Tuak Manisnya Nikmat, Alamnya Indah, Namun Dusun 5 Batu Bolong Desa Compong Sidrap Belum Nikmati Listrik

Editor : Muhammad Tohir

Online24,Sidrap- Jalan-jalan ke Kecamatan Pitu Riase, Selain disuguhi hamparan perkebunan hijau, lokasi peternakan luas, yang tidak kalah penting penyambutan masyarakat setempat yang luar biasa ramah.

Rabu (02/1/2018) Sekretaris Kecamatan (Sekcam) Pitu Riase, Jimmy Harun menyempatkan diri melakukan penelusuran wilayah di Desa Compong. Kegiatan ini adalah yang kesekian kalinya dilakukan setelah dilantik sebagai Sekcam Pitu Riase 18 Desember lalu.

Rombongan awalnya menempuh jalanan aspal dan beton, kemudian menapaki sebuah jalan sempit yang kondisinya masih tahap pengerasan, meski tepat di penurunan tajam ada beton sekitar 20 meter.

Melalui jalanan ini rombongan disuguhi pemandangan alam sangat indah. Kiri kanan jalan terlihat tanaman jagung. Perkebunan warga yang berada disebelah kiri berbatasan langsung dengan hutan lindung, membuat pemandangan dan udara sekitar semakin sejuk.

Disisi kiri jalan juga tampak pohon pinus, pertanda bahwa wilayah ini memiliki udara dingin, terutama di malam hari.

Rombongan sempat berhenti di sebuah perbukitan untuk menikmati suasana alam dan menghirup udara tanpa polusi, sambil mengambil gambar dengan ponsel.

Puas mengambil gambar dari berbagai sisi, rombongan yang mengendarai mobil jeep rakitan Sekcam yang juga di kemudikan mantan Kepala Bidang Damkar Dinas Satpol PP dan Damkar ini melanjutkan perjalanan menelusuri jalan sempit tersebut.

Tidak jauh dari lokasi perbukitan, rombongan memasuki wilayah pemukiman yang dihuni sekitar 40 kepala keluarga (KK). Rombongan singgah disalah satu rumah yang sedang memasak Tuak aren untuk dijadikan gula merah. Di tempat ini rombongan disuguhi tuak manis oleh pemilik rumah. “Manis sekali tuaknya,” ungkap Jimmy Harun.

Sementara warga yang dikunjungi mengaku sangat senang dan terharu dapat kunjungan hari itu. “Kami sangat senang dapat kunjungan. Kita senang ada pihak pemerintah yang mau datang melihat langsung kondisi kehidupan kita di wilayah terpencil seperti ini,” ujar La Gading pemilik rumah dalam dialeg Bugis.

Dalam kesempatan itu La Gading bersama beberapa warga menyampaikan keluhan mereka, diantaranya harga kakao yang sangat murah.” Harga kakao hanya 20 ribu rupiah perkilo, harus jual beberapa kilo untuk bisa beli Vestisida. Artinya kesulitan kita karena saat hasil kebun kita mau di jual murah sementara mau beli barang kebutuhan pokok dan kebutuhan Vestisida sangat mahal,” keluh mereka.

Bukan itu saja, mereka juga butuh bantuan alat produksi gula merah, terutama wajan untuk memasak gula merah tersebut.

Selain kakao dan jagung, warga setempat juga berkebun Cengkeh dan beberapa tanaman jangka pendek lainnya.

Bukan cuma harga jual hasil kebun saja yang di keluhkan warga Dusun yang di huni 40 KK ini. Mereka juga sangat mengidamkan bisa dapat sambungan listrik. “Belum ada listrik disini. Kita masih pake penerangan tradisional. Lilin atau pelita,” ungkap mereka.

Mereka berharap pemerintah bisa mengupayakan agar warga setempat bisa menikmati aliran listrik, sehingga mereka tidak lagi berteman dengan kegelapan di malam hari.