Tudingan Gila Jabatan, Edy: Pangkostrad Pun Saya Tinggalkan, Apalagi Hanya Ketum PSSI

Editor : Aris Munandar
Ketum PSSI, Edy Rahmayadi, menyalami pemain PSM
Ketum PSSI, Edy Rahmayadi, menyalami pemain PSM

Online24, Makassar – Edy Rahmayadi menegaskan tak akan mundur dari jabatannya sebagai Ketua Umum PSSI. Meski akhir-akhir ini tuntutan agar ia melepas jabatan tersebut terus mengalir, karena dinilai tak maksimal sebab juga menjabat sebagai Gubernur Sumatra Utara.

Edy menegaskan, dirinya tidak serakah jabatan karena sebelumnya dia sempat melepas jabatannya sebagai Pangkostrad. “Saya tidak gila jabatan, Pangkostrad pun saya tinggalkan apalagi hanya Ketua Umum PSSI,” ungkap Edy di Kantor Gubernur Sumut seperti dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (6/12/2018).

Ia mendapat banyak tekanan agar mundur dari PSSI usai Timnas Indonesia tampil buruk di Piala AFF. Jangankan melaju ke final, lolos dari kualifikasi grup sendiri tak mampu.

Selain itu, pendukung timnas Indonesia yang kecewa juga merasa rangkap jabatan yang dijalani Edy membuat tugasnya di PSSI tak efektif. Meskipun demikian, pria 57 tahun ini enggan mundur karena ia merasa masih cinta terhadap PSSI.

“Saya tak mikirin itu, yang penting Abda tak menyuruh saya mundur ajalah. Kalau kalian pun nyuruh mundur, saya tak mau mundur. Tolong kalian buat Ă‹dy bertahan sampai 2020″. Sampai kongres berikutnya,” kata Edy.

“”Saya tak mau mundur dari PSSI. Karena saya cinta dengan PSSI. Kita punya manajemen. Ada waktu kegiatan kongres tahunan, ada kegiatan evaluasi, setiap periode ada jadwalnya. Jadi di mana pun Ketua PSSI berada itu tak masalah. Tapi ini harus berjalan semuanya. Di PSSI ini lengkap ada pengkaji disiplin, kepala staf, sekjen. Semua ini tak bisa memutuskan satu persoalan karena ada statuta yang mengaturnya,” tutur pria kelahiran Sabang ini.

Edy sebenarnya sempat terpikir untuk mundur, tapi hal itu terbersit olehnya bukan karena ia merasa sudah tak mampu memimpin PSSI melainkan karena tak mau menjadi sasaran bully dari berbagai pihak. Di sisi lain, Edy juga menyayangkan tak ada pihak yang menyanjungnya ketika timnas Indonesia meraih kemenangan.

“Memang ada di benak saya akan mundur, iya, tapi bukan karena saya tak bisa menangani ini, bukan itu persoalannya. Tapi karena kepentingan pribadi saya. Saya kepengin santai, tak ingin di bully-bully,” ujar Edy menjelaskan.

“Karena di PSSI ini, begitu menang tak ada yang menyanjung saya, malah orang yang memakai kesenangan ini. Tapi begitu kalah, Edy Out. Saya mau tenang, santai, bukan karena saya tak bisa membina. Saya bawaan lahir memang begini.”