Online24,Teheran – Situasi keamanan kawasan Timur Tengah memanas drastis setelah laporan menyebut Amerika Serikat ikut bergabung bersama Israel dalam operasi militer menyerang target di Iran, Sabtu (28/2/2026).
Serangan tersebut dilaporkan memicu ledakan di sejumlah titik strategis, termasuk wilayah sekitar ibu kota Teheran. Meski detail sasaran belum diumumkan secara resmi, sumber keamanan regional menyebut fasilitas militer dan infrastruktur pertahanan menjadi target utama operasi.
Perkembangan ini langsung memicu respons darurat dari jaringan diplomatik Amerika di kawasan Teluk.
Kedubes AS Perintahkan Personel Berlindung
Kedutaan Besar Amerika Serikat di Qatar mengeluarkan instruksi mendesak kepada seluruh staf diplomatik untuk melakukan “shelter-in-place” atau berlindung di lokasi masing-masing.
Langkah tersebut biasanya hanya dilakukan ketika ancaman keamanan dianggap nyata dan berpotensi terjadi dalam waktu dekat.
Selain personel diplomatik, warga negara Amerika di kawasan juga diimbau meningkatkan kewaspadaan dan membatasi aktivitas di luar ruangan.
Analis keamanan menilai instruksi itu menjadi indikasi kuat bahwa Washington memperkirakan adanya kemungkinan serangan balasan dari Iran terhadap kepentingan Amerika di Timur Tengah.
Israel Tingkatkan Status Siaga Nasional
Di saat bersamaan, militer Israel meningkatkan kesiapan pertahanan nasional. Sirene peringatan diaktifkan di sejumlah wilayah dan masyarakat diminta tetap berada dekat bunker atau ruang perlindungan.
Status aktivitas nasional bahkan dilaporkan dialihkan menjadi aktivitas esensial, langkah yang biasanya diterapkan ketika ancaman serangan rudal meningkat.
Israel selama ini menilai Iran sebagai ancaman strategis utama, terutama terkait pengembangan kemampuan militer dan pengaruhnya di kawasan.











