Resmikan Smelter Nikel, Ini Harapan Gubernur Sulsel

Editor : Asri Muhammad

Online24, Bantaeng – Gubernur Sulawesi Selatan HM Nurdin Abdullah (NA) menyebutkan pembangunan smelter pengolahan nikel di Kabupaten Bantaeng sesuai dengam Undang-undang Minerba.

“Pertama tentu sesuai dengan Undang-undang Minerba, ini kita wujudkan bahwa smelter yang sebenarnya hari ini kita wujudkan (resmikan), sesungguhnya sudah 15 kali ekspor. Kenapa smelter ini bisa begitu cepat produksi. Karena ini adalah sebuah kerja nyata dari pemerintah,” kata NA usai meresmikan dan melepas ekspor PT. Huadi Nickel-Alloy Indonesia, Sabtu (26/1).

Hadirnya PT Huadi sebagai perusahaan pengolahan dan pemurnian nikel menjadi suprise, bahwa industri ini, begitu cepat mendapat status sebagai Kawasan Berikat.

“Kenapa kawasan berikat ini penting, supaya administrasi ini bisa diselesaikan di pabrik, begitu juga barang modal, barang modal itu langsung. Tentu dengan suasana Bantaeng yang begitu kondusif ini, membuat ini begitu cepat,” sebut NA.

Peresmian ini menjadi salah satu industri yang membanggakan Sulsel, karena telah menjadi impian selama puluhan tahun.

“Selama ini kita kirim ore (biji), kirim ore ini sama dengan menjual tanah air, karena nikel yang kita jual itu di dalamnya banyak komponen-komponen lain juga ikut,” ucap Nurdin Abdullah.

Industri yang di bangun ini menurut NA ramah lingkungan karena menggunakan eletric furnance system dalam mengelola dan memurnikan nikel.

“Bisa lihat tadikan tidak ada asap dan tentu jangan kita tonjolkan minusnya tetapi plusnya, kalau kita ekspor ore, dibandingkan kita memproduksi ferro-nickel itu tujuh kali lebih besar keuntunganya, jadi itu tujuh kali lebih besar, dibandingkan kita ekspor tanah air itu,” jelasnya.

Dengan mengekspor ferro-nickel jadi nilai tambahnya itu tujuh kali lebih besar. Dan selama ini yang menjadi masalah sebut NA, karena Indonesia lebih cendrung mengekspor bahan baku industri kemudian membeli dalam bentuk produk jadi. Jadi kekayaan alam menurut menurut NA harus dikelola dengan baik agar mendatangkan manfaat besar.

Kawasan yang menjadi lokasi pembangunan di Desa Papanloe, Kecamatan Pajukukang, Kabupaten Bantaeng ini sebut NA dulu daerah miskin. Salah satu kecamatan termiskin karena curah hujan rendah, banyak penduduknya juga perantau dan ke kota cari nafkah. Namun sekarang, patut berbangga, punya industri dan anak-anak mereka juga sudah punya skill dan mulai bekerja di tempat ini.

“ke depan akan nambah lagi empat tungku, dengan produksi sekarang 50.000 (metrik ton) menjadi 250.000 dan tenaga kerja akan bertambah lagi menjadi 2.000 dan itu luar biasa,” pungkas NA.