Online24,Maros- Kasus dugaan penolakan pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSUD dr La Palaloi, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, terus menuai sorotan.
Setelah pihak rumah sakit membantah melakukan penolakan, keluarga pasien kini memberikan kesaksian berbeda terkait kronologi kejadian tersebut.
Anak pasien, Syahrani, membantah pernyataan Direktur Utama RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, yang menyebut pasien telah menjalani pemeriksaan dokter jaga sebelum diarahkan ke puskesmas terdekat.
Syahrani mengaku membawa ayahnya ke RSUD dr La Palaloi setelah sebelumnya mendatangi rumah sakit lain. Saat itu, ayahnya dalam kondisi lemah, mengalami muntah berulang, sulit makan, penurunan berat badan drastis, serta tubuh dan mata menguning.
“Saya jelaskan bapak sudah muntah terus, makanan susah masuk, sudah lemah sekali, berat badannya turun drastis. Kondisinya bisa dilihat sendiri, matanya sudah kuning parah, badannya juga sudah kuning parah,” ungkap Syahrani saat menceritakan kronologi kejadian.
Menurut Syahrani, setelah tiba di IGD, dirinya bersama keluarga dipersilakan duduk dan bertemu dokter serta tenaga kesehatan. Namun, setelah menjelaskan kondisi ayahnya, mereka justru mendapat informasi bahwa tempat tidur IGD sedang penuh.
Dia mengaku meminta agar ayahnya tetap mendapatkan pertolongan awal atau pemeriksaan sebelum dirujuk ke rumah sakit lain. Namun, keluarga justru diarahkan membawa pasien ke puskesmas untuk mendapatkan infus dan diminta kembali jika sudah ada tempat tidur kosong.
Syahrani juga membantah klaim pihak rumah sakit yang menyebut ayahnya telah diperiksa dokter jaga. Dia menegaskan tidak ada pemeriksaan fisik, termasuk pengecekan tekanan darah maupun suhu tubuh pasien.
“Saya bilang kalau memang pernyataan dirut seperti itu, silakan buka CCTV. Lihat kapan bapak saya diperiksa. Coba tunjukkan hasil pemeriksaannya, berapa suhu badannya dan berapa tensinya kalau memang diperiksa,” tegasnya.
Syahrani menilai keberadaan petugas keamanan yang ikut menjawab pertanyaan keluarga saat berkomunikasi dengan dokter turut memperkeruh situasi. Dia mengaku kecewa dengan cara petugas tersebut menyampaikan informasi bahwa IGD sedang penuh.
Menurutnya, persoalan utama bukan semata-mata ketersediaan tempat tidur, melainkan bagaimana rumah sakit memberikan penanganan dan menyampaikan kondisi tersebut kepada keluarga pasien.
Setelah meninggalkan RSUD dr La Palaloi, Syahrani mengaku kembali membawa ayahnya ke rumah sakit sebelumnya. Di sana, pasien kemudian menjalani pemeriksaan lanjutan berupa USG dan pemeriksaan darah.
Hasil pemeriksaan tersebut, menurut Syahrani, menunjukkan adanya tumor berukuran sekitar 5,5 sentimeter pada saluran empedu ayahnya. Pemeriksaan juga menunjukkan kadar bilirubin yang tinggi.
“Di sana langsung USG, pemeriksaan darah, ternyata bapak saya ada tumor di saluran empedunya. Ukurannya sekitar 5,5 sentimeter. Itu yang saya sayangkan, seharusnya bapak saya diterima dulu, diperiksa dulu, kalau memang tidak ada tempat tidur setidaknya diberikan pertolongan pertama,” ujarnya.
Sebelumnya, Direktur Utama RSUD dr La Palaloi, dr Sri Syamsinar, membantah pihaknya melakukan penolakan pasien. Dia menyebut kapasitas tempat tidur IGD saat itu sedang penuh.
Menurut Sri, satu tempat tidur yang terlihat kosong disiapkan untuk tindakan kegawatdaruratan, sedangkan empat tempat tidur lainnya diperuntukkan bagi pasien anak.
Sri juga mengklaim pasien telah diperiksa dokter jaga dan berdasarkan pemeriksaan awal dinilai tidak masuk kategori gawat darurat sehingga diarahkan ke puskesmas terdekat sesuai alamat tempat tinggalnya.
“Bukan penolakan. Memang situasi pada saat itu IGD sementara full,” kata Sri.
Pihak rumah sakit juga menyebut kapasitas IGD mencapai 38 tempat tidur. Dalam dua bulan terakhir, tempat tidur tersebut diklaim selalu terisi akibat tingginya jumlah kunjungan pasien. Bahkan, sejumlah pasien rujukan disebut terkadang harus menunggu satu hingga dua jam untuk mendapatkan tempat tidur.
Di sisi lain, Bupati Maros AS Chaidir Syam telah meminta manajemen rumah sakit mengambil tindakan tegas terhadap petugas keamanan yang terlibat dalam insiden viral tersebut.
Chaidir menyebut petugas keamanan itu telah dikeluarkan dari RSUD dr La Palaloi sebagai bentuk tanggung jawab atas perbuatannya.
“Untuk security tersebut kita sudah tegas untuk mengeluarkan dari RS dr La Palaloi dan sudah saya sampaikan ke pihak RS. RS sudah melakukan tindakan tersebut untuk mengeluarkan security tersebut sebagai sebuah tanggung jawab atas perbuatannya,” jelas Chaidir.













