Online24, Makassar – Kolaborasi antara dunia pendidikan dan industri kembali menunjukkan arah baru dalam mencetak generasi profesional masa depan. Yayasan Pendidikan Islam Mega Rezky Makassar resmi menggandeng Phinisi Hospitality Indonesia melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) yang digelar di Claro Hotel Makassar, Jumat (20/2/2026).
Kerja sama ini bukan sekadar seremoni. Di balik penandatanganan tersebut, tersimpan visi besar untuk menghadirkan sumber daya manusia unggul yang siap menembus ketatnya persaingan di sektor hospitality dan industri kreatif.
Momentum tersebut menjadi jembatan nyata antara teori di ruang kelas dan dinamika kerja profesional di lapangan. Mahasiswa tak lagi hanya belajar dari buku, tetapi juga langsung bersentuhan dengan standar industri yang sesungguhnya.
CEO Phinisi Hospitality Indonesia, Anggiat Sinaga, menegaskan bahwa program magang harus dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran paling berharga bagi mahasiswa.
“Magang bukan sekadar memenuhi kewajiban akademik. Ini pintu masuk memahami budaya kerja, profesionalisme, dan tuntutan industri yang sebenarnya,” tegasnya.
Menurut Anggiat, kolaborasi ini memiliki cakupan luas. Tidak hanya pada layanan perhotelan, tetapi juga merambah bidang manajemen, kesehatan, kewirausahaan, hingga sektor lain yang relevan dengan kebutuhan industri modern.
Ia menilai sinergi tersebut akan memberi efek berantai yang positif. Ketika kualitas SDM meningkat, industri tumbuh lebih kuat, lapangan pekerjaan terbuka, dan ekonomi masyarakat ikut bergerak.
Menariknya, kerja sama ini juga membuka ruang bagi praktisi industri untuk masuk langsung ke dunia akademik. Anggiat bahkan menyatakan kesiapannya menjadi dosen tamu di bidang kewirausahaan, menghadirkan pengalaman nyata agar mahasiswa memahami tantangan bisnis secara langsung.

Dari sisi ekonomi daerah, kolaborasi ini diyakini mampu memperkuat ekosistem hospitality di Kota Makassar. Dengan meningkatnya kualitas tenaga kerja lokal, industri perhotelan tak lagi bergantung pada SDM dari luar daerah
Dampaknya, produktivitas meningkat, kualitas layanan semakin kompetitif, dan sektor pariwisata di Sulawesi Selatan berpeluang melesat lebih cepat.
Ketua Yayasan, Moch Noer Alim Qalby, menegaskan keberhasilan kerja sama tidak hanya diukur dari jumlah peserta magang, tetapi dari sejauh mana mahasiswa mampu menerapkan ilmu yang diperoleh dalam kehidupan nyata.
“Tolak ukur utamanya adalah implementasi. Ilmu harus memberi manfaat langsung, baik di dunia kerja maupun di tengah masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Rektor Universitas Mega Rezky, Prof Anwar Ramli, menyebut kampusnya saat ini memiliki sekitar 9.500 mahasiswa dan menjadi salah satu perguruan tinggi swasta terbesar di kawasan Sulawesi bagian selatan.
Keberagaman program studi—mulai dari kesehatan, gizi, manajemen, bisnis digital, kewirausahaan, K3 hingga sistem informasi—menjadi kekuatan utama dalam membangun kolaborasi lintas sektor industri.
Mahasiswa yang mengikuti praktik kerja lapangan umumnya berasal dari semester lima ke atas, setelah memiliki bekal teori yang cukup untuk diuji langsung di dunia profesional.
Dalam jangka panjang, kemitraan ini diharapkan menjadi model kolaborasi berkelanjutan antara kampus dan industri. Sebuah langkah strategis untuk melahirkan generasi yang tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru sekaligus menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi daerah.











