Memposisikan Tulang Punggung dan Tulang Rusuk

Editor : Muh. Idris

Online24jam,Makassar – Ini bukan tentang anatomi tata letak rangka dalam tubuh manusia. Ini tentang pengaburan sekat atas peran pria dan wanita dalam era kapitalisme global. Era jahiliyah modern yang menjadikan materi sebagai satu-satunya skala indikator dalam parameter kesuksesan seseorang. Kenyataan menakdirkanku untuk hidup pada era ini. Era kehancuran generasi yang memang sudah tak diatur oleh aturan manusiawi.

“Wanita karir itu keren yaah, ingin rasanya menjadi seperti itu juga agar tak dianggap remeh oleh dunia. Sekarang peran ibu rumah tanggga itu sudah bukan zamannya lagi. Kan ada pembantu dan baby sitter”. Ini opini umum orang-orang di sekitarku? Iya. Namun anggap saja kalimat tadi juga bersumber dari suara hatiku. Sungguh makna kesuksesan yang sangat sempit dan individual. Entah siapa atau apa yang memulai, siapa atau apa yang sebenarnya menganggap remeh kaum wanita? siapa atau apa yang mulai memposisikan pria dan wanita ke dalam dua strata berbeda tingkatan. Bahkan pertanyaan ini pun baru muncul saat ku putuskan untuk berhijrah dan mengkaji ilmu Islam dengan mendalam dan lebih dalam lagi.

Semakin dalam, kecurigaanku terhadap ideologi beratmosfer liberal semakin kuat seiring dengan aroma busuk yang menguar, mematikan nalar umat yang tak terbasuh ilmu Ilahi. Umat ini hanya bisa membebek pada fakta yang terindera tersebab pemikiran dangkal. Merekalah sebenarnya yang mengusung ide stratifikasi gender, namun mereka juga yang malah melancarkan propaganda sesat feminisme atas nama kesetaraan gender.

Ide feminisme liberalisme penghancur martabat wanita mendefinisikan pemberdayaan wanita itu ketika mereka bisa menghasilkan materi. Itulah wanita bermartabat menurut kacamata ideologi ini. Tak peduli dengan cara apa mereka meraih remah-remah materi dari sistem korporasi kapitalisme. Ada yang bahkan rela menggadaikan akidah hanya untuk meraih remah-remah itu. Itu mengingatkanku pada sepenggal alur cerita film “Ketika Tuhan Jatuh Cinta’, adik perempuan Si Pemeran Utama terpaksa bekerja sebagai Recepcionist untuk membantu meringankan beban perekonomian keluarga, namun dengan syarat harus melepas hijab. Logika dan nalarku merasa gagal paham akut terkait sinkronisasi antara mengumbar aurat dengan profesi sebagai Recepcionist.

Itu baru di film, namun mari kita mencoba untuk menyusuri dunia nyata di luaran sana, mungkin sebaiknya di sekitaran sini dulu. Ku scroll gawai dalam genggamanku di tengah kejemuan. Ku buka salah satu akun instagram penyedia info lowongan pekerjaan. Lagi-lagi logika dan nalarku digelitik sekaligus dibuntukan secara bersamaan dalam satu waktu. Hampir setiap pencari tenaga kerja wanita mencantumkan syarat harus berpenampilan menarik. Wanita kini bukan dipandang lagi sebagai manusia dalam ideologi ini. Namun adanya upaya eksploitatif terselubung dengan mengkomersilkan wanita sebagai sekadar objek komoditas penghasil pundi-pundi profit.

Sayang sekali mereka tak sadar tengah dimanfaatkan. Ironisnya mereka malah semakin terprovokasi ide feminisme untuk terus berlomba-lomba menjadi tulang punggung. Sangat jelas terlihat dari tema ‘Balance for Better’ yang diusung pada International Women’s Day 2019. Tema ini katanya diusung karena belum terjadinya keseimbangan atau kesetaraan dalam berbagai aspek kehidupan. Khususnya dalam berbagai aspek kehidupan. Khususnya dalam dunia kerja, gap pay atau beda gaji masih terjadi antara pria dan wanita, di mana wanita dibayar lebih rendah dari pria.

Padahal mereka memiliki peran besar sebagai seorang ibu pencetak generasi penakluk dunia. Mereka terlalu dibutakan oleh materi sehingga menyalahi fitrahnya. Yaah, begitulah kalau sedari awal mindset wanita terbelenggu oleh sekulerisasi pendidikan, sebagaimana pendidikan hari ini yang membawa para penuntut ilmu berpikir parsial kebidangan, apolitis dan terpisah dari masyarakat (Fika Komara, Menjadi Muslimah Negarawan, 2016).

Sudah seharusnya mereka sadar, bahwa wanita diciptakan bukan untuk menjadi tulang punggung, karena itu memang bukan fitrahnya, tapi sebagai tulang rusuk. Tulang punggung dan tulang rusuk diciptakan bukan untuk dibandingkan, namun untuk disandingkan. Dari situlah balance yang sesungguhnya akan didapatkan. Menjadi tulang punggung bukanlah peran yang diharamkan untuk kaum hawa. Kalau memang hanya sekadar sambilan untuk mengaplikasikan skill agar bisa berbagi manfaat kepada orang-orang di sekitarnya. Tapi jangan sampai perannya sebagai tulang rusuk dia tinggalkan sehingga Si Jantung Hati tak ada yang melindungi. Kesalahan ini akan berdampak pada rapuhnya generasi.

Wahai kaum wanita, Islam sungguh telah memuliakan kita dengan syariahnya. Memandang kita sangat berharga bahkan jauh lebih berharga ketimbang dunia dan seisinya. Menjamin kebutuhan hidup kita lewat sistem ekonomi syariah yang terdistribusi secara tepat saat negara sendiri yang mengelola Sumber Daya Alamnya dengan batasan-batasan kepemilikan yang jelas. Pun menafkahi kita melalui perwalian yang jelas pula. Selama belum mengarungi mahligai rumah tangga, kita adalah tanggung jawab ayahanda. Lalu ketika saat itu telah tiba, maka dunia menggantungkan harap pada kita. Di tangan telah tergenggam tongkat estafet kehidupan selanjutnya. Maka bersiaplah untuk menjadi madrasah pertama bagi Sang Calon Khalifah.

Oleh: MITRA RAHAYU, S.Pd
Alumni Pendidikan Ekonomi UNM
Muslimah Aktivis Dakwah BMI (Back to Muslim Identity) Community Makassar
Anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Cabang Makassar