A’Karena ri Benteng Pannyua Hadirkan Lima Peristiwa Penting

Editor : Muh. Idris

Online24jam, Makassar,- A’Karena ri Benteng Panyua merupakan sebuah karya yang mencoba melakukan konstruksi sosial budaya yang mengunakan simbol budaya lokal sebagai dasar pijakan dalam melakukan eksplorasi. Pertunjukan ini dibentuk dan dikonstruksi mengikuti konsep koreografi A’Karena ri Benteng Pannyua yang menyesuaikan diri dengan landscap tata ruang di Benteng Ford Rotterdam sebagai pondasi karya. Karya ini kesemuanya akan dibagi menjadi tiga bagian yaitu suasana pagi, sore, dan malam hari. Suasana pagi sampai siang hari yang ditonjolkan suasana edukasi, sore hingga menjelang magrib penonjolan suasana religi dan malam hari suasana benteng dan di kondisikan sepetti fungsinya di masa lalu hingga saat ini sebagai ruang publik masyarakat Sulawesi Selatan.

Penataan koreografi A‘karena n’ Benteng Pannyua dengan pemahaman bahwa ketubuhan adalah faktor utama dalam garapan tari tubuh menjadi sudut pandang dalam melihat segala permasalahan serta unsur-unsur yang ada di dalamnya. Gerak, bunyi. Cahaya, raga dan ruang-waktu berinteraksi secara dimensional berlapis. Empat unsur penama merupakan dasar yang saling kait mengait. dua unsur yang Iain yaitu ruang dan waktu adalah sebuah bingkai yang juga satu. Dalam pengertian ini, sesungguhnya empat yang satu dan dua yang satu, kesemuanya ada dalam kesatuan, sebagai landasan aktivitas. Dalam karya tari ini “konsep satu ” ini munoul dalam satu pemikiran yang realis, tentang keberadaan alam semesta yang oleh para ahli selalu di bedakan menjadi dua; tampak dan tidak tampak, teraba dan tidak teraba, jasmani dan rohani.

Koreografi pada tataran tekhnis merupakan perilaku kreatif mencari sejumlah diversitas kemungkinan interprestasi baru terhadap berbagai bentuk gerak tradisional sebagai dasar. A’Karena ri Benteng Pannyua diwujudkan menjadi karya tari dengan penekanan pada aspek ruang (tempat lokasi) & waktu (masa latar sejarah), dengan segala historisnya masuk dalam konsep sekaligus area pertunjukan. dapat diartikan bahwa koreografi ini sebagai aktualisasi kultural-simbolik. Penafsiran ruang & jalinan suasana lingkungan menumbuhkan gagasan visual, auditif dan koreografi (ketubuhan dan tematik) sebagai usaha menemukan kemungkinan dimensi secara factual, sebab akhir dari pengkonstruksian merupakan komplesitas permasalahan yang menopang semua kuat karya A’Karena ri Benteng Pannyua baik secara riil maupun secara artistik.

SINOPSIS PERTUNJUKAN TARI

Benteng Pannyua atau biasa juga disebut benteng Ujung Pandang pada awalnya merupakan benteng milik Kerajaan Gowa Tallo, dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X. Karaeng Tumapakri’si Kallonna. Diambilalih oleh Belanda sebagai pusat perdagangan dan militer melalui Perjanjian Bongayya 18 November 1667 dan diberi nama Fort Rotterdam. Sejarah Kota Makassar termasuk sejarah pertumbuhan kota. arsitektur dan kesenian beririsan dengan benteng ini. Pertunjukan tari ‘A’karane ri Benteng Pannyua’ yang berakar dari mitos atau tradisi Pakarena memperlihatkan bagaimana kesenian tari rnemiliki hubungan sejarah sosial, budaya dan politik dengan benteng Pannyua dan lingungan sekitarnya di masa lalu dan masa kini. Kesabaran, ketabahan dan keteguhan perempuan dalam pertunjukan ini sebagai sikap mendasar bagi manusia Makassar ketika menghadapi rintangan hidup dalam fllosofi siri’ na pacce (harga diri dan kehormatan).

STRUKTUR DRAMATIK PERTUNJUKAN TARI

Kejadian Pertama: AmuntuIi Apampa Empo Amuntuli Aparrapa Empo dalam tradisi Makassar untuk menyambut dan mengiringi tamu menuju ke tempat duduk sebelum acara dimulai. Penerima tamu dengan tubuh ritualnya merepresentasikan sikap sipakatau yang saling memanusiakan, sipakainge yang saling mengingatkan, sipakalebbi yang saling menghargai.

Kejadian Kedua: Tomanurung Menitiskan Assulapa Appa

Menggambarkan mitos Tomanurung, seperti cahaya turun dari Iangit (boting Iangi) ke bumi (Iino). Tomanurung meniriskan manusia assulapa appa, yang mendeskripsikan sosok yang sempuna sebagai manusia yang hidup dalam masyarakat sebagai panutan yang memberi petunjuk kepada manusia mengenai tata cara dari segala aspek kehidupan.

Kejadian Ketiga: Karenang Bare Salapang

Bate Salapang adalah majelis yang memillh dan melantik raja. Mereka menjaga keutuhan dan siap mati untuk kerajaan. Karenang Bate Salapang menggambarkan permainan yang berbeda dengan beladiri pada umumnya. Tldak ada serangan dan tangkisan, tetapi lebih memilih menunggu. Ketlka rnelakukan gerakan langsung melumpuhkan atau mematahkan.

Kejadian Keempat: Komunitas Kata yang Kosmopolitan

Menggambarkan kehidupan masyarakat Makassar yang multikultural. yang giat ikut dalam jaringan bisnis, berinteraksi dengan kcmunitas kota yang kosmopolitan. Sebuah pemahaman, penghargaan dan penilaian atas keberagaman budaya dari berbagai etnik yang berbeda untuk saling berinteraksi sebagai syarat yang niscaya untuk hidup bersama.

Kejadian Kelima: A’karena dalam Pusaran Waktu

Menggambarkan tentang kasabaran, ketabahan, keteguhan manusia Makassar dalam mengarungi pusaran waktu yang lalu, kini dan bahkan yang akan datang. Suara, gerak dan kata mewujudkan perbuatan manusia yang memiliki siri’ na pace (harga diri dan kehormatan) disertai dengan kesucian hati. Manusia Maassar sangat menyintai dan menghargai tanah Gowa. Harga diri dan kehomatannya dipertaruhkan untuk negerinya kerena merupakan sumber kehidupan mereka.

Kelima Peristiwa penting itu akan ditampilkan pada Rabu, 28 Agustus 2019 pukul 19.30 hingga selesai. Jangan lewatkan .