Online24, Makassar — Usianya belum genap 25 tahun ketika Robert Wolter Monginsidi menghadapi regu tembak Belanda.
Namun sebelum maut menjemput, pemuda itu telah meninggalkan pesan yang kemudian menjadi salah satu simbol keteguhan pejuang Indonesia:
“Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”
Kalimat tersebut tercatat dalam profil Robert Wolter Monginsidi yang diterbitkan Ikatan Keluarga Pahlawan Nasional Indonesia (IKPNI).

Pemuda dari Manado yang Berjuang di Makassar
Robert Wolter Monginsidi lahir pada 14 Februari 1925 di Malalayang, Manado.
Setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan, ia ikut dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan di Sulawesi Selatan ketika Belanda berusaha kembali menguasai wilayah Indonesia.
Monginsidi dikenal sebagai pemuda yang cerdas dan memiliki kemampuan bahasa asing. Ia pernah menjadi guru bahasa Jepang sebelum melanjutkan pendidikan di Ujung Pandang.
Namun perjalanan hidupnya kemudian berubah menjadi perjuangan bersenjata.

Ditangkap Belanda
Monginsidi menjadi salah satu tokoh penting dalam gerakan perlawanan di Sulawesi Selatan.
Ia ditangkap Belanda dan menjalani pemeriksaan serta penahanan.
Meski menghadapi tekanan, ia tetap mempertahankan keyakinannya.
Dalam salah satu catatan IKPNI, Monginsidi mengatakan:
“Aku telah relakan diriku untuk menjadi korban dengan keinsyafan untuk memenuhi kewajiban dengan masyarakat ini dan yang akan datang.”
Dijatuhi Hukuman Mati
Pada 26 Maret 1949, Monginsidi diajukan ke pengadilan kolonial Belanda.
Ia kemudian dijatuhi hukuman mati.
Kesempatan untuk meminta grasi tidak ia gunakan.
Menurut catatan IKPNI, ketika hukuman mati itu akhirnya akan dilaksanakan, Monginsidi tetap tenang dan menerima konsekuensi dari perjuangannya.
“Merdeka atau Mati”
Pada dini hari 5 September 1949, Robert Wolter Monginsidi dieksekusi oleh regu tembak Belanda di kawasan Pacinang, Makassar

IKPNI mencatat bahwa ia tidak ditutup matanya. Ia memegang Injil di tangan kirinya dan mengepalkan tangan kanan.
Lima menit sebelum dieksekusi, ia menulis pesan:
“Setia hingga terakhir dalam keyakinan.”
Pesan tersebut kemudian menjadi bagian penting dari warisan perjuangannya.
Monginsidi wafat pada usia 24 tahun.
Negara kemudian memberikan penghormatan kepadanya sebagai Pahlawan Nasional melalui Keppres Nomor 088/TK/TH. 1973 tanggal 6 November 1973.
Robert Wolter Monginsidi membuktikan bahwa usia muda bukan alasan untuk menghindari tanggung jawab terhadap bangsa.
Ia pergi sebagai seorang pemuda.
Ia dikenang sebagai pahlawan.
Sumber utama: IKPNI – Robert Wolter Monginsidi.










