kota Makassar Drs Renreng Tjolli MAg, para Ketua DPD LDII se-Sulawesi Selatan, Kepala SMA Budi Utomo Makassar Dede Nurrohim SPd, dan pakar pendidik Dr Triyanto MPd.

Menurut Ketua DPP LDII Prof Dr KH Abullah Syam MSc, Rakernas LDII bertujuan untuk mengkonsolidasikan program kerja LDII kedepan. “Sebagai lembaga dakwah, LDII dituntut memberikan kontribusi maksimal terhadap tujuan pembangunan nasional dengan cara mengembangkan SDM profesional religius,” ujar Abdullah Syam.

Kehadiran utusan LDII dari seluruh Indonesia di arena Rakernas, katanya, untuk mendapatkan pengarahan secara langsung dari presiden. “Nantinya, pengarahan dari presiden dapat digunakan untuk menyusun program LDII. Saya harap, kita semua dapat mengikuti acara ini dengan baik dan saksama,” ungkap Syam, panggil akrab Ketua Umum DPP LDII ini.

Abdullah Syam mengatakan, perihal musibah gempa bumi dan tsunami di Sulawesi Tengah, LDII telah menyalurkan bantuan. LDII telah menyalurkan bantuan dalam berbagai bentuk, mulai dari tenaga relawan, makanan, obat-obatan, dan genset. “Kita berdoa untuk korban bencana alam di Lombok, Palu, dan Donggala,” katanya.

Dalam Rakernas, LDII mengusulkan delapan klaster atau bidang pembangunan yang dapat dijadikan titik fokus pembangunan nasional. Adapun kedelapan bidang tersebut, antara lain bidang wawasan kebangsaan, keagamaan, pendidikan, ekonomi syariah, kesehatan dan herbal, ketahanan pangan dan lingkungan hidup, energi terbarukan, dan teknologi digital.

Pertama, yakni penguatan wawasan kebangsaan dengan menanamkan nilai-nilai luhur Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan NKRI. Inilah yang menjadi payung dalam pembangunan. “LDII menjadikan Pancasila sebagai asas organisasi agar terwujud masyarakat pancasilais yang mencintai negaranya sepenuh hati,” papar Abdullah Syam.

Kedua, bidang keagamaan dan dakwah, LDII dalam dakwahnya fokus dalam membentuk manusia yang profesional religius, yakni masyarakat yang memiliki sikap profesional dan dilandasi dengan religiusitas. Mereka bisa berprofesi apa saja namun juga memiliki religiusitas yang tinggi.

Ketiga, bidang pendidikan, LDII berkomitmen mendirikan sekolah-sekolah yang mendukung terciptanya generasi yang Tri Sukses, yakni generasi yang memiliki kepahaman agama yang kuat, memiliki akhlak yang mulia, dan mandiri. Sekolah-sekolah di LDII umumnya digabungkan dengan pesantren-pesantren. “Nilai-nilai Alquran dan Alhadis ditanamkan melalui pendidikan di pesantren,” ungkapnya.

Keempat, bidang ekonomi syariah, untuk penguatan ekonomi kerakyatan dengan memelopori koperasi syariah, Baitul Maal wa Tamwil (BMT), dan Usaha Bersama (UB). “Untuk menjauhi ekonomi ribawi, LDII merintis usaha berbasis syariah dengan membentuk BMT,” katanya.

Kelima, bidang kesehatan dan herbal, DPP LDII mendorong warga LDII memanfaatkan obat-obatan herbal sebagai alternatif pengobatan. Hal ini dilakukan untuk membantu pemerintah dalam mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani dan rohani. Obat herbal juga membantu masyarakat saat harga-harga obat menjadi mahal.

Keenam, bidang ketahanan pangan, LDII mendorong para petani menggunakan teknologi tepat guna, manajemen pertanian/pangan, dan penggunaan bibit unggul. LDII mendorong warganya untuk melakukan konsumsi dan produksi berkelanjutan dengan target zero waste. Di pesantren LDII, air wudhu digunakan untuk memelihara lele dan menyiram tanaman pangan, untuk dikonsumsi para santri. Di tingkat rumah tangga, sampah organik digunakan untuk pupuk tanaman. Serta mendaur ulang sampah-sampah dalam bank sampah maupun dimanfaatkan kembali agar memiliki nilai ekonomi. “terkait pertanian berkelanjutan, LDII mewujudkan ketahanan pangan. LDII telah menanam juta pohon di berbagai wilayah indonesia,” kata Syam.

Ketujuh, bidang energi terbarukan, LDII mendukung pemerintah dalam mengurangi penggunaan bahan bakar fosil dan menggunakan energi terbarukan hingga 7 persen pada 2019 dan 23 persen pada 2024. Pesantren di lingkungan LDII telah menggunakan pembangkit listrik tenaga surya. Seperti yang telah diterapkan di Pondok Pesantren Wali Barokah Kediri. Dalam skala industri, warga LDII memanfaatkan mikrohidro.

Kedelapan, menyambut era industri 4.0, LDII telah menyiapkan generasi muda yang memiliki kemampuan untuk memanfaatkan teknologi digital. LDII juga membekali warganya dengan etika media sosial dan pelatihan jurnalistik, untuk menghindari hoaks dan menyebarkan informasi yang positif.