UNM Tanda Tangani Tiga MoU dengan Universitas Terbuka

Editor : Asri Muhammad

Online24, Makassar – Uiversitas Negeri Makassar (UNM) bersama Universitas Terbuka, Lembaga Layanan Perguruan Tinggi (LL DIKTI) Wilayah IX Sulawesi, Universitas Musamus Marauke dan Universitas Cendrawasih Jayapura sepakat bekerjasama dan menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) terkait partisipasi pendidikan melalui peningkatan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia, dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ), sekaligus peningkatan sumber daya manusia (SDM), penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

MoU ini ditandatangani oleh Rektor Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof Husain Syam, Universitas Terbuka, Prof Ojat Darojat, Ketua LL DIKTI Wilayah IX Sulawesi, Prof Jasrudin, perwakilan dari Universitas Cendrawasih dan Universitas Musamus, di Ballroom Pinisi UNM Makassar, Jumat (2/11/2018).

Rektor UNM, Prof Husain Syam, menyampaikan kerja sama yang dibangun ini, sebagai tindaklanjut amanah Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Menristekdikti). Baginya, online learning atau pendidikan jarak jauh (PJJ) dinilai menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan angka partisipasi kasar (APK) pendidikan tinggi di Indonesia. Mengingat, APK saat ini masih berada pada angka 32 persen.

“Kerja sama ini tentu dalam menjalankan program strategis Menristekdikti dalam memberikan dan mengembangkan pembelajaran jarak jauh dan online learning. Hal ini dapat menyelesaikan sejumlah tantangan, salah satunya APK,” terangnya.

Rektor UT, Prof Ojat yang mengisi kuliah umum, meyinggung tentang pembelajaran dalam jaringan di era revolisi industri 4.0. Ia menjelaskan bagaimana UT membangun Infrastruktur Pendidikan di tiap-tiap daerah di pelosok negeri untuk menjangkau masyarakat agar menikmati pendidikan melalui PJJ.

“MoU ini sangat penting, dalam mengembangkan online learning yang sangat dibutuhkan sekarang ini. Apalagi ini terkait sentuhan perkembangan teknologi 4.0,” jelasnya.

Saat ini, lanjut dia, dunia telah berada pada era revolusi industri 4.0. Karena itu, sistem pendidikan tinggi, termasuk PJJ, harus mampu beradaptasi dengan merancang terobosan dan program yang seirama dengan perkembangan zaman.

“Bagaimana memindahkan interaksi perkuliahan terjadi di layar komputer, di Indonesia saat ini peningkatan APK Perguruan Tinggi baru mencapai 32 persen, dari penduduk rentang usia 19-23 tahun yang mengenyam pendidikan tinggi. APK ini harus dipacu sehingga pada 2020 nanti dapat mencapai hingga 40 persen,” katanya.

Kampus dinilainya memiliki peluang yang cukup besar dalam membantu pemerintah dalam meningkatkan APK, dengan online learning memililki luasan daya jangkau, akses, dan kapasitas layanannya. “Kita berupaya mewujudkan, sehingga harapannya Indonesia mampu meningkatkan pendidikan dengan baik,” tutupnya.

Kegiatan sesi diakhiri dengan penandatanganan MoU sekaligus pertukaran cinderamata antar perguruan tinggi negeri dan LL Dikti.