Kisah Inspiratif Kepala Madrasah Tukangi Sendiri Pembangunan Pojok Baca Madrasahnya

Editor : Muh. Idris
Pondok baca yang dibangun oleh pak Safriansah Kepala Madrasah MIN 1 Kutai Kartanegara.

Online24jam, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. – MIN 1 Kutai Kartanegara mulai bersolek dan tampak lebih nyaman dengan adanya dua tempat yang mungil untuk dijadikan tempat duduk-duduk membaca. Tempat tersebut berbentuk balai dan tempat duduk berpayung yang dibuat dari bambu sederhana, tripleks dan kayu-kayuan. Tertera di salah satu bangunan itu tulisan “Pondok Baca”

Bangunan ini adalah buah karya kepala madrasah, Pak Safriansah (52 tahun), agar anak-anak tertarik membaca. Menyediakan tempat membaca yang mudah dijangkau dan menarik adalah salah satu strategi madrasah tersebut untuk meningkatkan minat baca siswa.

Walaupun sudah berkiprah di madrasah ini selama hampir sepuluh tahun, semangatnya untuk membangun madrasah tetap menyala-nyala. “Saya menukangi sendiri pendirian bangunan ini agar madrasah semakin berkembang dalam segi pembelajaran dan budaya baca,” ujarnya bersemangat. Ide membangun tersebut berasal dari salah satu guru di sekolah tersebut yaitu Pak Azhar, salah satu Fasilitator Daerah Program PINTAR Tanoto Foundation.

“Kalau mau membangun budaya baca, saya setuju, memang harus ada sarana yang mendukung, yang menarik dan menjadi ikon supaya anak-anak tergerak untuk membaca,”ujarnya.

Ia kemudian membuat desain bangunan taman baca tersebut. Setiap selesai jam sekolah, ia pulang kembali ke rumahnya, sholat, makan dan berganti baju seperti buruh kasar, pakai kaos atau baju lain yang tidak lagi memperlihatkan dia sebagai kepala madrasah. Dibantu oleh sekuriti dan cleaning service, ia memotong-motong bambu, menggergaji tripleks dan lain-lain, mewujudkan desain bangunan yang telah ia buat dari jam 2 sampai jam 5.30 sore.

Selama membangun, ia tidak kekurangan bahan-bahan dan juga makanan dan minuman. Para guru ikut menyumbang secara sukarela tambahan biaya yang digunakan untuk membeli cat, paku, makanan dan minuman selama bekerja. Kepala sekolah sendiri juga sukarela mengeluarkan sebagian uangnya untuk pembelian bahan-bahan.

Setelah dikerjakan kurang lebih empat hari, dua bangunan pondok baca pun akhirnya berdiri. Ternyata respon siswa memanfaatkan tempat tersebut, anak-anak tiap saat berebutan memanfaatkan tempat. Para guru juga sering duduk disitu.

Seperti diketahui, Indonesia saat ini merupakan negara yang tangkat literasinya sangat rendah. Berdasarkan penelitian dari Central Connecticut University tahun 2016 yang lalu, Indonesia berada di urutan ke 60 dari 61 negara yang diteliti.