Pengaruh Media Sosial Terhadap Pariwisata Daerah

Editor : Muh. Idris

Online24jam,Makassar – Potensi media sosial sebagai media promosi pariwisata sangatlah besar, akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah bagaimana agar media sosial tersebut seperti instagram dan facebook dapat dikenal dan memiliki banyak pengikut agar konten yang dipublikasikan atau diunggah dapat diterima oleh orang banyak. Partisipasi masyarakat dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat untuk mempromosikan pariwisata melalui media sosialnya masing-masing, karena Promosi yang lebih murah dan cepat adalah promosi melalui media sosial. Promosi melalui media sosial tidak hanya menjual barang dan jasa, akan tetapi mempromosikan Potensi Pariwisata Daerah melalui media sosial merupakan cara promosi yang paling efektif untuk mengenalkan tempat wisata pada Daerah tersebut.

Melalui jejaring itu, Pemerintah daerah dapat menfasilitasi sebuah komunitas pengguna media sosial di daerahnya, sehingga pemerintah daerah dapat dengan mudah mengontrol dan mengelola pengguna media sosial tersebut. Cara lain adalah jika masyarakatnya masih awam dengan media sosial maka dilakukan penyuluhan dan pelatihan mengenai potensi media sosial.

Sebagaimana diketahui, saat ini Indonesia berada pada peringkat keenam dengan jumlah pengguna internet terbanyak di dunia, setelah Jepang, Brazil, India, Amerika Serikat, dan China. Jumlah ini diperkirakan mencapai 171,17 juta jiwa atau sekitar 64,8 persen dari jumlah total penduduk kita. Tercatat sebanyak 129,2 juta pengguna media sosial di Indonesia (APJII, 2016), dengan pengguna melebihi setengah jumlah penduduk itu potensi media sosial sebagai media promosi pariwisata sangat besar. Dengan pengguna sebesar itu tentu menjadi hal yang menjanjikan dalam mempromosikan pariwisata.

Konten dari media sosial yang menonjolkan foto ataupun video dan ditunjang dengan akses yang mudah tentunya akan lebih mudah menarik perhatian calon wisatawan. Media sosial adalah perkembangan mutakhir dari teknologi-teknologi web baru berbasis internet yang memudahkan semua orang untuk berkomunikasi, berpartisipasi, saling berbagi, dan membentuk suatu jaringan online, sehingga dapat menyebarluaskan konten mereka sendiri (Zarella: 2010). Media sosial yang bisa disebut juga jejaring sosial adalah suatu layanan berbasis web yang memungkinkan setiap individu untuk membangun hubungan sosial melalui dunia maya seperti membangun profil tentang dirinya sendiri, menunjukkan koneksi seseorang dan memperlihatkan hubungan apa saja yang ada antara satu pemilik dengan pemilik akun lainnya dalam sistem yang disediakan, dimana masing-masing jejaring sosial memiliki ciri khas dan sistem yang berbeda-beda (Boyd dan Ellison:2007). Contohnya seperti facebook, instagram, youtube, dan lain-lain.

Facebook adalah sebuah situs jejaring sosial yang dapat dijadikan sebagai tempat untuk menjalin hubungan pertemanan dengan semua orang yang ada di belahan dunia untuk dapat berkomunikasi satu dengan yang lainnya, facebook merupakan situs pertemanan yang dapat digunakan oleh manusia untuk bertukar informasi, berbagi foto, video dan lainnya (Madcoms: 2010). Sedangkan instagram merupakan salah satu fitur yang dimiliki oleh smartphone. Instagram ini sendiri merupakan aplikasi handphone yang berbasis android dan IOS. Selain itu Instagram juga merupakan aplikasi yang digunakan untuk mengambil foto, mengelola foto, mengedit foto, memberi efek filter pada foto dan membagikan foto tersebut kepada semua orang. Sekarang Instagram tak hanya dapat membagikan foto saja, aplikasi ini juga dapat digunakan untuk mengunggah video selama 15 detik. Awalnya aplikasi ini lebih dominan digunakan bagi yang mempunyai kesenangan dalam mengambil foto dari telepon pintarnya kemudian membagikan hasil jepretannya ke Instagram. Foto-foto yang diunggah ini bisa saja berupa foto pemandangan, foto keluarga sanak saudara, foto koleksi buku, dan sebagainya (Agustina: 2016). Di Indonesia kurang lebih 45 juta penduduk menggunakan instagram secara aktif. Dari data tersebut Indonesia merupakan komunitas instagram terbesar di Asia Pasifik, serta menjadi salah satu pasar terbesar di dunia (www.bisnis.tempo.co., 26 Juli 2017).

