Online24jam,Makassar, — Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan resmi menutup rangkaian Pekan QRIS Nasional (PQN) 2026 yang dirangkaikan dengan pengumuman pemenang lomba Sombere Digital Market Race, di Gedung Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Selasa (18/8/2026).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ekosistem pembayaran digital, khususnya di lingkungan pasar tradisional. Tidak hanya mendorong peningkatan jumlah transaksi non-tunai, program tersebut juga diharapkan mampu membangun kebiasaan baru bagi pedagang dan masyarakat dalam memanfaatkan teknologi pembayaran yang aman dan praktis.
Dalam pengumuman lomba, para pedagang yang mencatatkan penggunaan QRIS terbanyak berhasil keluar sebagai pemenang.
Adapun daftar pemenang Sombere Digital Market Race yakni:
Juara I: Stand Subhan
Juara II: Ganbaro Jaya
Juara III: Toko Kamil Kosmetik
Juara IV: Toko Campuran Ana
Juara V: Pedagang Buah Fatir
Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Bayu Martanto, mengatakan penggunaan QRIS tidak hanya memberikan kemudahan dalam bertransaksi, tetapi juga dapat memberikan manfaat lebih luas bagi pelaku usaha.
Menurutnya, rekam jejak transaksi digital yang konsisten dapat menjadi salah satu gambaran perkembangan usaha pedagang. Dalam jangka waktu tertentu, catatan transaksi tersebut berpotensi membantu memperkuat profil usaha ketika pelaku UMKM membutuhkan akses pembiayaan.
“Misalnya, selama satu tahun hingga tiga tahun terdapat rekapan transaksi yang cukup panjang. Itu tentu bisa menjadi salah satu gambaran perkembangan usaha. Perbankan bisa melihat aktivitas usaha tersebut, dan tentu ada manfaat yang bisa dipetik,” ujar Bayu.
Selain itu, Bayu juga menyampaikan adanya kebijakan baru yang memberikan kemudahan dalam penggunaan QRIS. Mulai 1 Oktober 2026, terdapat perluasan kebijakan Merchant Discount Rate (MDR) atau biaya transaksi QRIS sebesar 0 persen untuk transaksi tertentu hingga Rp100.000.
Kebijakan tersebut tidak hanya menyasar pelaku Usaha Mikro (UMi), tetapi juga mencakup sektor usaha menengah dan besar serta transaksi pada sektor tertentu seperti pengisian bahan bakar dan pendidikan, sesuai ketentuan yang berlaku.“Ini menjadi kemudahan lagi bagi pengguna QRIS, sekaligus hadiah dalam momentum Hari Kemerdekaan Republik Indonesia,” katanya.
Bayu menegaskan, digitalisasi pembayaran tidak boleh berhenti hanya karena kompetisi telah selesai. Penggunaan QRIS, kata dia, harus menjadi kebiasaan baru dalam aktivitas perdagangan sehari-hari.
Ia juga mengingatkan bahwa pembayaran tunai tetap merupakan alat pembayaran yang sah. Karena itu, masyarakat dan pedagang diharapkan dapat menyediakan pilihan pembayaran sesuai kebutuhan konsumen.
“Jangan berhenti pada lomba saja. Jadikan penggunaan QRIS sebagai kebiasaan. Kalau ada pembeli, pilihannya bisa, ‘Mau tunai atau mau QRIS?’ Dua-duanya tetap bisa digunakan,” tegasnya.
Menurut Bayu, keberhasilan perluasan akseptasi digital merupakan hasil kolaborasi berbagai pihak, mulai dari pengelola pasar, pemerintah daerah, perbankan, hingga para pedagang yang menjadi ujung tombak transaksi di lapangan.
Ia pun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan Pekan QRIS Nasional 2026, khususnya para pedagang pasar yang antusias mengikuti program dan lomba digitalisasi tersebut.
Pekan QRIS Nasional 2026 yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Selatan berlangsung pada 11–17 Agustus 2026. Rangkaian kegiatan diawali dengan kick-off di Masjid Al-Markaz Al-Islami Makassar dan diisi dengan berbagai kegiatan edukasi serta sosialisasi penggunaan QRIS kepada masyarakat. Program ini bertujuan meningkatkan literasi masyarakat terhadap sistem pembayaran digital sekaligus mendorong terciptanya transaksi yang lebih mudah, cepat, aman, dan tercatat.
Dalam kegiatan penutupan tersebut turut hadir jajaran Direksi Perumda Pasar Makassar, sejumlah pedagang, para kepala unit pasar, serta staf Bidang Kerja Sama dan Pendapatan Perumda Pasar Makassar. Melalui kolaborasi Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, pengelola pasar dan para pedagang, transformasi digital di pasar tradisional diharapkan tidak hanya menjadi agenda seremonial, tetapi berkembang menjadi budaya baru dalam aktivitas ekonomi masyarakat.
Digitalisasi pasar pun tidak lagi sekadar soal mengikuti perkembangan teknologi, melainkan membuka peluang bagi pedagang untuk membangun usaha yang lebih tertata, adaptif, dan siap menghadapi perubahan zaman.

















