Prostitusi VS Kapitalisme Global

Editor : Muh. Idris

Online24jam,Makassar – Tertangkapnya dua selebriti, Vanessa Angel dan model berinisial AS, ketika diduga tengah melayani tamu mereka di Surabaya, Jawa timur, memperpanjang daftar di Indonesia yang disinyalir terjun ke dunia prostitusi online. Polisi masih melakukan proses menyelidikan yang diduga banyak artis dan selebgram terlibat prostitusi.

Praktik prostitusi di Indonesia pada umumnya kerap kali masih dianggap sebagai persoalan praktik kejahatan jalanan biasa (street crime). Kita tidak bisa memungkiri bahwa potret kehidupan wanita dewasa ini diwarnai dengan gambaran keterpurukan, ketertindasan, dan keterbelakangan. Namun masalah ini sebenarnya tidaklah semata-mata masalah wanita. Realitasnya kita perlu untuk melihat masalah tersebut sebagai masalah kemanusiaan dan masalah kehidupan (dalam arti bahwa tidak hanya jenis kelamin perempuan yang mengalami masalah tersebut, jenis kelamin laki-laki pun banyak yang mengalami masalah), meskipun kita tetap sepakat bahwa perempuan menempati persentase masalah yang lebih besar.

Fokus kritik kita bukanlah pada ada atau tidaknya masalah, namun lebih kepada bagaimana cara pandang kita melihat masalah, menganalisa masalah tersebut kemudian menawarkan solusi-solusi tersebut.

Ini merupakan praktik prostitusi yang dilakoni oleh selebriti tercipta sebagai dampak era kapitalisme global. Segalanya bisa jadi komoditi, bisa diperjualbelikan. Termasuk manusia sekalipun bisa dijual.

Nah, untuk harga tergantung minat pasar jika ibarat satu merek terkenal yang telah banyak dipakai orang maka tentu harga dan barang tersebut pasti lebih mahal dari merek yang belum ada apa-apanya.
Sebagaimana dalam dunia ekonomi kapitalistik penawaran akan menciptakan permintaan itu sendiri. Perusahaan akan berusaha memenuhi permintaan konsumen dimasyarakat dengan prinsip mendapatkan harga dan kepuasan.

Semakin tinggi utility atau kegunaanya, maka semakin tinggi juga harganya.
Saat ini pun toh belum ada undang-undang yang bisa menjerat penikmat pelacur. Sebab pada dasarnya demokrasi kapitalisme yang justru mendukung, memperdagangkan perempuan untuk tujuan eksploitasi seksual.

Kalau kita menengok ketentuan hukum kepolisian memang tidak dapat menjerat pengguna PSK maupun PSK sendiri mengingat ketentuan di dalam Pasal 296 jo. Pasal 506 Undang-undang Hukum Pidana (KUHP) malah tidak ethis karena hanya menjerat penyedia PSK/mucikari.
Sebabnya prostitusi adalah bisnis yang sangat menggiurkan. Apalagi jika yang dipasarkan adalah harga selebriti terkenal yang sudah popular namanya di istilahkan sebagai mereklah seperti itu. Punya brand menarik, berpendidikan, memiliki ketenaran sehingga ini dianggap imaji yang menggoda untuk dibeli apalagi jika dikatakan limited edition. Logika tersebutlah yang nempel membuat konsumen berduit berani membayar mahal karena penasaran.

Padahal jika mau dikata apa bedanya artis-artis popular itu dengan artis yang belum naik daun sama-sama cantik, ataulah apalah bedanya laptop merek Apple dengan acer toh fungsinya sama? Maka coba perhatikan, karena imaji yang ditawarkan perusahaan yang kuncinya tadi “kepuasan dan harga”.
Disaat itulah sebenarnya kita telah dimakan oleh kekacauan berfikir paradigma barat.

Jika merasa dunia ini semua bisa dimiliki dengan cara instan, dengan harga, dengan uang, atau selalu ukuran materi. Maka akal anda bekerja dengkul . Justru semua akan terbantahkan bahwa realitanya banyak hal dalam hidup kita yang valuenya tidak bisa diukur dengan harga, uang atau materi.
Menciptakan keluarga bahagia, rukun, damai, kasih sayang ayah, kasih sayang ibu, anak-anak yang kemudian berbakti kepada kedua orang tuanya tak bisa dihargai dengan uang.

Ketulusan seorang istri dalam menjaga kepercayaan ikatan keluarga yang utuh apakah semua bisa dijumlah diangka-angkakan dengan harga? Gaji suami kepada istri yang sedikit namun didapat dengan cara halal dan berkah apakah itu berarti dirinya tak berharga?
Kebahagiaan akanlah tercipta dari keadaan dan cara pandang kita sendiri melihat kehidupan. Sebab petunjuk agama itu telah ada. Uang bisa membeli kesenangan; rumah mewah, mobil mewah, motor mewah, termasuk kesenangan seksual sekalipun. Tapi uang tidak bisa membeli suasana keluarga karena sangat memperhatikan nilai keberkahan harta yang masuk dalam dirinya.

Termakannya godaan kesenangan sesaat, itulah sesungguhnya pemikiran kapitalisme yang merusak manusia yang justru menjadikan potret kehidupan wanita, keluarga dewasa ini diwarnai dengan gambaran keterpurukan, ketertindasan, dan keterbelakangan yang jauh dari kata kebahagiaan. Sementara orang-orang yang tetap berpegang teguh amanah pada janji Allah, menjaga kehormatan, merawat keluarga, dilimpahi kebahagiaan.

Dari paparan diatas sudah sangat jelas, bahwa kunci keberkahan hidup adalah taqwa pada tuhan. Artinya sebenarnya tidak lain dengan mengikuti seluruh petunjuk dan tak ada ideology, ajaran, agama yang begitu memberikan value yang tinggi kepada wanita kecuali islam.
Allah SWT berfirman: QS. Al-Anam : 155 ( Al quran itu adalah kitab yang kami turunkan yang diberkati. Karena itulah, ikutilah dia dan bertaqwalah agar kalian diberi rahmat).

Desi Purnamasari
Aktivis muslimah makassar