Selain facebook, perkembangan pengguna instagram sangat besar. Jika menelusuri pada pencarian di instagram dengan mengetik nama suatu kota atau daerah, bahkan negara, feeds yang ditampilkan adalah pariwisata-pariwisata tempat tersebut. Akun-akun tersebut dikelola baik secara perseorangan, kelompok maupun institusi. Hal demikian membuat para calon wisatawan dapat memperoleh informasi dengan mudah. Dalam komunikasi pemasaran sendiri media sosial termasuk dalam interractive markerting, karena media sosial memungkinkan terjadinya arus informasi timbal balik yang memungkinkan pengguna dapat berpartisipasi dan memodifikasi bentuk dan isi informasi pada saat itu juga (real time). Sedangkan partisipasi adalah berasal dari bahasa Inggris participate yang artinya mengikutsertakan, ikut mengambil bagian (Willie Wijaya:2004). Potensi media sosial sebagai sarana promosi pariwisata berbasis partisipasi masyarakat pada dasarnya sebenarnya sudah dilakukan oleh masyarakat itu sendiri. Adanya partisipasi masyarakat dalam mempromosikan pariwisata melalui media sosial sebenarnya sudah dilakukan, akan tetapi hal tersebut mungkin tidak disadari oleh masyarakat itu sendiri. Contohnya pada seorang pengguna media sosial, ketika berkunjung ke sebuah objek pariwisata, seseorang tersebut mengambil foto ataupun berselfie ria yang kemudian ia unggah ke media sosialnya, entah itu instagram, facebook, youtube dan lain sebagainya. Ketika dia mengunggah foto ataupun video mengenai objek tersebut, maka followers di akunnya akan secara langsung bisa melihat dan bisa berinteraksi dengannya secara langsung. Kemudian salah satu diantara followers yang awalnya melihat postingan temannya juga berkunjung ke objek wisata tersebut dan melakukan seperti yang dilakukan orang pertama tadi, maka hal tersebut terjadi secara berulang-ulang, maka promosi Pariwisata melalui media sosial untuk mengenalkan objek wisata pada Daerah tersebut sudah dilakukan tanpa mengeluarkan biaya yang besar. Secara tidak langsung orang-orang tersebut ikut mempromosikan objek pariwisata dengan cara partisipasi masyarakat. Hanya cara dengan promosi melalui media sosial berbasis berpartisipasi masyarakat tersebut belum banyak yang mengelola, mayoritas hal tersebut dibiarkan mengalir begitu saja.

Potensi media sosial sebagai sarana promosi pariwisata berbasis partisipasi masyarakat sangat besar, walaupun masih dibiarkan berjalan tanpa ada yang mengelola partisipasi masyarakat tersebut masih tetap menunjukkan bahwa dampaknya pada berkembangnya objek wisata sangat besar. Bagaimana jadinya jika objek-objek pariwisata yang lain yang ada di Indonesia bisa memanfaatkan potensi media sosial berbasis partisipasi masyarakat ini, bukan tidak mungkin nantinya pariwisata Indonesia berkembang seperti Bali pada saat ini. Beberapa tempat Pariwisata di Daerah saat ini ramai pengunjung Wisatawan karena Promosi yang dilakukan oleh pengunjung sebelumnya melalui postingan pada media sosial pribadi. Seperti tempat Wisata Negeri diatas awan yang berada di Kabupaten Tanah Toraja, tempat wisata tersebut dikenal banyak orang karena Promosi melalui media sisial.
Media sosial adalah sebuah media online dengan para penggunanya bisa dengan mudah berpartisipasi, berbagi dan menciptakan isi meliputi blog, jejaring sosial, wiki, forum, dan dunia virtual. Media sosial digunakan sebagai alat promosi karena memiliki respon secara langsung dengan penggunanya. Dinas Pariwisata membuat media informasi seperti Tourist Information center lalu di buat secara digital yang terhubung dengan media sosial dengan konten Tourist Information Service yang terhubung dengan media sosial dan website dan dapat diakses oleh wisatawan dan pelaku pariwisata di Daerah. Promosi Pariwisata dengan menggunakan media sosial sangat efektif pada sasaran yang dituju yaitu wisatawan dan calon wisatawan. Promosi dilakukan langsung oleh pelaku pariwisata seperti Hotel, jasa persewaan kendaraan, tour travel, travel agent, pengelola obyek wisata, penyelenggara event dan lain sebagainya. Pelaku pariwisata di Daerah dapat menyampaikan informasi tentang produk secara umum dan tersambung dengan website sehingga informasi bisa langsung terakses secara detail dan lengkap. Promosi dilakukan secara bersama-sama dan bersinergi dengan membentuk komunitas baik secara online maupun offline.

Pengaruh media sosial terhadap perkembangan Pariwisata di Daerah adalah berdampak positif, karena setiap unggahan yang dilakukan oleh pengunjung tempat wisata di salah satu Daerah memberikan nilai promosi bagi tempat wisata tersebut tanpa harus mngeluarkan biaya yang besar untuk berpromosi. Dengan ramainya pengunjung wisatawan, tentu dapat meningkatkan pendapatan tempat wisata tersebut dan menumbuhkan perekonomian kerakyatan, karena wisatawan yang datang, tentu melakukan transaksi membeli produk yang dijajahkan oleh para pelaku usaha yang berada disekitar tempat wisata tersebut.

Dr.Rosnaini Daga,.SE,.MM
Dir Pasca Sarjana STIM Nitro