Opini : Direktur dari Masjid

Editor : Muh. Idris
Rusman Madjulekka
Rusman Madjulekka

Online24jam, Makassar – “Setiap pulang ke Makassar, pak Sattar selalu shalat berjamaah di masjid,” ujar Andi Mappigau, ketua pengurus masjid “Nurul Ilmi” di Jl. Hertasning, Kompleks Pemda Blok E-16 Makassar yang dekat rumah Sattar Taba. Meskipun pak Sattar, begitu ia akrab disapa, telah ditugaskan sebagai Direktur Utama PT Kawasan Berikat Nusantara (KBN) di Jakarta, namun dirinya tetap “dekat” dengan masjid tersebut. Itulah sisi lain dari warna kehidupan seorang direktur atau CEO di tiga perusahaan BUMN: PT Semen Kupang, PT Semen Tonasa, dan PT Kawasan Berikat Nusantara.

Suatu ketika, para jamaah masjid “Nurul Ilmi” sepakat akan melakukan renovasi. Pak Mappi membeli beberapa bahan material yang dibutuhkan segera. Namun dalam perjalanan, panitia mengalami kekurangan bahan material seperti semen. Pekerjaan terancam mandek, panitia nyaris putus asa.

Di tengah situasi sulit seperti itu, Allah SWT menunjukkan pertolongan-Nya. Pasalnya, tiba-tiba seseorang datang ke lokasi masjid. Pria yang mengaku bernama Suardi mencari panitia masjid.

“Saya sendiri,” sambut Pak Mappi. “Saya sopir Pak Sattar, disuruh beliau menanyakan berapa zak semen yang dibutuhkan,” kata Suardi.

“Bilang saja ke beliau, panitia tidak tahu jumlah zaknya, pokoknya sampai selesai pekerjaan rehab,” jawab Pak Mappi. Dan Suardi pun berlalu melaporkan kepada majikannya.

Suatu waktu, Sattar Taba ketika itu Direktur Utama PT Semen Tonasa, yang kebetulan usai meninjau pekerjaan pembangunan rumahnya yang letaknya di depan mesjid, berkesempatan mengunjungi lokasi masjid. Saat bertemu panitia masjid, “Beliau memberi arahan agar mengambil semen pada toko bangunan di Jl. Rappocini dan bon tagihannya diberikan kepadanya,” kisah pak Mappi yang mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan.

Suatu ketika, tak disangka-sangka, panitia mendapat kiriman karpet sajadah yang tebal, kualitas terbaik, dan harganya pasti mahal, dikirim dari Jakarta via cargo Garuda. “Dikirim oleh siapa?” Tanya pak Mappi berbalut penasaran. “Saya juga tidak tahu pak. Tugas saya hanya mengantarkan kiriman karpet ini ke alamat masjid ini,” jawab petugas cargo itu.

Beberapa waktu berselang, usai shalat magrib berjamaah, pak Mappi yang masih diliputi rasa penasaran menghampiri salah seorang jamaah yang kebetulan Direktur Utama di PT Semen Tonasa. “Terima kasih Pak kiriman karpetnya. Bapak kan yang mengirimnya?” Ucap pak Mappi menebak. Pak Sattar tak menjawab, hanya tersenyum. Kemudian ia berlalu, “Assalamu alaikum…!”

Berselang kemudian, panitia ingin melanjutkan pembangunan bagian badan masjid. Singkat kisah, pak Mappi pun minta tolong kepada konsultan pembangunan rumah pak Sattar yang berlokasi di depan masjid. Ia menyampaikan proposal bantuan kedua kalinya ke pak Sattar.

Kira-kira sebulan kemudian ada cara syukuran di rumah baru pak Sattar. Seluruh jamaah masjid “Nurul Ilmi” pun diundang santap siang. Disela-sela acara itu, pak Sattar membisiki pak Mappi bahwa dirinya sudah menerima proposal masjid. Pokoknya kerja saja. Nanti saya yang tanggung biayanya,” ujar Sattar seperti ditirukan pak Mappi.

Sattar dengan masjid, ibarat dua sisi mata uang yang tak terpisahkan. “Kedekatan” itu karena Sang Direktur terlahir dari keluarga sederhana yang religius, bahkan ia adalah adik ipar dari ulama kharismatik AG. KH. M. Sanusi Baco, Lc., Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Provinsi Sulawesi Selatan dan tokoh Nahdlatul Ulama. (Rusman Madjulekka).

[fbcomments]