Online24jam, Kabupaten Fakfak, – Upaya memperkuat keberlanjutan usaha olahan pala berbasis rumah tangga di Kabupaten Fakfak terus digelorakan. Tim 5 TEP Kementerian Transmigrasi Universitas Hasanuddin (Unhas) berkolaborasi dengan Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja Kabupaten Fakfak sukses menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertema penguatan rantai nilai dan pemasaran produk olahan pala.
Kegiatan strategis ini berlangsung pada Selasa, 3 November 2026, bertempat di Aula Gedung Olahraga Kabupaten Fakfak. Acara tersebut dirancang untuk membangun sinergi serta merumuskan langkah konkret dalam mendukung keberlanjutan usaha kelompok rumah tangga di Kampung Weri dan Kampung Saharey yang selama ini konsisten mengembangkan potensi lokal berbasis pala.
FGD ini dihadiri oleh berbagai pemangku kepentingan lintas sektor, mulai dari Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kabupaten Fakfak, akademisi, jurnalis, lembaga swadaya masyarakat (NGO), pengusaha kuliner, hingga Ketua Tim Penggerak PKK Kampung Weri dan Saharey.
Sejumlah OPD penting turut berpartisipasi, di antaranya Dinas Transmigrasi dan Tenaga Kerja, Dinas Perkebunan, Dinas Pariwisata, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Dinas Pendidikan, serta para pelaku UMKM lokal. Kehadiran para pemangku kepentingan ini mencerminkan pentingnya pendekatan kolaboratif yang komprehensif mulai dari hulu hingga hilir yang mencakup pengembangan bahan baku, peningkatan kapasitas produksi, penguatan kelembagaan kelompok, hingga perluasan promosi dan pemasaran.
Dr. Irma Andriani, S.Pi.,M.Si selaku Ketua Tim 5 TEP Kementrans Unhas, program pendampingan ini telah berhasil membina kelompok ibu rumah tangga di Kampung Weri dan Kampung Saharey dalam menghasilkan beragam produk bernilai tambah tinggi. Berbagai inovasi produk olahan pala yang dikembangkan meliputi:
1. Produk perawatan dan kesehatan yaitu sabun, balsem, dan aromaterapi berbahan dasar pala.
2. Produk kuliner dan olahan Pangan yaitu manisan pala, candy, dan sirup pala segar.
Tidak hanya sebatas produksi, produk-produk kelompok rumah tangga ini juga telah dilengkapi dengan fasilitasi perizinan Pangan Industri Rumah Tangga (PIRT), serta serangkaian pelatihan kewirausahaan, teknik pengemasan (packaging), dan strategi pemasaran guna mendongkrak daya saing di pasaran. Kendati demikian, penguatan rantai nilai dan perluasan akses pasar tetap menjadi kunci agar kegiatan produksi skala rumah tangga ini dapat berkembang menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Irma Andriani berharap, melalui FGD ini, pemerintah, akademisi, pelaku usaha, media, dan kelompok perempuan duduk bersama untuk mengidentifikasi tantangan, menangkap peluang, serta merumuskan dukungan nyata secara berkelanjutan.
Pertemuan ini diharapkan mampu melahirkan komitmen serta langkah kolaboratif lintas sektor yang berkesinambungan. Fokus utamanya adalah memperkuat pemasaran, memperluas jaringan distribusi, serta mendampingi pengembangan usaha olahan pala kelompok ibu rumah tangga.
Sinergi ini diharapkan tidak berhenti sebatas forum diskusi formal, melainkan berlanjut dalam bentuk kemitraan strategis yang nyata. Dengan demikian, inisiatif mandiri dari kelompok perempuan di Kampung Weri dan Saharey dapat terus bertumbuh dan mandiri meskipun program TEP Kementrans nantinya telah berakhir.
“Ke depan, pengembangan produk olahan pala ini diproyeksikan menjadi model pemberdayaan ekonomi rumah tangga berbasis potensi lokal yang sukses, sekaligus Pala Tomandin memberikan nilai tambah maksimal bagi komoditas unggulan khas Kabupaten Fakfak,”ujar Irma Andriani.











