Online24jam,Makassar, – Pencegahan stunting tidak cukup hanya dengan memperhatikan asupan gizi. Faktor air bersih, sanitasi dan kebersihan diri juga memiliki peran penting.
Hal itu disampaikan dosen Jurusan Kesehatan Lingkungan Poltekkes Kemenkes Makassar saat menggelar Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) melalui Skema Program Kemitraan Masyarakat (PKM) di Kelurahan Banta-bantaeng, Kecamatan Rappocini, Kota Makassar.
Mengusung tema “Pencegahan Stunting dengan Pendekatan WASH (Water, Sanitation, and Hygiene)”, kegiatan ini menghadirkan Ni Luh Astri Indraswari, S.KM., M.Kes. dan Nur Haidah, SKM., M.Kes.
Kegiatan dibuka Kepala Kelurahan Banta-bantaeng, Anselmus Watratan, S.M., yang mengapresiasi edukasi tersebut. Menurutnya, masyarakat perlu mendapatkan pemahaman bahwa sanitasi lingkungan memiliki kaitan dengan kesehatan dan tumbuh kembang anak.
Ketua Tim Pengabdi, Ni Luh Astri Indraswari, menjelaskan bahwa stunting bukan hanya persoalan kekurangan gizi. Sanitasi yang buruk dapat meningkatkan risiko penyakit infeksi seperti diare dan kecacingan. Kondisi tersebut dapat mengganggu penyerapan zat gizi sehingga berdampak pada tumbuh kembang anak.
“Meski gizi anak tercukupi, jika anak masih sering terserang penyakit infeksi, zat gizi yang masuk ke tubuh tidak optimal diserap karena digunakan untuk melawan penyakit,” jelasnya.
Melalui pendekatan WASH, masyarakat diedukasi mengenai pentingnya menggunakan air bersih dan aman, memiliki jamban yang layak, serta menerapkan perilaku hidup bersih seperti mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir serta menjaga kebersihan kuku.
Supervisor kegiatan, Dr. Sukriyadi, S.Kep., Ns., M.Kes., menegaskan bahwa pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, termasuk masyarakat.
“Penanganan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan. Jika kebersihan lingkungan masih diabaikan, upaya pencegahan stunting tidak akan maksimal,” ujarnya.
Antusiasme warga terlihat dalam sesi diskusi. Sejumlah peserta menyampaikan kondisi sanitasi di lingkungan rumah mereka dan berkonsultasi mengenai risiko kecacingan serta kebiasaan hidup bersih.
Menariknya, sebelum dan setelah edukasi, peserta mengikuti pre-test dan post-test. Hasilnya menunjukkan sebagian besar peserta mengalami peningkatan nilai setelah mendapatkan materi dan berdiskusi bersama tim pengabdi.
Kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada penambahan pengetahuan, tetapi juga mendorong masyarakat menerapkan prinsip WASH dalam kehidupan sehari-hari sebagai bagian dari upaya mencegah stunting sejak dini.











