“Inspektur Jenderal” (Hoax) Hadir di Makassar

Editor : Muh. Idris

Online24,Makassar – Alkisah, sebuah kota X seluruh pejabatnya korup. Walikota menggunakan kekuasaan untuk korup, menerima fee proyek dari para Kepala Dinas, para Pengusaha juga rakyatnya. Para Kepala Dinas pun bekerja semaunya, berlomba melakukan pungli, memanipulasi, mengumpulkan kekayaan, bersenang-senang, makan enak, hidup mewah tak peduli kepentingan rakyat.

Suatu ketika, Walikota menerima informasi rahasia bahwa akan datang tim pemeriksa dari ibukota. Walikota ingin mencari tahu kebenaran berita tersebut. Dua pengusaha property yang “cari muka” bergerak cepat mencari informasi. Mereka berinisiatiaf menyelidiki beberapa hotel dan losmen. Ketika menemukan tamu yang berkelakuan misterius di salah satu losmen, mereka pun menduga itulah pejabat Inspektorat- pemeriksa keuangan yang diam-diam sudah datang dari ibu Ibukota. Kabar penemuan tersebut segera disampaikan kepada Walikota dan jajarannya, akibatnya para pejabat itu resah dan gelisah.
Para pejabat itu kemudian merundingkan berbagai cara untuk menghadapi sang Inspektur Jenderal. Apa yang harus mereka lakukan? Apakah “Inspektur Jendral” dari ibu Ibukota itu bisa disuap? Bagaimana kalau tidak? Atau masih adakah pejabat yang tidak menerima suap?

Pemain “Inspektur Jenderal” saat latihan di gedung kesenian Makassar.

Kisah “Anti Hoax” ini merupakan produksi ke-16 Sinerji Teater Makassar. Semula naskah klasik Rusia ini berjudul “Revizor” karya Nikolai Vasilievich Gogol yang dipublikasikan pada tahun 1836. Di terjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Asrul Sani dengan judul Inspektur Jenderal. Diterbitkan oleh Pustaka Jaya. Kemudian digarap ulang dan direvisi oleh Yudhistira Sukatanya.

Menurut mantan Kepala RRI ini, Produksi ini dimaksudkan untuk mendiskursuskan fenomena korupsi dan kolusi penyebaran berita Bohong-Hoax- yang sudah sangat gawat. Pemilihan gaya pemanggungan teater di jalur realisme Indonesia, demi menjaga konsistensi anutan Sinerji Teater Makassar.

“Semoga pertunjukan ini kian mengukuhkan eksistensi kota Makassar sebagai kota seni pertunjukan yang maju di Indonesia.” Ujar pria yang memiliki nama asli Edy Thamrin ini.

Lebih lanjut dikatakan bahwa Sinerji Teater Makassar sengaja mempertahankan konsep pentas Teater Realisnya. Dengan mengangkat genre sastra Satire.

Seni satire sebenarnya adalah genre sastra yang berasal dari Yunani dengan maksud menyindir. Sindiran seperti itu awalnya merupakan bentuk sastra yang khas, tetapi istilah kemudian meninggalkan definisi aslinya.

Kemudian berkembang menjadi kritik yang luas tidak hanya berbentuk tulisan namun juga berbentuk gambar dan pementasan. Satire dalam bentuk puisi sindiran pun digunakan dengan maksud evaluasi terhadap kemampuan seseorang maupun dirinya sendiri. Sebuah kritik yang menampilkan sebuah pemikiran kritis atas fenomena yang terjadi ditengah masyarakat.

Penasaran?? Nantikan jawabannya dalam pertunjukan teater yang akan digelar Sinerji Teater pada tanggal, 16-18 November 2018. Pukul 19.30 di Gedung Kesenian Makassar di jalan Riburakne.