Opini : Labuan Bajo Naik Kelas, Kapan Toraja?

Editor : Andhika BD

Online24, Untuk mempopulerkan sesuatu tidak melulu dengan cara konvensional, tapi juga kadang bisa lewat kontroversi. Dan nampaknya cara ini cukup efektif. Orang-orang profesional dan akademisi biasa mengartikan sebagai “out of the box”, cara diluar yang biasa.

Mungkin inilah salah satu trik atau strategi yang dilakukan oleg Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Viktor Bungtilu Laiskodat untuk mempopulerkan Labuan Bajo, salah satu destinasi wisata kelas premium di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT).

Bahwa sebelumnya seperti dikutip dari Kompas.com edisi 15 November 2019, ia menyebutkan Labuan Bajo dirancang untuk menjadi destinasi wisata kelas premium. Artinya, wisatawan atau turis asing yang berkantong tebal saja yang disarankan mengunjungi Labuan Bajo. Sementara yang berkantong tipis tidak dianjurkan datang dan berkunjung ke NTT.

Terlepas dari beragam tanggapan orang, toh dengan pernyataan kontroversial itu, justru publik kian penasaran. Ada apa dengan Labuan Bajo? Kenapa wisatawan miskin dilarang kesana? Lalu pertanyaannya, apa yang salah? Bukankah memang sang Gubernur bertekad menjadi destinasi wisata kelas premium?

Tapi kalau disimak, ada benarnya juga ungkapan Gubernur itu. Karena sesungguhnya tidak ada “wisatawan miskin”. Jadi otomastis larangan itu tidak berlaku alias gugur. Pasalnya? Bagaimana mungkin wisatawan bisa traveling kesana kemari jika miskin. Orang berwisata itu karena ada “uang lebih”. Artinya relatif mampu secara ekonomi. Dan lagian, bukankah pariwisata itu kebutuhan tersier?

Jadi boleh dikata, ini hanyalah cara Gubernur  Victor mengangkat pamor obyek wisata di daerahnya. Dampaknya orang kian penasaran dengan Labuan Bajo. Mata tertuju ke sana.Perdebatan,pro kontra tersaji. Setidaknya menjadi “buah bibir” di wacana publik. Nama Labuan Bajo pun melambung.

Selain itu, tidak sedikit publik yang akhirnya tersadar dan bisa menangkap pesan dibalik kontroversi pernyataan sang Gubernur Laiskodat itu. Ia ingin pariwisata Labuan Bajo mengalami transformasi menjadi destinasi dunia yang berkelas premium. Dengan kata lain, Labuhan Bajo “naik kelas”. Bergesar dari sekedar tujuan turis “sandal jepit”.

Bergeser ke provinsi tetangga NTT, Sulawesi-Selatan. Kapan destinasi wisata unggulannya “Tana Toraja” atau Pantai Bira dengan Phinisinya bisa juga naik kelas? Entahlah. Yang bisa menjawab hanya Gubernur Nurdin Abdullah.

(Rusman Madjulekka).

[fbcomments]